Saya tidak akan bicara soal plus minus rim brake versus disc brake. Saya akan banyak menyinggungnya di seri ketiga review Sensah ini, tapi untuk pembahasan detailnya harus di topik tersendiri secara lebih komprehensif.

Dan bicara soal rem, Sensah tidak membuat rem. Harus berkali-kali ditegaskan, Sensah hanya membuat shifter, front derailleur (FD), dan rear derailleur (RD). Jadi, kalau memakai grupset Sensah Empire Pro 12-speed (atau 11-speed, atau 10-speed), kita harus menentukan sendiri pilihan remnya. Mau merek apa, mau harga berapa.

Di tulisan ini, saya akan membahas pilihan rem pada dua sepeda Wdnsdy Aluminati yang jadi test mule. Satu rim brake, satu disc brake. Cerita tentang kesan-kesan dan pengalaman, lalu berharap bisa memberi wawasan dan pilihan-pilihan yang harus Anda buat kalau ingin memakai grupset Sensah.

RIM BRAKE
Waktu mini grupset Sensah Empire Pro 12-speed saya pertama datang, pesanan rem dan crank dari Aliexpress belum sampai. Jadi saya memasang kaliper rim brake yang nganggur di rumah. Kebetulan, he he he, kaliper rem Shimano Dura Ace 9100.

Curang? Ya. Karena sepasang remnya harganya hampir sama dengan mini grupsetnya. Tapi, minimal hari-hari pertama saya pakai Sensah saya tidak dibingungkan oleh rem. Saya bisa fokus pada pengalaman memakai shifter dan FD-RD-nya.

Akhirnya, paket komponen tambahan dari ZRace datang. Hati-hati kalau pesan dari Aliexpress. Kadang walau pesan di satu penjual, pesanan kita tidak datang bersamaan. Ada bagian pesanan saya yang sudah dua bulan ini belum sampai!

Rem yang saya pasangkan adalah rem ZRace BR001. Tergolong sangat murah, tidak sampai USD 20 sepasang. Sebagai pengingat, kalau Anda pesan kaliper rem harga serupa, walau mereknya beda-beda, sebenarnya rem-rem itu sama. Tinggal pilih beli dari penjual yang mana dan pakai merek apa.

Apakah saya tidak takut memakainya? Terus terang, awalnya sempat ragu. Rem adalah urusan keselamatan. Dan saya gowesnya suka naik turun gunung. Di sisi lain, saya termasuk goweser lama, kenyang pengalaman turun seram pakai rim brake di saat hujan. Jadi, saya tahu kapan harus berani di turunan, kapan harus hati-hati.

Ketika memasang kaliper itu, langsung ada masalah. Lubang barrel adjuster-nya lebih besar dari rem kebanyakan. Akibatnya, kabel outer-nya sering "tembus" lubang barrel adjuster. Rem jadi serasa ngeblong, karena outer kabelnya bablas saat rem ditarik.

Ada dua pilihan. Beli brake barrel adjuster baru, yang harganya murah. Atau, mengakali yang ada. Kami mengakalinya dulu. Yaitu dengan memasang penahan pada ujung kabel outer, supaya tidak bablas menembus lubang saat rem ditarik. Beres. Mayoritas dari 1.000 km saya pakai grupset ini tanpa masalah.

Performa rem memang tidak sehebat Dura Ace (ada harga ada barang), tapi juga tidak buruk. Saya pernah punya rem karbon buatan Jerman yang super ringan dan super mahal, performanya jauh lebih mengerikan dari rem dari Aliexpress ini.

Oh ya, saya mengganti brake pad (kampas rem) dengan milik Shimano. Karena bawaan aslinya terlalu lunak, sangat gampang habis.

Jadi, kalau mau pakai rem ZRace, ZTTO, atau sejenis, pastikan dua hal: Ganti kampas rem (tidak mahal). Ganti brake barrel adjuster atau akali dengan ganjal (juga tidak mahal). Brake barrel adjuster-nya sendiri tidak berfungsi, jadi pastikan setelan rem pas sejak awal. Di sini pentingnya mekanik yang berpengalaman!

Kalau Anda ragu, beli saja rem Shimano 105, Tiagra, atau bahkan Sora. Mungkin lebih sederhana setelannya, dan harganya juga tidak jauh lebih mahal.

DISC BRAKE
Pada Wdnsdy Aluminati Disc, saya punya beberapa opsi rem. Bisa full mekanikal memakai TRP Spyre, mencoba mekanikal/hydraulic hybrid yang termurah dari ZRace. Atau, beli yang lebih mahal-mahal seperti buatan JuinTech.

