Kediri Dholo KOM Challenge 2022 tuntas sudah. Menu utama yang menghadirkan siksaan terutama di tanjakan Kelok 9 dan Gigi 1 sudah dilahap para peserta. Ada yang melaju perkasa dengan penuh perjuangan. Tapi, tak sedikit yang menikmati perihnya tanjakan dengan menuntun. Tak masalah, menuntun itu tidak berdosa demi lolos cut of time (COT). 

“Eventnya bayar, datangnya dari Banjar, kok ya mau-maunya capek dan nuntun pula,” kata Ayi Zenal Arif, peserta asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sambil menuntut sepedanya.

Meskipun mengeluh, tapi Ayi menikmati siksaan di Gigi 1 itu. Ia merasa inilah konsekuensi olahraga bersepeda.

“Kita kan memang memilih olahraga bersepeda yang penuh penderitaan. Tapi acara ini memang keren. Sampai ketemu di Bromo KOM 2023,” ujarnya. 

Ayi memang sudah mengantongi slot Bromo KOM Challenge 2023. Ia sudah mengamankan slot itu sejak ikut Banyuwangi Bluefire Ijen KOM Challenge 2022.

Bukan hanya Ayi yang merasakan siksaan itu. Hampir semua peserta. Ada yang malu-malu. Ada pasrah.

Misalnya Aloysius M. Moeljadi, cyclist asal Malang. Ia kaget di Gigi 1 ternyata banyak orang yang menonton. Ia pikir hanya di Kelok 9 banyak penonton. Juga banyak kru Mainsepeda. “Waduh ada banyak orang. Banyak yang foto-foto juga, wah masuk Mainsepeda ini,” candanya.

Banyak cyclist yang terkejut bahwa masih ada tanjakan ekstrem setelah Kelok 9. Mereka mengira Kelok 9 adalah siksaan terakhir. Kondisi ini yang membuat cyclist kurang siap. Terutama ketika harus memindah gir. “Waduh nanjak lagi. Tok ganjel tok, Tok ganjel tok,” teriak salah satu cyclist menirukan ucapan viral di video-video di TikTok.

Segmen lomba Kediri Dholo KOM memang menyajikan ujian kemiringan. Di atas kertas, tidak menakutkan. Panjangnya hanya 17,57 km. Walau total elevation gain-nya mencapai 1.200 meter. Kemiringan ada yang 10 persen. Bahkan mendekati 15 persen. Tapi itu di atas kertas. Realitanya lebih menyakitkan. Sebab ada kemiringan maksimal yang mencapai 30 persen. 

Menu utama segmen Kediri Dholo KOM Challenge adalah tanjakan ikonik Kelok 9. Tanjakan terjal di bentuk berkelok-kelok di tengahnya. Tanjakan ini memaksa cyclist harus zig zag mengikuti kelokan. Di sini cerita-cerita siksaan juga tak kalah lucunya seperti di Gigi 1. 

“Siapa sih yang bikin jalan. Bikin jalan kok menyusahkan orang. Nggak ada ratanya sama sekali. Perlu dilaporin Pak Basuki ini (Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat),” celetuk Juni Harianto.

"Insinyurnya ngawur kalau bikin jalan. Pasti dia kuliahnya gak lulus," timpal Ayi Zenal Arif, peserta asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Di Kelok 9, banyak fotografer yang mengabadikan momen seru para cyclist menaklukkan tanjakan. Hal itu membuat cyclist seringkali justru mengajak bercanda para fotografer. Sedikit mengurangi ketegangan. “Waduh kok banyak fotografer. Giliran di sini banyak fotografer, kalau ada foto saya dihapus saja ya,” canda Emanuel Dedy.

Kediri Dholo KOM Challenge 2022 digelar selama dua hari, 3-4 Desember 2022. Hari pertama peserta menjalani rute yang relatif datar. Start dari Balai Kota Surabaya menuju ke Kantor Bupati Kediri. Dalam perjalanan itu, peserta berhenti di tiga pit stop. Di Kantor Bupati Mojokerto, Kantor Kecamatan Pare, serta Gedung Teater dan Museum Kelud. Total jarak 169 km.

Hari kedua peserta menjalani menu utama. Bersepeda menanjak ke Air Terjun Dholo di Gunung Wilis. Total jarak tempuh di hari kedua, 42,8 km.

Kediri Dholo KOM Challenge 2022 dipersembahkan oleh Mainsepeda.com. Didukung penuh Counterpain, Kojima, Azawear.com, MPM Honda Jatim, dan Strive sebagai official partners. Serta AA SoS, Wdnsdy Bike, Semen Indonesia Group (SIG), Avelio Cycling Shoes, SUB Jersey, Johnny Ray Cycling, Disway.id National Network, Polda Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Kediri, Pemerintah Kota Kediri, dan Pemerintah Kota Surabaya sebagai supporting partners. (mainsepeda)


COMMENTS