Para Ultra Cyclist Nasional Ikutan 'Naik Haji' di Bromo KOM 2026, Kibar Siap Lawan Zidan Attala

EVENT bersepeda menanjak paling ikonik di Indonesia, Bromo KOM 2026, kembali digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026. Yang bikin makin seru, ajang itu juga akan diramaikan para ultra cyclist nasional.

Beberapa nama sudah terlihat saat race pack collection (RPC) di area Wdnsdy Cafe, Surabaya Town Square, pada Kamis dan Jumat (4 hingga 5 Juni 2026). Di antaranya adalah Yusuf Kibar dan Zidan Attala Nouval Hidayat, yang turun di kategori under 29.

Dari ultra women, ada Arfiana Khairunnisa, sang pemenang kategori pair 1.500 Km yang berpasanangan dengan Ivo Ananda pada East Java Journey 2026. Ada juga Adrina Puspita Raras yang turun di kategori Women 40-44.

Tentu saja, persaingan memperebutkan podium Bromo KOM 2026 dipastikan panas. Pasalnya, Yusuf Kibar, sang juara Bentang Jawa 2024, hadir sebagai pesaing yang tak bisa diremehkan. Meski ini adalah debutnya di Bromo KOM, Kibar datang dengan motivasi besar. 

Peraih podium kategori pair di East Java Journey (EJJ) 2026, yang berpasangan dengan sang ayah Miswanto, akan berjuang menaklukkan tanjakan Wonokitri sepanjang 25 km. Meski sudah mencatat prestasi di ajang ultra cycling, ia mengakui masih memiliki kelemahan di tanjakan.

”Karena ini Bromo KOM pertama saya, excited banget. Bromo KOM kan ’naik hajinya’ para cyclist, jadi saya ingin membuktikan diri,” ujar Kibar saat RPC, Jumat, 5 Juni 2026.


Yusuf Kibar mengungkapkan kesiapan menghadapi persaingan di kategori Under 29 ketika Race Pack Collection di Surabaya Town Square, 4 Juni 2026. 

Di kategori Under 29, Yusuf menyadari bahwa debutnya di event yang merupakan signature Mainsepeda itu akan mempertemukannya dengan para cyclist hebat. Termasuk Zidan Attala, langganan juara East Java Journey (EJJ). Sebagai pendatang baru di arena tanjakan panjang, Kibar belum bisa memetakan peta persaingan secara jelas.

Namun, pengalaman sebagai ultra cyclist menjadi bekal penting bagi Kibar untuk menguji kemampuan sekaligus menantang diri di balapan menanjak yang disebut sebagai "naik hajinya para cyclist." Memang, Kibar tidak menargetkan podium. Sebab, Bromo KOM dijadikan sebagai bagian dari persiapannya menghadapi Gravel World Championship di Australia pada Oktober 2026 mendatang.

”Saya sadar perlu memperkuat skill dan kemampuan menanjak. Bromo KOM ini saya dijadikan ajang pemanasan,” jelasnya.

Meski tidak secara khusus menargetkan podium, Yusuf Kibar tetap berharap bisa tampil maksimal di Bromo KOM 2026. Persiapan matang sudah ia lakukan. Terutama dengan fokus pada latihan menanjak menjelang balapan yang digelar Sabtu besok.

Namun, ketika ditanya soal peluang meraih podium, ia tidak menutup kemungkinan untuk mengejarnya jika kesempatan itu datang. ”Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, kenapa tidak? Harapannya cuaca panas, tidak hujan, supaya bisa full effort sampai puncak Wonokitri,” paparnya.

Berbeda dengan Yusuf Kibar yang lebih fokus menguji kemampuan menanjak, Zidan Attala Nouval Hidayat justru menargetkan podium di Bromo KOM 2026. Ya, cyclist dari Komunitas Gentleman Road Bike Surabaya itu masih penasaran untuk menakklukkan tanjakan Wonokitri.

Saat pertama kali ikut Bromo KOM pada 2023, Zidan yang turun di kategori Men Elite belum berhasil meraih podium. Setelah itu, Zidan sempat absen dari Bromo KOM. Baru tahun ini, pemuda asal Gedangan, Sidoarjo, itu kembali ambil bagian. Bedanya, tahun ini Zidan turun di kategori Under 29, dengan ambisi baru untuk meraih podium.


