Menaklukkan tanjakan menuju Wonokitri, Bromo, tidak pernah menjadi urusan yang mudah. Tanjakan ini dikenal luas dengan profil rute 'endless climb'-nya, tanpa adanya jalan datar untuk mengistirahatkan otot kaki. Oleh karena itu, persiapan matang pun wajib dilakukan sebagai bekal bagi setiap pesertanya.
Menariknya, kekuatan menaklukkan Bromo KOM tidak melulu terpancang soal usia. Buktinya para peserta kategori paling "senior": Men Age category 60+. Mereka begitu serius mempersiapkan event ini. Bahkan banyak yang serius untuk berkompetisi memperebutkan podium.
Ada beberapa nama di kategori Men Age category 60+ yang punya cerita cukup menarik, salah satunya Edhie Natallis Rasmansjah. Cyclist 61 tahun asal Jakarta itu mengaku memiliki keterbatasan untuk urusan latihan climbing. Rute Dalkot atau Bintaro Loop hanya cukup untuk menjaga kebugarannya. Sedangkan untuk mencari ketinggian untuk mengasah endurance jelang Bromo KOM, ia memilih ke Kilometer Nol Sentul, Hambalang, atau Puncak, Bogor. Belakangan Edhie memilih melakukan road trip ke Jawa Tengah demi menghindari rasa bosan.
Baca Juga: Bromo KOM 2026: Ketika Para Remidial Tak Pernah Kapok Tuntaskan Misi Finis Bahagia
Tidak tanggung-tanggung, ia fokus penuh pada latihan elevasi tinggi. Akhir pekan lalu, ia baru saja merampungkan sesi latihan dua hari penuh di Nepal van Java, Magelang. "Kemarin kami juga ke Sukomakmur, naik ke perkebunan sayur yang gradiennya mencapai 26 persen. Alhamdulillah, tidak nuntun," ujar cyclist yang menunggangi sepeda Wdnsdy ini.
Rute pertama ini dimulai dari daerah Kaliangkrik, Magelang dan berakhir di daerah Kalikajar pada Sabtu, 23 Mei 2026. Rutenya sejauh 45 Km dengan elevasi mencapai 1.160 meter. Edhie menempuhnya dalam waktu 3 jam 19 menit.
Selain melahap rute yang melintasi Kebun Sayur Sukomakmur itu, Edhie juga mengeksplorasi jalur Tambi di Wonosobo pada keesokan harinya. Rute ini lebih pendek, hanya 18 Km. Namun, elevasinya mencapai 521 meter.
Dengan modal latihan rutin menjaga jarak tempuh 200-250 km per minggu dan simulasi latihan tanjakan-tanjakan tersebut, Edhie fokus agar tubuhnya terbiasa menghadapi tanjakan konstan di Bromo nanti.
"Mengingat persaingan yang sangat kompetitif dan didominasi pembalap kuat, bisa finish under COT (Cut Off Time) dan masuk posisi 5 besar saja sudah menjadi pencapaian yang sangat bagus bagi saya," ujar Edhie saat membicarakan target pribadinya.
Di sisi lain, Cross-Training dengan rutin berlari menjadi cara Tri Sena Dipayuda (60 tahun) berlatih jelang Bromo KOM 2026 pada 6 Juni mendatang. Menghadapi Bromo KOM pertamanya, Tri Sena harus pintar-pintar membagi waktu antara pekerjaan dan jadwal latihan. Solusinya, ia menerapkan metode cross-training yang konsisten.
Dari hari Selasa hingga Jumat, di sela kesibukan kerjanya, ia memilih mengisi aktivitas fisik dengan berlari sejauh 10 kilometer. "Saya sengaja melakukan cross-training lari untuk penguatan otot, karena saya takut kram di Bromo kalau tidak ada variasi latihan," jelasnya.
Baru pada akhir pekan, Tri Sena fokus penuh di atas sadel. Ia rutin memburu rute-rute dengan total elevation gain (EG) mencapai 2.000 meter—angka yang sengaja dipatok untuk menyamai estimasi total elevasi dari Surabaya menuju Wonokitri. Jalur-jalur menanjak di Jawa Timur seperti Claket (Pacet), Nongkojajar, hingga Tretes menjadi menu wajibnya setiap minggu.
Tak hanya fisik, Tri Sena juga mempersiapkan aspek mekanikal sepedanya. "Persiapan lainnya, saya memutuskan upgrade ke sproket ukuran 36T," tambahnya. Hal ini dilakukan untuk memperingan kayuhannya saat mendaki puncak Bromo itu.
Baca Juga: Cerita Debutan Bromo KOM 2026: Rela Long Ride demi Latihan Tanjakan Hingga Jual Helm Kesayangan
Sementara itu, Guntur Priambodo yang baru saja naik ke kelas Men Age 60+, menerapkan manajemen latihan yang sangat terstruktur dan presisi. Pengalamannya di dunia sepeda membuatnya paham betul kapan harus memacu tubuh dan kapan harus mengistirahatkannya.
Guntur sudah membuka keran latihan intensifnya sejak dua bulan lalu. Selama periode tersebut, ia memacu fisiknya hampir setiap hari tanpa absen untuk membangun base-endurance dan power yang matang.
Namun, memasuki dua minggu terakhir menjelang balapan, Guntur langsung mengubah total menu latihannya. Ia mulai memasuki fase tapering. "Untuk dua minggu terakhir ini, saya sudah mulai mengurangi intensitas latihan. Porsinya lebih banyak ke rest (istirahat)," ungkap Guntur yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banyuwangi ini.
Strategi recovery ini diambil agar otot-otot yang sudah digembleng selama dua bulan penuh memiliki waktu untuk memulihkan diri secara total, sehingga berada dalam kondisi puncak saat menghadapi bendera start Bromo KOM 2026 di Surabaya nanti. (Mainsepeda)