PERAIH podium tertinggi Bromo KOM kategori kelompok umur punya cerita yang berulang. Ya, selama 12 tahun penyelenggaraan, ada sejumlah cyclist yang terus mencatat rekor impresif. Di ajang Bromo KOM 2026, setidaknya ada tiga nama yang konsisten langganan juara di masing-masing kelompok umur.
Salah seorang di antaranya adalah Juwanto. Cyclist asal Semarang tersebut kembali menegaskan dominasinya di Bromo KOM 2026. Turun di kategori Men 45-49, ia berhasil meraih gelar King of the Mountain. Sudah sepuluh kali Juwanto ikut event balap sepeda yang menjadi signature Mainsepeda tersebut. Nah, dari jumlah itu, delapan kali ia menjadi juaranya.
"Juwanto ini gelarnya sudah bukan King lagi. Tapi King, King, King...” seloroh Azrul Ananda, founder Mainsepeda, ketika nama Juwanto dipanggil MC di Pendopo Agung Wonokitri, Sabtu, 6 Juni 2026. King-nya banyak, saking seringnya juara di berbagai kategori umur yang berbeda.
Pujian Azul tentang kehebatan Juwanto memang fakta yang sulit dibantah. Bagaimana tidak, pria 49 tahun itu selalu jadi penghalang impian para peserta lain di kategori usianya. Termasuk Azrul sendiri, yang berkali-kali harus mengakui dominasi Juwanto di tanjakan Bromo.
"Saya ikut Bromo KOM kan sudah sepuluh kali berturut-turut. Dan usia saya dengan Mas Azrul sama, 49 tahun. Jadi kalau Mas Azrul ketemu saya, sudah pasti enggak bisa juara," kata Juwanto bangga, lantas tertawa.

Juwanto disebut King King King lantaran sudah pernah menjuarai Bromo KOM sebanyak delapan kali. Terbaru, ia juara kategori 45-49 di Bromo KOM 2026.
Pesepeda kelahiran Blora itu kali pertama ikut Bromo KOM pada 2016. Hebatnya, di ajang debutnya itu, Juwanto langsung juara di kategori 30-39. Sayang, tahun berikutnya, ia gagal juara. Karena kalah dari para cyclist elite. Pada edisi tersevut, kategori balapan dibuat open. Sehingga pembalap pro dan penghobi berada di kelas yang sama.
Sedangkan kekalahan kedua terjadi pada 2023 lalu. Artinya, Juwanto hanya gagal meraih podum dua kali dari sepuluh kali keikutsertaanya.
Dalam sepuluh penyelenggaraan, cyclist dari tim Hollycrank Semarang itu berhasil meraih podium di tiga kategori usia berbeda. Setelah menguasai kategori Men 30-39, dominasinya berlanjut di Men 40-44. Dan kini, di Men 45-49. ”Tahun depan saya ikut Bromo KOM kategori Men 50-54. Targetnya, ya jadi juara lagi,” katanya.
Kehebatan Juwanto di atas pedal tidak datang begitu saja. Itu buah dari kerja kerasnya yang konsisten. Ia mulai menekuni olahraga sepeda pada 2013. Awalnya menggunakan sepeda lipat (seli). Dua tahun kemudian, pada 2015, ia beralih ke road bike. Dan sejak saat itu Juwanto semakin akrab dengan tanjakan.
Selama bertahun-tahun, pola latihan yang dipakai selalu sama. Yakni latihan menanjak dari satu gunung ke gunung lainnya. Targetnya pun tidak main-main. Ia menargetkan akumulasi elevasi menanjak hingga 5.000 meter setiap pekannya. Itulah resep Juwanto konsisten meraih podium Bromo KOM sebanyak delapan kali.
”Latihan harus konsisten. Apalagi jalur Bromo punya karakter tanjakan misterius. Orang kuat sekalipun kalau tidak punya endurance akan kesulitan. Jadi latihannya harus fokus pada ketahanan tubuh,” ujar pria yang berprofesi sebagai mekanik sepeda tersebut.
Tahun ini, Juwanto bersaing ketat dengan Yohanes Tekno Wijoyo dan Kurniawan Timbul di kategori Men 45-49. Saat balapan, kedua rider tersebut sempat memberi tekanan kepada Juwanto. Namun di 10 kilometer menuju garis finis, Juwanto lagi-lagi mampu menunjukkan ketangguhannya.
”Saya fokus menjaga ritme, tidak terburu-buru, hingga akhirnya meninggalkan mereka dan melaju sendirian menuju garis finis,” kata Juwanto, yang finis dengan catatan waktu 1 jam 34 menit 22 detik itu.