Zidan Attala Nouval Hidayat dengan percaya diri menargetkan finis di podium dalam Bromo KOM 2026.

Menurutnya, persaingan di kategori Under 29 dipastikan sengit. Zidan menyebut nama-nama kuat seperti Ethan Batara Njotoprawiro yang akan berada di garis depan.

Karena itu, jawara tiga kali beruntun di ajang East Java Journey (EJJ) 1.500 km kategori Men 39 and Under 2024-2026 itu akan menyiapkan strategi khusus bersama rekan setimnya, Evan. ”Target saya di Bromo KOM tahun ini adalah membawa tim menang,” ujarnya.

Zidan merencanakan untuk membuka jalan lebih dulu, menjaga ritme, dan jika situasi memungkinkan, mencoba melakukan serangan sejak awal. Baginya, kemenangan bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan pembuktian bahwa timnya bisa bersaing dengan nama-nama besar.

”Semoga strategi berjalan lancar dan tim bisa meraih hasil terbaik. Harapan saya, cuaca Bromo KOM kali ini panas sepanas-panasnya, karena saya memang lebih suka kondisi panas,” tuturnya.

Sementara itu, Adrina Puspita Raras kembali turun di ajang Bromo KOM 2026. Ini menandai keikutsertaannya yang keempat. Pertama kali ia ikut pada 2022, sempat absen 2023, lalu kembali pada 2024 dan 2025. ”Empat kali ikut, tapi jujur saya masih penasaran. Belum pernah finish yang benar-benar puas all out,” ungkapnya.

Sebagai ultra cyclist, perempuan asal Jakarta itu sebenarnya sudah terbiasa dengan tantangan jarak jauh. Namun, Bromo KOM tetap menjadi panggung yang istimewa karena punya rute menanjak yang sulit ditaklukkan.

Selama empat edisi sebelumnya, Raras selalu finis di urutan keenam sehingga belum pernah meraih podium. Tahun ini, dia bertekad memperbaiki hasil dengan pendekatan berbeda. Persiapan dilakukan lebih disiplin, terutama dalam hal nutrisi.


Adriana Puspita Raras ditemui saat RPC di Surabaya Town Square, 4 Juni 2026. Dalam keikutsertaan keempat di Bromo KOM, dia menargetkan finis tepat waktu. 

Ia juga berusaha menjaga ritme agar tidak terlalu memaksakan diri di awal, sehingga tenaga bisa tersimpan untuk nge-push lebih maksimal di bagian akhir tanjakan. ”Target utama saya adalah finish sesuai target waktu, seperti saat pertama kali ikut, sekitar 2 jam 15 menit. Kalau podium, itu bonus,” ujarnya.

Tahun ini Raras turun di kategori Women 40-44. Meski berbeda dari kategori sebelumnya, persaingan tetap berat. “Saya pikir naik grup ini akan lebih ringan, ternyata sama saja. Persaingan tetap neraka,” katanya sambil tertawa.

Sebelumnya, Raras juga rutin latihan secara konsisten meski kesibukan di Jakarta membuatnya lebih sering menggunakan indoor trainer. Pada akhir pekan, dia menyempatkan diri melakukan long ride ke Sentul, Hambalang, atau KM Nol.

Menurutnya, rute yang benar-benar mirip dengan Bromo hampir tidak ada di Jakarta. Puncak sebenarnya bisa menjadi pilihan, tetapi tahun ini ia tidak sempat berlatih di sana. Baginya, pelajaran terbesar dari empat tahun ikut Bromo KOM adalah soal mental. "Sering kalau lihat orang kencang jadi ciut. Padahal mental itu ngaruh ke fisik. Jadi harus bilang ke diri sendiri: aku bisa,” tegasnya.

Karena itu, di Bromo KOM 2026 Raras berharap bisa finis under CoT tanpa kram dan drama. ”Kalau podium, itu bonus. Yang penting puas dengan hasilnya,” tutur Raras. (Mainsepeda)


COMMENTS