Penghobi sepeda belum tentu penggemar balap sepeda. Itu tidak apa-apa. Tapi kalau ada satu lomba yang SEMUA penghobi wajib menonton, maka balapan itu bukanlah Tour de France, bukanlah Giro d'Italia, juga bukan kejuaraan dunia. Balapan yang wajib ditonton hanya satu hari. Yaitu PARIS-ROUBAIX. Ada banyak manfaatnya.

Tahun ini, balapan itu geser ke Oktober, akhir pekan ini. Sabtu ini (2 Oktober) adalah balapan perempuan (untuk kali pertama dalam sejarah!). Minggu-nya (3 Oktober), adalah balapan utamanya. Di Indonesia, Sabtu dan Minggu malam kita bisa menonton via kanal Eurosport bagi yang punya akses. Atau lewat GCN app.

Normalnya, Paris-Roubaix ini berlangsung di bulan April. Sebagai puncak dari serial Spring Classics, balapan-balapan one day yang mendebarkan di kawasan Belgia, Belanda, dan Prancis. Paris-Roubaix merupakan salah satu dari lima balapan "Monument," bahkan mungkin Monument yang paling penting. Julukan lain balapan ini: Queen of the Classics dan Hell of the North.

"Neraka Utara" adalah nama yang pas. Karena lomba ini memang menempuh rute menuju utara. Roubaix adalah sebuah kota kecil di ujung utara, di perbatasan Prancis dan Belgia. Lomba akan berakhir di velodrome kuno di Roubaix. Seperti stadion terbuka dengan permukaan dari beton.

Azrul Ananda (paling kiri) saat di Velodrome Roubaix

Paris-Roubaix tahun ini adalah edisi ke-118. Sudah rutin berlangsung lebih dari satu abad. Hanya beberapa kali terhenti. Karena Perang Dunia plus pandemi. 

Gara-gara Covid-19, lomba ini sudah tertunda dua kali. Kali terakhir berlangsung pada April 2019. Lomba 2020 dibatalkan, lomba 2021 dimundurkan ke Oktober. Bukan lagi balapan musim semi (Spring), tapi balapan musim gugur (Fall). Tahun depan, kalau situasi membaik, lomba ini akan kembali berlangsung di bulan April.

Mengapa penghobi sepeda wajib nonton?

Satu, karena lomba ini akan menegaskan bahwa sepeda adalah olahraga yang sangat berat, menantang ketangguhan kita sebagai manusia. Lombanya memang hanya satu hari. Tahun ini, yang laki-laki akan menempuh jarak 258 km. Dari total jarak itu, 50-nya adalah jalanan berbatu kasar, terbagi dalam 30 sektor. Mayoritas yang terkejam ada pada 100 km terakhir lomba.

Jalanan cobbles di Sektor Arenberg

Bagi yang tidak familiar, cobbles (batu-batunya) beda dengan jalanan paving perumahan di Indonesia. Beda juga dengan gravel yang sekarang sedang ngetren. Jalanan cobbles merupakan jalanan kuno berbatu. Sangat tidak rata, dengan permukaan batu yang licin, dan sela-sela batu yang bisa menjerumuskan.

Kebetulan, saya dan sejumlah teman dari Indonesia pernah "tur" jalanan berbatu di Belgia, dan mampir ke Roubaix, beberapa tahun lalu. Gowes di atas cobbles benar-benar beda sensasinya. Seperti dipukul-pukul halus, kadang dipukul keras, dari bawah. Ketika menanjak tidak terlalu menyiksa, hanya perlu hati-hati memilih jalur. Kalau turunan menyeramkan. Kalau datar sangat menyakitkan! Apalagi datar melaju kencang. Mata bisa buram karena kacamata terus goyang, semua bagian tubuh kita terguncang atau bergetar.

Kalau basah? Lebih seram lagi. Beberapa dari kami jatuh karena tergelincir batu licin. Dan tahun ini, balapan disebut bakal berlangsung basah!

Ingat, itu semua harus dilewati menggunakan road bike. Bukan gravel bike. Dulu, ketika ban 21 dan 23 mm masih normal, pembalap melewati Paris-Roubaix pakai ban 25 mm. Sekarang, di saat 25 mm normal, banyak yang memilih pakai ban 28 atau 30 mm. Bahkan 32 mm.

