Tiga cyclist Indonesia yang tergabung di Brompton Monas Cyclists (BMC) berusaha menaklukkan rute berat di London-Edinburgh-London (LEL) 2022. Inilah event endurance brevet cycling yang diklaim paling sulit di Britania Raya. Menempuh total jarak lebih dari 1.500 kilometer dengan elevation gain lebih dari 13.000 meter. Para peserta hanya diberi waktu 125 jam untuk menuntaskan event ini.

London-Edinburgh-London merupakan event empat tahunan. Berlangsung kali pertama pada 1989 silam. Event ini acap kali dilaksanakan dua tahun setelah Paris-Brest-Paris. Menurut jadwal, event yang digelar oleh Audax UK itu seharusnya dilaksanakan pada 2021 lalu. Pandemi Covid-19 membuat gelaran ini tertunda selama setahun. London-Edinburgh-London akhirnya digelar kembali pada 2022.

Sebanyak 2.000 peserta akan start dari London pada Minggu, 7 Agustus 2022 pukul 06.00 waktu setempat. Sekitar pukul 12.00 WIB. Tiga di antaranya merupakan member BMC. Mereka adalah Sandi Adila 'Asenk', Hendriyanto Wijaya 'Toto', dan Andre Leman 'Ale'. Ketiganya coba menaklukan rute sulit dari London-Edinburgh-London dengan sepeda Brompton!

"Ide untuk ikutan London-Edinburgh-London muncul setelah menyelesaikan Paris-Brest-Paris 2019. Kami sudah daftar sejak 2020. Event ini seharusnya digelar 2021. Tapi ada pandemi. Sehingga diundur menjadi 2022. Yang ikutan juga nggak bisa sembarangan. Ada seleksinya. Biasanya yang sudah turun di Paris-Brest-Paris pasti diterima," cerita Asenk. 

BACA JUGA: Brompton Monas Cyclist Taklukkan Paris-Brest-Paris 1.200 km Dalam 82 Jam

Ketiga member BMC ini memang bukan cyclist sembarangan. Asenk dan Toto, misalnya. Keduanya merupakan 'alumni' Paris-Brest-Paris 2019. Pada saat itu terdapat 13 cyclist asal Indonesia yang berpartisipasi di gelaran ini. Akan tetapi, hanya Asenk dan Toto yang sukses menaklukkan Paris-Brest-Paris 2019 dengan sepeda lipat Brompton.

Mereka berhasil menyelesaikan event yang menempuh jarak 1.200 kilometer dan total elevasi 12.000 meter itu tanpa hambatan. Asenk dan Toto lulus sempurna dengan catatan waktu 82 jam 53 menit. Lebih dari tujuh jam sebelum cut off time (90 jam). Dan, mereka menaklukkan rute sulit ini dengan sepeda lipat buatan Inggris itu.

Ale pun tidak kalah strong. Ia pernah 'membelah' Pulau Jawa dengan Brompton pada medio Oktober tahun lalu. Ale menuntaskan rute sepanjang 1.434 kilometer selama 147,5 jam dalam gelaran Bentang Jawa. Ia gowes dari Pantai Carita di Pandeglang menuju Hotel Blambangan di Banyuwangi. Dari 38 peserta yang berpartisipasi di ajang ini, terdapat 23 cyclist yang finis sebelum cut off time (COT).

BACA JUGA: Cerita Andre Leman Membelah Pulau Jawa dengan Brompton

Mayoritas peserta menggunakan road bike atau sepeda touring pada saat itu. Hanya segelintir peserta yang menunggangi sepeda lipat. Hebatnya, Ale menjadi satu-satunya peserta dengan sepeda lipat yang berhasil menyelesaikan tantangan ini. Bahkan, cyclist 51 tahun tersebut berhasil finis sebelum COT.

Sekarang Asenk, Toto, dan Ale bakal berjuang untuk menaklukkan rintangan berat lainnya di Britania Raya. London-Edinburgh-London 2022 harus diselesaikan maksimal dalam 125 jam. London-Edinburgh-London 2022 membebaskan para peserta untuk menggunakan sepeda jenis apa pun. Peserta juga dipersilahkan mengatur sendiri ritme gowesnya.

"Mau gowesnya seberapa cepat, mau kapan berhentinya, mau kapan istirahatnya, mau kapan makannya, itu semua diatur oleh masing-masing peserta," bilang Asenk.

drg. Hendriyanto Wijaya 'Toto' dan Sandi Adila 'Asenk' sukses menaklukkan Paris-Brest-Paris 2019 dengan Brompton

Sebagai cyclist yang sudah menuntaskan Paris-Brest-Paris, Asenk mengaku sangat tertantang untuk bersaing di London-Edinburgh-London tahun ini. Apalagi secara jarak, gelaran ini menempuh rute lebih panjang dengan total elevasi lebih tinggi daripada Paris-Brest-Paris 2019 lalu.

"Ini adalah tantangan untuk diri sendiri. Saya pikir ini salah satu tantangan yang bisa kami selesaikan," ucap cyclist 39 tahun itu.

Tentu saja perjalanan ketiga cyclist ini tidak akan mudah. Apalagi mereka mengendarai Brompton, sepeda 'ban kecil' dengan 6-speed. Sementara mayoritas partisipan menggunakan sepeda 'ban besar'. Alhasil, selain harus menaklukkan medan yang berat, ketiga cyclist ini harus mengeluarkan effort lebih besar karena menggunakan sepeda 'ban kecil'.

Meski demikian, ketiga member BMC itu tidak memusingkan soal perbedaan tunggangan. Sebaliknya, mereka begitu termotivasi untuk membuktikan bahwa sepeda lipat buatan Inggris itu cukup mumpuni untuk bersaing di 'kandang sendiri'. "Brompton itu, meski dikenal sebagai sepeda komuter, bisa juga dipakai untuk menaklukkan segala medan," kata Ale.

Andre Leman 'Ale' berhasil 'membelah' Pulau Jawa sepanjang 1.434 kilometer dalam 147,5 jam

Cuaca disebut sebagai tantangan terberat di London-Edinburgh-London 2022. Sebab cuaca di Britania Raya jauh berbeda dengan di Indonesia. Oleh karena itu, Ale beserta Asenk dan Toto harus bisa beradaptasi dengan cuaca yang lebih dingin daripada Indonesia. Manajemen tidur harus dimaksimalkan. Apalagi ketiga anggota BMC ini memasang target finis dalam 100 jam.

"Tentu saja kami juga mempersiapkan fisik. Bahkan persiapan kali ini lebih matang daripada Paris-Brest-Paris 2019 lalu. Makanya kita target finis 100 jam," ungkap Toto. "Selain itu kami juga mempersiapkan sepedanya. Brompton ini walaupun sudah cukup compact, tapi kami juga butuh double chairing di depan," timpal Ale.

Bagi Toto, dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan waktu gowes lebih lama, ia merasa lebih nyaman dengan Brompton. Toto berharap masa persiapan matang yang sudah mereka lakoni selama ini, berbuah hasil manis di London-Edinburgh-London nanti.

"Selama ini belum ada orang Indonesia yang menaklukkan medan tersebut. Saya bersama Asenk dan Ale, berharap bisa berhasil menaklukkan misi ini dan finis dengan strong," harap cyclist yang berprofesi sebagai dokter gigi itu. (mainsepeda)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 102

Foto: Dokumentasi Brompton Monas Cyclists


COMMENTS