Guntur Priambodo Raih Lifetime Achievement Award di Bromo KOM 2026, Ikut Event Sejak Era Audax

BROMO KOM 2026 terasa semakin spesial untuk Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, M.M. Ia tidak saja sukses menjadi runner-up di kategori umur 60 tahun ke atas. Pria yang baru saja purna tugas dari jabatan Sekda Kabupaten Banyuwangi itu juga meraih penghargaan Lifetime Achievement Award.

Penghargaan istimewa itu diberikan oleh founder Mainsepeda Azrul Ananda di panggung utama finis Bromo KOM 2026 di depan Pendopo Agung Wonokitri, Sabtu, 6 Juni 2026. Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi Guntur dalam mendukung dan mengembangkan olahraga balap sepeda di Indonesia.

Guntur menjadi saksi sejarah terselenggaranya berbagai event balap sepeda Tanah Air, termasuk Bromo KOM. Selama ajang itu digelar dalam 12 tahun terakhir, ia tidak pernah absen untuk "naik haji" bersama para cyclist lokal maupun mancanegara.

Ia juga mengikuti event lain seperti Kediri Dholo KOM, juga Blue Fire Ijen KOM, yang digelar di wilayahnya, Banyuwangi. "Pokoknya, setiap event Mainsepeda, saya usahakan ikut. Apalagi kalau cuma one day event seperti ini," ungkap Guntur.


Guntur Priambodo (tengah) menerima plakat Lifetime Achievement Awards dari founder Mainsepeda Azrul Ananda di podium Bromo KOM 2026, Pendopo Agung Wonokitri, 6 Juni 2026.

Dari banyaknya event yang pernah ia ikuti, Bromo KOM tetap menjadi ajang favoritnya hingga saat ini. "Soalnya, ini kan seperti tagline-nya, memang naik hajinya pesepeda ada di Bromo KOM ini. Pesertanya kan pasti luar biasa, baik dari segi jumlah maupun levelnya," ungkapnya.

Guntur menyebut momentum terbaiknya terjadi pada edisi 2023. Yakni ketika ia merebut gelar King of Mountain dengan catatan waktu 1 jam, 53 menit, 54 detik. "Catatan di Ijen KOM juga oke. Tapi Bromo KOM tetap paling berkesan," jelas pria kelahiran 1 Mei 1966 tersebut.

Tahun ini, Guntur memang sangat layak mendapatkan gelar Lifetime Achievement Award. Bayangkan saja, ia sudah mengikuti ajang sepeda jarak jauh ketika namanya masih Audax East Java. Yakni pada 2012. Itu berarti, 14 tahun yang silam.

"Surabaya finis Banyuwangi, Surabaya finis Sarangan (Magetan, Red), saya ikut terus," kenangnya. Yang tidak ia ikuti adalah Lombok Audax pada 2013. Karena bepergian ke Lombok butuh waktu lebih dari sehari. Sebagai ASN, ia tidak bisa libur atau cuti terlalu lama.


Kenangan ketika Guntur Priambodo (tengah) meraih gelar King of the Mountain Kategori 55-59 pada Bromo KOM 2023 sangat berkesan.

"Mungkin setelah pensiun ini bisa ikut event yang jauh-jauh ya," ucap pria yang baru purnatugas pada 1 Juni 2026 tersebut.

Guntur mengaku terkejut saat mendapatkan Lifetime Achievement Award 2026 di panggung utama Bromo KOM 2026. Ia tidak menduga bakal mendapatkan apresiasi seperti itu. Maka ia sangat berterima kasih kepada Azrul Ananda sebagai CEO Mainsepeda sekaligus temannya belajar sepeda sejak lama.

Azrul dan Guntur memang memiliki ikatan persahabatan yang kuat. Guntur sampai menganggap Azrul sebagai adiknya sendiri. Mereka belajar balap sepeda pada waktu yang bersamaan. Komunitas sepeda Azrul, Azrul Ananda School of Suffering (AA SoS) dan komunitas Guntur, Banyuwangi Road Cycling Club (BRCC) juga aktif berkolaborasi.

"Kalau ada event di Banyuwangi, pasti kami kerja sama. Anak-anak road captain diinapkan di homestay kami. Para pesertanya juga ngelarisin hotel-hotel di Banyuwangi. Seru lah," cerita Guntur.

Kini, setelah purnatugas, ia ingin fokus untuk mengembangkan talenta-talenta muda BRCC. Menurutnya, para cyclist di sana, terutama yang muda-muda, butuh motivasi dan dorongan agar tetap semangat.


Guntur Priambodo saat mengikuti Jawa Timur Trilogy pada 2022. Ia sudah mengikuti event buatan Mainsepeda sejak 2012, saat namanya masih Audax.

Di Bromo KOM 2026, BRCC tidak mengirim personelnya untuk kategori Men Elite. Tapi, targetnya tercapai. Yakni, dua orang bisa mencapai podium. Guntur berharap komunitasnya bisa kembali eksis dan bersinar lagi tahun depan.

Selain menjadi mentor untuk anggota-anggota BRCC lainnya, Guntur juga memiliki tekad untuk mempertahankan performanya. Ia selalu menjalani latihan yang terstruktur. Setiap hari, ia melahap menu latihan khusus dibantu aplikasi sepeda.

Kalau akhir pekan, barulah ia long ride bersama komunitas. "Kalau long ride, pasti intensitasnya tinggi. Ya sama anak-anak (BRCC) itu. Ke Ijen salah satunya,” ungkap Guntur. "Saya itu pokoknya konsisten. Latihan dikit-dikit kalau tiap hari pasti hasilnya bagus. Saya pernah lebih cepat dari Mas Azrul, lho," katanya, lantas tertawa.

Penghargaan Lifetime Achievement Award yang diterima Guntur Priambodo melambangkan komitmen, pengabdian, dan pengorbanan. Kontribusinya yang signifikan untuk balap sepeda di Indonesia telah diakui dan diabadikan.(Mainsepeda)


COMMENTS