Alhamdulillah. Setelah tertunda beberapa bulan, 4-5 Desember lalu event gowes epic KAI Kediri Dholo KOM Challenge 2021 berlangsung juga. Peserta masih dibatasi hanya 250 orang, tapi ceritanya ke mana-mana. Memperkenalkan kepada seluruh penggemar sepeda tentang tanjakan Dholo, di lereng Gunung Wilis. Tanjakan yang sangat berkarakter, photogenic, cycling-genic, dan menurut saya layak disebut sebagai salah satu tanjakan sepeda paling epic di Indonesia. Bahkan dunia!

Tanjakan yang menawarkan cerita lebih seru daripada berbagai tanjakan paling heboh yang pernah saya --dan teman-teman-- kunjungi di Italia, Prancis, dan negara-negara "sepeda" lain di dunia!

Menurut saya, tanjakan-tanjakan superterkenal di dunia jadi legendaris karena punya banyak cerita. Atau warga setempatnya (atau promotor lokalnya) pandai membuat cerita. Itu yang di Indonesia harus digunakan ilmunya. Itu yang saya coba lakukan, sebagai pecinta hobi bersepeda, dan sebagai orang yang berharap para pemerintah daerah menaruh perhatian lebih pada aset-aset alamnya yang begitu indah.

Sepuluh tahun yang lalu, tidak banyak yang kenal tanjakan menuju Wonokitri, Bromo, dari Pasuruan. Berkat event gowes rutin yang diselenggarakan sejak 2014, sekarang menanjak ke Wonokitri seperti dianggap sebagai "naik haji"-nya pesepeda Indonesia.

Ajang yang dulunya hanya diikuti 300 orang (2014), menjadi ajang sepeda paling heboh dan ditunggu. Event Bromo KOM pada 2020 lalu diikuti lebih dari 1.500 orang (dengan daftar antrean jauh lebih banyak lagi). Dan sampai hari ini, saya selalu ditanya orang, kapan ada Bromo KOM lagi.

Sekarang, saya yakin Kediri Dholo KOM akan jadi idola baru. Dan punya potensi jadi idola yang lebih hebat. Karena kawasan itu punya masa depan wisata olahraga (sports tourism) yang luar biasa. Tinggal bagaimana menjaganya. Apalagi kalau bandara di Kediri kelak jadi, dan jalan tol juga tuntas. Potensinya makin hebat lagi.

Tantangannya ya itu tadi: Bagaimana menjaganya, atau menyiapkan positioning-nya ke depan. Seperti yang dilakukan salah satu bupati idola saya: Mas Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, yang bisa berpikir dua-tiga langkah ke depan, lalu membuktikannya dengan hasil nyata.

Pada 2014 lalu, Mas Anas dan saya kebetulan sama-sama meraih penghargaan National Champion, Marketer of the Year, dari Marketeers-nya Hermawan Kartajaya. Beliau di bidang pemerintahan, saya di bidang media.

Sebelum lanjut bicara soal Kediri, saya ingin sharing dulu tentang dua kawasan di Italia yang bisa dijadikan acuan. Pada 2014, saya dan banyak teman sehobi gowes ke Italia, dengan menu utama tanjakan bernama Monte Zoncolan. Salah satu tanjakan paling kejam dalam sejarah bersepeda.

Tanjakan itu jadi terkenal, serta kawasan di sekelilingnya jadi populer, karena tanjakan itu sering dipakai untuk lomba Giro d'Italia (lomba terbesar pesaing Tour de France). Itu tanjakan termasuk tidak manusiawi. Aslinya jalan emergency menuju puncak gunung, bukan untuk jalan umum. Panjangnya hanya 10 km. Tapi 6 km di tengahnya maut. Kemiringan rata-ratanya 15 persen (naik 150 meter setiap 1 km).

Oleh warga sekitar (kota/desa Ovaro), ketika memasuki bagian maut itu, dibuatkan gerbang/gapura yang tulisannya keren: "La Porta de'll Inferno" alias "Pintu Neraka."

Sensasinya ya menanjakinya. Ada apa di puncaknya? Tidak ada apa-apa! Hanya berfoto di tulisan "Monte Zoncolan, ketinggian 1.750 meter."


