Bromo KOM kembali membuktikan daya tariknya sebagai salah satu event tanjakan paling menantang di Asia Tenggara. Event yang telah berlangsung 12 kali itu diikuti banyak peserta dari luar negeri. Mereka sengaja datang untuk menaklukkan jalur ikonik menuju kawasan Gunung Bromo.
Salah satu cerita perjuangan terjauh datang dari Daniel Jaramillo Uribe. cyclisC berusia 52 tahun asal Medellín, Kolombia itu rela menempuh perjalanan udara selama hampir dua hari dan merogoh kocek dalam-dalam. Demi bisa mengikuti Bromo KOM yang banyak disebut sebagai "naik hajinya" para cyclist tersebut.
"Tujuan saya datang ke Indonesia memang khusus untuk mengikuti Bromo KOM," ujar Daniel, yang turun di kategori Men Age 50-54. Ia berhasil menyelesaikan lomba jauh di bawah Cut Off Time (COT).
Daniel sudah berada di Indonesia selama hampir tiga pekan sebelum hari lomba. Ia memulai persiapannya di Bali. Kemudian terbang ke Batu, beberapa hari jelang acara. Ia latihan climbing di jalanan Batu yang sejuk. Baru kemudian menuju Surabaya.

Daniel Jaramillo Uribe, cylist asal Kolombia yang debut di Bromo KOM 2026. Ia tertarik ikut setelah menonton Bromo KOM dari YouTube.
Ini merupakan pengalaman pertama Daniel mengikuti event sepeda di Indonesia. Lalu, dari mana ia tahu Bromo KOM? "Dari YouTube!" ia berseru. "Saya suka lihat-lihat YouTube event sepeda di seluruh dunia. Waktu lihat Bromo KOM, kok menarik. Saya langsung kepingin mencobanya sendiri," urainya.
Sebelum ke Indonesia, Daniel pernah mengikuti Inthanon Challenge di Thailand pada 2025. Event tersebut dikenal sebagai salah satu ajang hill climb yang cukup bergengsi di Asia Tenggara. Finisnya di puncak Doi Inthanon, gunung tertinggi di Thailand.
Rute Inthanon Challenge sepanjang sekitar 47 kilometer menawarkan tanjakan brutal sepanjang 2.500 meter. Menjelang akhir, masih ada jalur curam dengan kemiringan hingga 23 derajat yang "membunuh" banyak cyclist. Event itu menjadi destinasi favorit para pemburu tanjakan dari berbagai negara.
Karena pernah menjajal kedua event tersebut, Daniel memiliki gambaran yang cukup jelas untuk membandingkan tingkat kesulitannya. Menurut dia, sekilas memang mirip. Rutenya sama-sama climbing. Namun, kata Daniel, ada satu perbedaan penting yang membuat Bromo KOM terasa lebih menyiksa.

Daniel Uribe ketika mengayuh menuju Puncak Wonokitri, Bromo. Meski sempat kram di kedua kaki, ia berhasil finis under COT.
"Di Inthanon saya enggak kram. Di Bromo, saya kram di sini, di sini," katanya, sambil menunjuk paha dalam kanan kiri, lantas tertawa. "Jadi sangat menantang," imbuhnya.
Cyclist yang sudah menekuni olahraga sepeda selama sekitar 10 tahun itu menilai karakter tanjakan Bromo KOM membuat peserta nyaris tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan tenaga.
"Menanjak terus. Tidak ada bagian yang benar-benar datar sehingga tidak ada waktu untuk recovery," paparnya. "Tapi saya sangat menikmati. Saya sangat suka. Apalagi, pemandangan yang tersaji sangat indah. Perjalanan menuju puncak benar-benar beautiful," urai pria punya bisnis properti tersebut.
Apakah kesulitan itu bikin Daniel kapok? Tentu tidak. Ia ingin mencoba lagi tahun depan. Tapi, ada sedikit keraguan. Jarak Kolombia dengan Indonesia sangat jauh. Dan ekonomi global sedang sulit. "Kalau ekonomi bagus, banyak orang beli rumah, bisalah ke sini lagi," ucapnya, lantas tersenyum.
Sementara itu Jmin Jiat Jot, cyclist asal Malaysia yang kini menetap di Australia, harus menghadapi "neraka" bahkan sebelum tanjakan dimulai. Jmin mengalami keracunan makanan pada malam sebelum balapan.

Jmin Jiat Jot, cyclist asal Malaysia harus menghadapi neraka bahkan sebelum tanjakan pertama dimulai. Sistem perpindahan gear-nya rusak.
Belum selesai sampai di situ, sistem perpindahan gigi elektroniknya (Di2) rusak. Memaksanya gowes dengan single gear (satu gigi) sepanjang jalan menuju Start KOM. "Saya bersyukur tidak finis di posisi terakhir," ujar Jmin yang akhirnya berhasil finis di peringkat 75 yang turun di Men Age Category 40-44 itu.
Bagi Jmin, rute Bromo KOM sangatlah tangguh, terutama di 3 kilometer terakhir menuju finis. Namun, ia sangat mengapresiasi kesigapan panitia. "Acaranya diorganisasi dengan sangat baik. Dukungan dari tim medis dan mekanik sangat-sangat bagus," puji Jmin.
Kesan berbeda datang dari Antonio Ade de Araujo Xavier atau yang akrab disapa Ade Xavier. Cyclist asal Timor Leste itu berlomba di kategori bergengsi Men Elite. Sebagai peserta di kelas utama, Ade merasakan tekanan dan tantangan yang sangat besar karena harus beradu kecepatan dengan para atlet dan pesepeda elite dengan skill tinggi.
Ade baru kali pertama ikut setelah mendapatkan informasi tentang Bromo KOM dari media sosial dan komunitas sepeda. Baginya, ajang tahunan itu menjadi wadah luar biasa untuk menguji ketahanan mental dan fisik. Alih-alih merasa gentar, ia merasa mendapat pengalaman berharga untuk meluaskan horizon bersepedanya.

Ade Xavier (kiri), peserta asal Timor Leste yang terjun di kategori Men Elite, merasakan tantangan besar. Tapi ia belajar banyak dari ajang tersebut.
"Selain untuk berkompetisi, saya juga ingin mendapatkan pengalaman baru, menjalin persahabatan, serta mempromosikan semangat olahraga antara Timor Leste dan Indonesia," kata Ade.
Cyclist berusia 30 tahun itu juga sangat terkesan dengan keindahan rute dan keramahan masyarakat lokal yang terus menyemangati para peserta di sepanjang jalur. “Secara keseluruhan, Bromo KOM bukan hanya sebuah ajang perlombaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar," jelasnya.
"Saya bisa menambah pengalaman, menjalin pertemanan dengan sesama pesepeda dari berbagai daerah dan negara. Saya sangat senang dapat menjadi bagian dari Bromo KOM 2026," papar Ade. Tentu saja, ia berharap dapat kembali berpartisipasi pada kesempatan berikutnya. (Mainsepeda)