Tim Jumbo-Visma mulai menjajal rute menjelang Paris-Roubaix 2021

Ketangguhan ban dan wheelset merupakan yang utama. Saat era tubular berkuasa, ban khusus buatan FMB Prancis jadi idola para pembalap. Sekarang, banyak memakai tubeless. Dipompa hanya 45 hingga 75 psi, tergantung pembalapnya.

Berbagai frame khusus juga dibuat untuk medan ini. Specialized punya Roubaix, Trek punya Domane, Pinarello punya Dogma K, dan Cannondale punya Synapse. Banyak yang bereksperimen dengan fitur-fitur peredam kejut. Walau sekarang frame-frame road "normal" bisa dipakai, karena rata-rata sudah bisa dipasangi ban hingga 30 mm (karena pakai disc brake).

Balapan ini memang tidak punya tanjakan, tapi rute bebatuannya lebih kejam dari tanjakan apa pun.

Lewat Paris-Roubaix, penghobi juga bisa memahami berbagai jenis "bodi" pembalap sepeda. Sudah bukan rahasia, kalau climber biasanya kecil-kecil atau kurus-kurus. Paris-Roubaix menuntut pembalap yang berbodi besar dan kuat. Yang kecil dan kurus bakal terpental-pental di atas bebatuan.

Peter Sagan (Bora-Hansgrohe) saat tampil di Paris Roubaix 2019

Tak heran, juara-juaranya biasanya adalah para strong man balap sepeda. Bertinggi badan 180 cm atau lebih dan kekar-kekar. Sebut saja dulu Fabian Cancellara, Tom Boonen, juga Peter Sagan.

Pelajaran lain yang semua penghobi bisa dapatkan: Lomba selegendaris ini tidak bisa bertahan hanya karena pemerintah, federasi, atau sponsor-sponsornya saja. Butuh keterlibatan masyarakat langsung.

Tidak mudah mempertahankan rute-rute berbatu di tengah kemajuan zaman. Kalau ini di negara kebanyakan, jalan-jalan legendaris Paris-Roubaix itu pasti sudah dimuluskan dan diaspal.

Namun, masyarakat pedesaan dan kota-kota kecil yang dilewati oleh lomba membentuk komunitas untuk menjaga "kerusakan" di jalanan-jalanan itu. Mereka adalah Les Amis de Paris-Roubaix (teman-teman Paris-Roubaix). Mereka berjuang karena sadar pentingnya dampak ekonomi lomba tersebut bagi masyarakat di kawasan-kawasan yang dilewati.

Secara gotong royong, mereka menjaga dan merawat kondisi jalan agar tetap rusak, tapi tetap bisa dilewati lomba. Jadi boleh rusak, tapi jangan terlalu rusak! Mereka dibantu pula oleh para mahasiswa jurusan pertanian di sekitar kawasan tersebut.

Jalanan yang dilalui Paris-Roubaix mulai dibersihkan setelah lebih dari dua tahun tak dipakai balapan

Tahun ini, mereka harus bekerja ekstra keras. Maklum, sudah dua tahun lebih berlalu sejak lomba terakhir kali berlangsung. Bagian yang paling butuh pembenahan adalah salah satu yang paling menyeramkan bagi pembalap. Yaitu The Trouee d'Arenberg, alias jalanan berbatu yang membelah hutan Arenberg. Saking lamanya tidak dilewati, bebatuannya harus dibersihkan, rumput-rumput liarnya harus dipotongi dan dirapikan.

"Jalanan bebatuan ini sudah tidak dipakai balapan selama 900 hari, jadi mereka sangat hijau, dengan rumput liar di mana-mana. Jadi kami harus melakukan pembersihan besar-besaran di sepanjang rute," ujar Thierry Gouvenou, race director Paris-Roubaix, kepada media-media lokal.

Asal tahu saja, di jalanan berbatu kasar sekitar 2,5 km di Arenberg itu, para pembalap bisa melaju sekitar 60 km/jam! Aduh kejamnya!

Nah, bagi penghobi sepeda, cobalah luangkan waktu menonton Paris-Roubaix akhir pekan ini. Anda bisa lebih memahami hobi ini lebih dalam. Lebih "merasakan" elemen siksaan dan tantangan fisiknya!  (azrul ananda)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 58

Foto: Bettini, Jumbo-Visma, Dokumentasi Azrul Ananda


COMMENTS