Azrul Ananda ketika gowes di Monte Zoncolan, Italia pada 2014.

Hanya karena cerita itu, entah berapa juta orang ke sana setiap tahun untuk merasakan sensasinya!

Kemudian, pada 2017, saya dan teman-teman kembali ke Italia. Ikut event gowes bergunung-gunung bernama Maratona Dolomiti. Di kawasan pegunungan Dolomiti. Total ada 10 ribu peserta!

Event itu terwujud karena kolaborasi kota-kota/desa-desa di kawasan yang sama. Yaitu kawasan Alta Badia. Mereka biasanya makmur di musim dingin, karena banyak orang wisata ski ke sana. Tapi pada musim panas, mereka tidak punya pemasukan. Akhirnya, mereka bikin beberapa hari khusus bersepeda. Mobil dilarang lewat di kawasan itu sama sekali, hanya sepeda yang boleh.

Tiga kota utamanya, Corvara, Badia, dan La Val, kompak bikin Maratona Dolomiti. Butuh tiga kota itu bersama untuk menampung 10 ribu peserta (dan tamu-tamu pendampingnya). Satu kota jadi lokasi start, satu kota jadi lokasi finis, kota ketiga jadi lokasi festivalnya. Jadi semua pasti dikunjungi, apalagi letaknya bersebelahan semua.

Kami diberi tahu, pemasukan warga tiga kota selama satu weekend itu saja sudah cukup untuk menutupi kebutuhan selama musim panas. Bagaimana tidak, hotel satu kamar semalamnya bisa sampai 500 Euro. Belum belanja makan dan lain-lainnya.


Salah satu event gowes menanjak yang terkenal di Italia, Maratona Dolomiti.

Sekarang kembali ke Kediri. Kota dan Kabupaten Kediri bisa dibilang sama seperti Alta Badia itu. Kalau berkolaborasi bisa luar biasa. Kawasan wisatanya milik Kabupaten, tapi kebutuhan pendukungnya (hotel, shopping, entertainment, dan lain-lain) ada di Kota. Apalagi ada stasiun kereta api, dan segera ada jalan tol dan bandara baru!

Khusus untuk bersepeda, maka tanjakan menuju air terjun Dholo bisa jadi Monte Zoncolan-nya. Bahkan, tanjakan Dholo lebih menarik dari Zoncolan. Karena di atasnya ada tempat wisata beneran. Zoncolan tidak ada apa-apanya!

Saya kali pertama mengenal tanjakan itu pada 2016 lalu. Saya bersama partner saya di Wdnsdy Bike, John Boemihardjo, diajak gowes oleh sahabat gowes kami di Kediri (yang juga pernah ikut ke Alta Badia dan Zoncolan), yaitu Ferry Martalatta Lobis. Kami ditemani juga oleh Dani Lesmana, pembalap nasional asal Kediri.

Hanya kami berempat gowes ke Dholo waktu itu. Jalannya masih sangat baru, bahkan di atas masih banyak yang belum jadi. Ketika itu, kami langsung melihat potensi tanjakan itu sebagai lokasi event yang seru. Acara ulang tahun komunitas di Surabaya kami arahkan ke sana.

Waktu itu menanjaknya masih lewat Selopanggung. Dan setelah gerbang Besuki belum ada yang namanya "Kelok 9."

Ketika akhirnya bikin event, Ferry dan teman-teman Kediri menawarkan rute Besuki lewat Mojo saja. Beberapa kali kami menjajalnya, dan memang menawarkan sensasi luar biasa. Benar-benar tantangan. Benar-benar memberi cerita.

Dari awal tanjakan (start segmen), jarak ke puncak di Dholo "hanya" 18 km (kurang sedikit). Sekitar 14 km-nya sampai gerbang Besuki. Awalnya landai, makin ke atas makin terjal.

Nah, bagi cyclist, gerbang Besuki itu seperti gapura "Pintu Neraka." Karena setelah itu menunya mantap. Ada Kelok 9, jalan berliku ala Lombard Street di San Francisco yang kemiringannya konstan di 17-18 persen. Kalau tidak kuat, pasti menuntun. Tidak cukup di situ, langsung disambut tanjakan yang dijuluki "Gigi 1." Kemiringan di atas 25 persen walau tidak terlalu panjang. Kalau selamat itu, ada beberapa lagi bagian terjal sebelum mencapai finis.

