Giro d’Italia 2026 akan menjadi panggung besar bagi Jonas Vingegaard yang datang sebagai favorit utama dalam perebutan maglia rosa. Pembalap asal Denmark tersebut menjadi sosok yang paling diunggulkan untuk menguasai balapan tiga pekan yang dimulai dari Bulgaria dan berakhir di Roma tersebut.

Vingegaard datang ke Italia dengan label mentereng, juara Tour de France dan Vuelta a Espana. Sekarang, pembalap Visma-Lease a Bike tersebut menjadikan Giro sebagai target pemungkas untuk melengkapi koleksi gelar di Grand Tour.

Performa Vingegaard sepanjang musim memperkuat statusnya. Kemenangan dominan di Paris-Nice serta hasil impresif di Volta a Catalunya, menunjukkan bahwa ia kembali ke level terbaiknya setelah proses pemulihan panjang dari cedera serius pada 2024.

"Saya merasa telah menghabiskan dua tahun terakhir berjuang untuk kembali ke level tersebut. Kembali ke sosok Jonas sebelum kecelakaan saya," katanya Vingegaard.

Namun perjalanan Vingegaard menuju gelar juara di Giro dipastikan tak akan mudah. Sebab sejumlah nama siap menjadi bantu sandungan untuk pembalap Denmark itu. Salah satunya adalah Giulio Pellizzari (Red Bull-Bora-Hansgrohe). Meski masih berusia 22 tahun, ia sudah menunjukkan konsistensi di Grand Tour, termasuk finis enam besar di Giro dan Vuelta.

Kemenangan terbaru di Tour of the Alps mempertegas statusnya sebagai penantang serius podium. Christian Pomer Direktur Tim Red Bull-Bora-Hansgrohe bahkan menyebut peluangnya kini realistis untuk bersaing di tiga besar Giro.

Pellizzari tentu tak berjuang sendiri. Sebab Red Bull-Bora-Hansgrohe memastikan Jai Hindley kembali ke Italia. Jawara Giro 2022 itu memberi Red Bull-Bora-Hansgrohe dua opsi strategi GC. Kombinasi tersebut dapat menjadi kunci dalam menghadapi dominasi Vingegaard, terutama jika balapan memasuki fase pegunungan.

Selain duo Red Bull-Bora-Hansgrohe, Ben O’Connor (Jayco-AlUla) juga masuk dalam kandidat juara. Ia dikenal sebagai pembalap agresif yang mampu memenangkan etape dari breakaway maupun bertahan di GC. Dengan rekam jejak podium dan kemenangan di semua Grand Tour, O’Connor menjadi ancaman tidak terduga untuk Vingegaard. 

Nama berikutnya adalah Adam Yates. Rider UAE Team Emirates-XRG ini menjadi salah satu sosok paling berpengalaman di peloton. Meski selama ini lebih sering menjadi domestique, Adam Yates beberapa kali membuktikan kapasitas sebagai pemimpin, termasuk kemenangan di O Gran Camiño.

Dua pembalap Netcompany-Ineos, yakni Thymen Arensman dan Egan Bernal juga harus dimasukkan sebagai pesaing Vingegaard di Giro tahun ini. Thymen Arensman datang dengan modal kuat sebagai climber sekaligus time trialist. Dua kemenangan etape di Tour de France 2025 menegaskan kemampuannya bersaing dengan pembalap top.

Sementara Egan Bernal menunjukkan tanda kebangkitan setelah cedera panjang yang sempat mengancam kariernya. Finis tujuh besar di Giro sebelumnya dan podium di Tour of the Alps menandai progres signifikan. Dengan status juara Tour de France 2019, Bernal tetap menjadi salah satu nama paling berbahaya jika kembali menemukan ritme terbaiknya.

Felix Gall (Decathlon CMA CGM) dan Derek Gee (Lidl-Trek) juga layak menjadi kuda hitam dalam ajang ini. Gall dikenal sebagai climber murni dengan kemampuan eksplosif di tanjakan panjang. Sementara Gee menunjukkan perkembangan signifikan sejak debut Giro-nya, meski persiapan sempat terganggu sakit. Keduanya berpotensi memanfaatkan setiap celah dari duel para favorit utama. (mainsepeda)

Populer

Giro d'Italia 2026-Etape 5: Igor Arrieta Menang Dramatis Setelah Dua Kali Crash
Ada Apa di Wdnsdy Café, Kafe Cycling Pertama Indonesia?
Giro d'Italia 2026-Etape 4: Narvaez Menang Sprint, Ciccone Rebut Jersey Pink
Pesona Selo “Ring of The Fire”, Sensasi Menanjak Membelah Merapi dan Merbabu
Kevin dan Chika Juara Go West Gantasan 22
Simak Cara dan Biaya Registrasi Bromo KOM 2023
Helm-Helm Baru Abus: Aero dan Lebih Terjangkau
Ada Bus dan Truk Untuk Pulang dari Wonokitri
Wdnsdy AJ62: Performance Nyaman untuk Cyclist Indonesia
Rio Akbar Sabet Emas di Balap BMX Asia 2018