Tanjakan legendaris Wonokitri selalu menghadirkan banyak cerita bagi para peserta Bromo KOM. Pun bagi peserta yang sebenarnya belum pernah merasakan. Itulah yang terjadi pada para peserta debutan Bromo KOM 2026.
Para peserta itu datang dari berbagai penjuru negeri. Datang dengan berbagai semangat. Datang dengan berbagai ekspektasi dan target.
Salah satu peserta debutan di Bromo KOM 2026 adalah beberapa cyclist dari Komunitas Sepeda Ketapang (KSK). Sesuai namanya komunitas ini dari Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
“Kami penasaran dengan rute menanjak Wonokitri,” kata Decky Dwi Prasetyo, salah satu member KSK.
Bagi Decky, mendaftar Bromo KOM perlu diikuti dengan keseriusan latihan. Apalagi, ia dan kawan-kawannya sudah sering terpapar cerita tentang siksaan tanjakan di Wonokitri.
Nah, bagi member KSK persiapan latihan itu jadi masalah tersendiri. Mereka selama ini sangat sulit menemukan rute latihan yang secara topografi mirip dengan Wonokitri. Sebab sebagian besar wilayah Kabupaten Ketapang memiliki jenis topografi datar, berbanding terbalik dengan rute yang akan mereka lalui di Bromo KOM.
Yang bisa dilakukan para member KSK hanya latihan endurance di medan-medan rolling. Untuk mendapatkan rute rolling pun mereka harus long ride dulu keluar Ketapang. “Kendala di sini rute tanjakannya kurang. Jadi pada hari libur kami mencoba melakukan long ride untuk mencari rute rolling,” sebut Decky.

“Kami harus menempuh kurang lebih 90 kilometer untuk mendapatkan rute tersebut,” tambahnya. Selain menempuh long ride dan latihan di rute rolling, anggota KSK juga melengkapi menu latihan untuk Bromo KOM dengan gowes dalam kota setiap Selasa hingga Sabtu.
Cerita tentang persiapan menuju Bromo KOM juga datang dari komunitas GO:AM-CC. Komunitas ini berasal dari Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Ada empat anggota komunitas ini yang berstatus debutan di Bromo KOM.
Empat anggota GO:AM-CC itu ceritanya ikut Bromo KOM 2026 karena “diracuni” oleh Suhandy Tengganus. “Di Bromo KOM 2026 ini kami berharapnya sederhana saja. Semua bisa enjoy, have fun sepanjang perjalanan, dan finis sebelum COT,” ungkap pria yang akrab disapa Ko Subo itu.
Ko Subo sendiri telah menaklukkan Bromo KOM edisi 2019 dan 2022. Alasannya bergabung lagi di event tahun ini cukup sederhana: rindu akan tanjakan Wonokitri dan kemeriahan Bromo KOM secara keseluruhan.
Nah di luar Ko Subo, ada beberapa anggota GO:AM-CC yang berstatus debutan di Bromo KOM. Salah satunya Egus Wahyudi. Ia mengaku sudah lama ingin mengikuti Bromo KOM, tetapi selalu ada saja kendala waktu. Tahun ini ia lebih siap. Bahkan saking niatnya, ia sampai menjual koleksi helmnya demi mendaftar Bromo KOM 2026.
“Ada dua helm yang saya jual. Selain untuk mendaftar dan persiapan ke Bromo, saya gunakan hasilnya untuk maintenance sepeda juga,” ungkap Egus.
Salah satu helm yang Egus jual adalah HJC FURION 2.0. Ia kerap menggunakannya untuk event gowes sejak 2024 silam.
Egus berencana untuk menggunakan helm POC Ventral SPIN untuk Bromo KOM 2026. Namun, ia harus melepasnya juga untuk memaksimalkan persiapan di aspek lainnya. “Karena lebih cepat lakunya kalau dijual,” tambahnya.
Sebagai debutan, Egus melatih kekuatannya dengan bersepeda sejauh 60 kilometer selama 6 hari dalam seminggu.
Untuk tanjakan, ia dan komunitas GO:AM-CC memilih Gunung Dempo sebagai tempat latihan. Mereka harus melalui perjalanan darat selama 7 jam dari Kota Prabumulih untuk tiba di gunung tersebut.

Pendaftaran All-Event Mainsepeda saat ini masih dibuka, termasuk untuk registrasi single event. Bagi yang berminat, Anda masih bisa mendaftar di empat event Mainsepeda 2026 mendatang, yaitu Bromo KOM, Ngebel KOM, Nggravel Glenmore, dan West Java Journey (WJJ) melalui Mainsepeda App.
Di sisi lain, tersedia juga paket bundling yang menawarkan potongan harga per kategori event, seperti kategori King of the Mountain (Bromo KOM dan Ngebel KOM), Gravel (Nggravel Blitar dan Glenmore), serta Ultra Cycling (EJJ dan WJJ) dengan potongan hingga 25 persen.(mainsepeda)