Segmen Kelok 9 itu benar-benar photogenic, atau lebih tepatnya "cycling-genic." Ada barisan tangga di kanan-kiri, tempat fotografer dan penonton bisa menikmati pemandangan pesepeda tersiksa belok-belok menanjak. Atau, menyoraki yang menuntun. Lihat saja fotonya!


Azrul Ananda (foto bawah) dan para peserta Kediri Dholo KOM saat melintasi Kelok 9.

Monte Zoncolan tidak punya itu! Bahkan tanjakan paling kondang di Tour de France, Alpe d'Huez, tidak punya yang seperti itu!

Sehari setelah event, ada banyak teman sepeda yang mengirim pesan. Jadi penasaran dengan Dholo di Kediri. Kalau memang mereka kemudian ke sana, berarti misi event untuk mendatangkan lebih banyak turis telah tercapai. Minimal, para pesepeda gila yang cari tantangan. Dan ingat, sejak pandemi, hobi bersepeda adalah salah satu yang paling meledak di dunia.

Saya yakin, tanjakan ini punya potensi jadi yang paling kondang di Indonesia. Event Kediri Dholo KOM punya potensi jauh lebih besar lagi.

Selama event, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar ternyata ikut penuh dari awal hari pertama di Surabaya sampai akhir. Istrinya, Ferry Silviana Feronica, memang gila sepeda. Saking kuatnya, Mbak Fey --sapaan akrabnya-- jadi juara perempuan kategori usia 31-40 tahun.


Istri Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Ferry Silviana Feronica, mencoba menaklukkan salah satu tanjakan Kediri Dholo KOM.

Sepanjang event, kami aktif diskusi tentang potensi-potensi di Kediri. Dan Mas Abu selalu menegaskan betapa bahagianya dia sekarang karena Kabupaten Kediri juga punya wali kota yang muda, yang enak diajak diskusi dan kerja sama untuk melangkah ke depan.

Ya, Kabupaten Kediri memang punya bupati muda. Mas Hanindhito Himawan Pramana, yang baru berusia 29 tahun dan punya wawasan luas dan modern. Sehari setelah event, saya chatting dengan Mas Bupati. Saya mengucapkan terima kasih telah diberi support dan kesempatan bikin event ini.

Saya juga minta tolong supaya tanjakan ke Dholo itu dijaga, dirawat, supaya tetap bisa jadi tempat yang indah dan ramah untuk cyclist.

Kebetulan, tanjakan dari arah Selopanggung menurut saya sudah terlalu berbahaya untuk digowes. Di satu sisi, kawasan itu kini jadi atraktif, karena ada banyak kafe di kawasan alam yang jadi tempat nongkrong idola anak muda. Di sisi lain, ramainya motor-motor ngebut naik ke atas adalah ancaman. Untuk keselamatan maupun "polusi suara" yang dihasilkan.


Kabut tebal menemani para peserta Kediri Dholo KOM menaklukkan tanjakan demi tanjakan. 

Saya berharap, tanjakan yang lewat Besuki bisa dipertahankan semaksimal mungkin keasliannya. Jadi sisi yang mengutamakan wisata lebih cinta alam. Dan semoga, ke depan ada penataan yang modern untuk pembangunan kafe, vila, atau yang lainnya.

Salah satu yang paling membuat saya sedih di Indonesia adalah ini: Banyak jalan tanjakan yang punya pemandangan indah, tapi pemandangannya tidak kelihatan. Karena justru banyak bangunan di sisi yang menghalangi pemandangan.

Sudah terlalu banyak tanjakan indah yang "kasep," yang tidak bisa lagi diselamatkan pemandangannya. Nah, mumpung belum kasep, semoga saja kelak tanjakan menuju Dholo itu tetap dijaga.

Bukan supaya Kediri bisa seperti Italia. Tapi supaya Kediri bisa lebih hebat dari Italia. Semoga... (azrul ananda)

Galeri Foto KAI Kediri Dholo KOM Challenge 2021 bisa di lihat di sini

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 67

Foto-Foto: Dewo Pratomo / Agus Wahyudi / Dika Kawengian


COMMENTS