Sandi Adila 'Asenk', Hendriyanto Wijaya 'Toto', dan Andre Leman 'Ale' berhasil menyelesaikan misi menaklukkan London-Edinburgh-London (LEL) 2022. Ketiga member Brompton Monas Cyclists (BMC) itu sukses finis sebelum cut off time (COT) dalam event endurance brevet cycling yang diklaim paling sulit di Britania Raya tersebut.

Ketiga cyclist ini seharusnya bersaing di London-Edinburgh-London 2021. Akan tetapi, pandemi Covid-19 membuat ajang ini diundur setahun menjadi 2022. Meski tertunda setahun, situasi ini tidak menyurutkan minat peserta untuk tetap ikut. Sebanyak 2.000 cyclist dari seluruh dunia start dari London pada 7 Agustus lalu.

BACA JUGA: Brompton Monas Cyclists Target Taklukkan London-Edinburgh-London dalam 100 Jam

Peserta menempuh total jarak 1.500 kilometer dengan elevation gain lebih dari 13.000 meter. Semula event ini harus dituntaskan dalam 125 jam. Akan tetapi, lantaran perubahan rute di tengah event, sehingga COT diubah menjadi 128 jam. Hebatnya, ketiga wakil BMC itu berhasil finis under COT. Asenk dan Toto menuntaskan medan sepanjang 1.568 kilometer dengan catatan waktu 104 jam 28 menit. Sedangkan Ale mencatat waktu 125 jam 47 menit.

"Rasanya luar biasa. Rutenya benar-benar berat. Rolling tiada habisnya. Kalau pun bertemu dengan medan flat, tantangannya adalah angin. Cuaca pada malam hari juga sangat dingin. Ditambah kami semuanya kurang tidur. Serta kami naik sepeda lipat. Membuat tantangan yang sudah berat menjadi makin berat," kata Asenk kepada Mainsepeda.com.

Tetap melaju meski malam makin larut dan minim penerangan

Asenk dan Toto nyaris selalu bersama-sama dalam menyelesaikan London-Edinburgh-London 2022. Tidak heran jika catatan waktu mereka pun sama. Sedangkan Ale harus berjuang sendirian, "Jadi saya melawan diri sendiri, itu yang paling berat. Godaan untuk berhenti dan menyerah selalu ada. Namun saya selalu ingat nama yang kami bawa di event ini," aku Ale.

Porsi tidur harus diatur sedemikian mungkin agar finis sesuai target. Asenk dan Toto mengaku hanya tidur selama enam jam saja. Rinciannya, satu jam pada hari pertama, Tiga jam pada hari kedua, dan dua jam pada hari ketiga. Masa istirahat di setiap pit stop pun dipersingkat. Antara 30 menit hingga satu jam saja. Ale juga demikian. Ia lebih memaksimalkan power nap saat di pit stop untuk mengisi energi.

Strategi yang dilakukan selama London-Edinburgh-London (LEL) terbukti ampuh membawa mereka finis di bawah COT. Makin bangga karena sebelumnya belum ada cyclist dari Indonesia yang menyelesaikan ajang ini. "Senang sekaligus capek. Ini salah satu event yang menjadi impian untuk diikuti. Bukan event kaleng-kaleng, melainkan event internasional yang wah. Kami bangga bisa finis di sini," ungkap Ale.

Partisipasi mereka dengan Brompton juga bikin geleng-geleng peserta lain. Sebab mereka menunggangi sepeda 'ban kecil' di tengah kepungan peserta lain yang memakai road bike atau sepeda touring. Memang ada peserta lain yang menunggangi sepeda buatan London, Inggris tersebut. Sejauh yang pernah mereka temui, peserta itu berasal dari Jepang dan Jerman. Namun Asenk menyebut hanya peserta dari Indonesia saja yang berhasil finis sebelum COT.

Dianggap 'gila' karena menunggangi Brompton di London-Edinburgh-London 2022

"Peserta lain terkaget-kaget melihat kami memakai Brompton di LEL. Ada peserta yang bertanya mengapa kami membawa sepeda belanja di event seperti ini. Ada yang bilang kami sudah gila," ungkap Asenk.

"Responsnya bermacam-macam. Intinya mereka mengapresiasi. Terutama teman-teman pesepeda yang punya Brompton di rumahnya. Mereka tahu bagaimana beratnya sepeda ini jika dibandingkan dengan road bike. Jadi mereka sangat-sangat surprise karena kami berani menggunakan sepeda ini untuk ikut di LEL," imbuh cyclist 39 tahun ini ini.

Reaksi yang diterima Ale pun demikian. Dari sekian banyak cyclist yang ia temui di London-Edinburgh-London 2022, semuanya terheran-heran melihatnya gowes dengan Brompton. Mereka juga sempat underestimate dan bertanya mampukah Brompton melibas rute berat di event ini. Semua keraguan itu dijawab dengan kesuksesan trio BMC finis sebelum COT dalam event yang digelar oleh Audax UK tersebut.

"Mereka cukup shock melihat bahwa Brompton ternyata bisa menembus rute 1.500 kilometer," ungkap cyclist 51 tahun ini.

Sepeda mereka juga tidak pernah mengalami masalah serius selama London-Edinburgh-London 2022. Pasalnya, ketiga sepeda itu sudah diservis terlebih dulu di kantor pusat Brompton di London. Untuk memastikan sepeda lipat paling ringkas di dunia ini tidak mengalami kendala. Mereka diundang khusus oleh CEO Brompton Will Butler-Adams sebelum dimulainya London-Edinburgh-London 2022.

Brompton memang lebih berat daripada road bike. Rodanya juga jauh lebih kecil. Namun bukan berarti sepeda ini hanya cocok untuk komuter saja. Asenk mengungkapkan, Brompton sangat nyaman dipakai untuk perjalanan jarak jauh macam di London-Edinburgh-London 2022. "Bisa dipakai nanjak maupun melaju di turunan atau jalanan flat. Sepeda ini memang bisa diandalkan," tegasnya.

What's next? Ale dengan tegas menyebut ingin tampil di Paris-Brest-Paris. Event ini sudah pernah diikuti Asenk dan Toto pada 2019 lalu. Karena sudah finis di Paris dan London, Asenk belum memiliki gambaran pasti. Namun ia tertarik ikut The Transcontinental Race. Event ini menantang cyclist keliling Eropa selama kurang dari dua pekan. "Kalau ikut Transcontinental bisa-bisa dipecat dari kantor," canda Asenk. (mainsepeda)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 103

Foto: Dokumentasi Brompton Monas Cyclists


COMMENTS