Sadiman memasuki finis Bromo KOM 2026 di kawasan Pendopo Agung Wonokitri, Sabtu, 6 Juni 2026. Ia sudah empat kali menjuarai event tersebut.
Rekor impresif juga berhasil dicatatkan Sadiman yang turun di kategori Men 55-59. Tahun ini, ia kembali meraih podium tertinggi Bromo KOM. Sadiman finis di posisi pertama dengan catatan waktu 1 jam 48 menit 25 detik. Kemenangan tersebut mengantarkannya menjadi juara Bromo KOM di kategori kelompok umur sebanyak empat kali.
Saat debut pada 2023, Sadiman langsung meraih juara di kategori Men 50-54. Pesepeda asal Bogor itu berhasil menaklukkan dominasi Asril Kurniadi (Abah Asril) dan Rudy S. Rustanto (Rudy Cepu), dua nama yang sebelumnya langganan podium di kategori tersebut. Ia lantas mencatatkan hat-trick juara pada 2024 dan 2025. Dan terbaru, 2026 ini. Jadi, quat-trick.
Menurut Sadiman, kemenangan bukan sekadar soal kecepatan. Baginya, bertahan hingga garis finis adalah tantangan sesungguhnya. Ujian utamanya tentu saja harus melewati tanjakan sepanjang 24 kilometer menuju Wonokitri.
Sadiman menyebut, banyak peserta mulai tumbang di 10-15 kilometer pertama, tapi Sadiman mampu menjaga ritme dan kekuatan otot hingga garis finis. "Bertahan memang lebih sulit daripada meraih," ungkapnya.
Strategi yang ia terapkan dalam balapan berjalan efektif. Buktinya, sejak start KOM, ia langsung menekan pedal untuk menjauh dari peloton. Begitu jarak aman, ia mengatur pace agar lebih stabil. Latihan konsisten adalah kunci keberhasilannya.
Dalam sepekan, ia bisa berlatih hingga lima kali. Tujuannya adalah menjaga ketahanan otot sebagai modal utama menghadapi tanjakan Bromo. Sadiman sudah 27 tahun menekuni dunia sepeda. Tak heran bila dia bisa konsisten meraih podium.
Makna kemenangan kali ini terasa istimewa karena mampu mempertahankan gelar juara di kategori usia berbeda, yakni 50-54 dan 55-59. ”Gelar ini saya persembahkan untuk diri sendiri, sekaligus keluarga yang selalu mendukung,” ujarnya.

Chen Meng Jin, cyclist asal Bandung, memasuki finis kategori Women 35-39 Bromo KOM 2026. Ini adalah kali ketiga beruntun dia menjuarai event tersebut.
Di kategeri women, capaian serupa ditorehkan Chen Meng Jin. Turun di kategori Women 35-39, pesepeda asal Bandung itu sukses mempertahankan gelar Queen of the Mountain untuk kali ketiga secara beruntun. Chen finis dengan catatan waktu 1 jam 48 menit 27 detik.
Sejak debut pada 2023, Chen tampil konsisten. Pada tahun pertamanya, Chen memang tidak meraih podium karena baru setengah tahun menekuni sepeda. Namun di tahun kedua, hasil latihan serius mulai terlihat. Sejak itu, podium tertinggi Bromo KOM kategori Women 35-39 selalu menjadi miliknya.
Di balapan menanjak itu, Chen memilih untuk menjaga pace sendiri, tidak terburu-buru mengejar lawan sejak awal. Dengan cara itu, dia mampu mengatur tenaga dan ritme hingga garis finis. "Karena sudah empat kali ikut, saya tahu jalurnya dan tahu bagaimana mengatur pace," ujarnya.
Tahun ini, kata Chen, jalur Bromo terasa lebih panas dan menantang. Namun Chen tetap mampu mengendalikan diri. Beruntungnya, lawan-lawan Chen banyak yang tumbang dan tertinggal jauh di belakang. Itu membuatnya bisa melaju dengan mulus menuju podium.
Menurut dia, strategi yang digunakan tidak banyak berubah dari tahun sebelumnya. Kuncinya adalah konsisten mengayuh pedal, sabar, dan fokus pada diri sendiri. ”Tahun depan saya akan naik ke kategori Women 40-44. Targetnya menjaga konsistensi dan bagaimana mengatur ritme," tuturnya. (Mainsepeda)