Saya putuskan pakai ZRace BR002 dulu, menjajal opsi termurah. Mekanisme hydraulic-nya ada di dalam kaliper. Tidak sampai USD 50 sepasang. Mekanik kami sempat bilang ini uji nyali. Tapi saya ingin merasakannya, supaya tahu betul perbedaan rasanya. Sama seperti rim brake, ada banyak merek lain harga serupa di Aliexpress (atau marketplace kita). Semua pada dasarnya sama hanya beda merek.

Seperti sepeda-sepeda lain, saya memasang rotor 160 mm depan dan belakang. Pastikan adaptornya pas, khususnya bagian fork. Karena bentuk kalipernya kotak. Untuk rotornya, walau saya beli punya ZRace, saya terpaksa pakai merek Prime (dari Inggris) yang lebih high end. Alasannya, wheelset yang saya pakai (Vision Trimax KB30) adalah model centerlock. Sementara rotor dari ZRace dan kebanyakan merek murah lain adalah 6-bolt.

Secara mengejutkan, memasangnya tidak banyak drama. Jauh lebih mudah dari memasang yang rim brake! Praktis langsung berfungsi.

Performanya? Terus terang, memang jauh dengan full hydraulic. Apalagi belakangan saya sering pakai Shimano GRX gravel, yang menggunakan teknologi servo wave. Mengeremnya kuat, tapi nyaman dan halus. Proses mengeremnya progresif tidak langsung menggigit.

Terus terang, menurut saya, performanya mirip dengan rim brake. Dan itu baik-baik saja. Yang penting pengalaman menggunakannya saat turunan. Tidak terus menahan rem, tahu cara modulasi, tahu cara bergantian rem depan dan belakang dalam menahan laju sepeda.

Catatan khusus, semua disc brake butuh perhatian lebih secara berkala. Mahal atau murah sama saja. Pastikan kampasnya aman, dan lakukan cek rutin sebelum ride. Ini mengapa saya masih mencintai rim brake, saya bisa tahu kondisi rem hanya dengan melihatnya dengan kasat mata.

Opsi TRP Spyre, walau full mekanikal, memang terasa lebih "menggigit." Ada yang menyarankan, saya memakai JuinTech dari Taiwan. Ada versi dua piston atau empat piston, yang memberi performa super. Tapi melihat harganya, malah jadi jauh lebih mahal. Bahkan remnya saja bisa lebih mahal dari mini grupset Sensah! Kalau begitu, apa tujuan beli grupset terjangkau? Kenapa tidak sekalian beli grupset yang full hydraulic?

IN CONCLUSION
Sebagai rangkuman, sebagai penghobi lama yang doyan koleksi sepeda dan ingin hobi ini semakin besar, saya senang dengan adanya opsi grupset dari Sensah. Baik itu yang 12-speed seperti yang saya jajal, maupun yang 11-speed atau bahkan yang 10-speed.

Sejak pandemi, saya sangat bahagia tiba-tiba jumlah pesepeda jadi booming. Tapi, saya sangat kurang bahagia ketika harga-harga jadi melambung. Yang mampu mungkin tidak masalah. Tapi, melambungnya harga itu, khususnya pada grupset, justru membentuk barrier of entry (penghadang) bagi lebih banyak lagi orang yang ingin bergabung.

Beberapa tahun lalu, SRAM "naik kelas" dan memfokuskan diri pada teknologi wireless. Shimano, raja pasar grupset, bukan sekadar melambung harganya karena ketidakseimbangan supply dan demand. Mereka juga baru merilis Dura Ace dan Ultegra 12-speed baru, yang harganya juga semakin ke atas. Saya tidak ingin menyalahkan Campagnolo, karena produsen dari Italia itu sejak lama memang sudah fokus pada pasar lebih high end.

Hadirnya pemain seperti Sensah saya anggap penting untuk industri sepeda. Memecah barrier of entry, bisa mengundang lebih banyak orang menikmati olahraga yang saya cintai ini.

Mungkin, produk-produk awalnya belum ideal. Mungkin, yang sekarang pun belum optimal. Namun, seperti hal-hal di industri lain, semua seharusnya akan membaik bukan? Jangan-jangan, beberapa tahun lagi, Sensah bisa mengalahkan tiga besar grupset itu.

Dulu, mobil Korea diremehkan. Sekarang dianggap sepadan. Mobil Tiongkok sekarang menuju papan atas. 

Intinya, jangan pernah meremehkan apa pun. Dan buat cyclist, apa pun yang terpenting adalah pengalaman gowesnya bukan? Apakah Anda layak disebut cyclist kalau hanya mengutamakan gengsi merek, lalu gowesnya hanya putar-putar pendek lalu ngopi? (azrul ananda/habis)

Podcast review Grupset Sensah Empire Pro 12-Speed


Sensah Empire Pro 12-Speed di tanjakan


COMMENTS