Madura Trihandret 2020: Gowes 300 Km Tak Sampai 12 Jam

Sekelompok teman gowes di kawasan Surabaya baru saja menuntaskan rute ultra dengan waktu begitu cepat Sabtu lalu (18 Juli). Sekitar 30 cyclist, dari berbagai komunitas, mampu mengelilingi Pulau Madura sejauh 300 km dalam waktu tak sampai 12 jam. Itu termasuk masa istirahat dan makan!

Acara gowes terbatas itu diberi judul Madura Trihandret 2020, mencoba mengulangi acara serupa pada 2017 lalu. Start-nya di sebuah restoran di Bangkalan, dekat Jembatan Suramadu, lalu memutari Pulau Garam untuk kembali finis di situ.

"Ide mengulangi rute ini dari 'Abah' Asril Adenan. Lalu kami mengajak peserta lain, menyeleksi siapa yang ikut. Pertama untuk keselamatan, kalau lebih kenal akan lebih saling menjaga di tengah pandemi ini. Kedua untuk memastikan pace bisa sesuai jadwal, tidak ada peserta yang menghambat laju," tutur Azrul Ananda, yang dijuluki "kepala sekolah."

Azrul Ananda ketika memberikan briefing sebelum gowes dimulai.

Azrul menjelaskan, semua peserta memang diminta selalu ingat protokol kesehatan. Membawa masker atau buff, memakai setiap kali memungkinkan. Tidak ada salaman tangan, saling menjaga satu sama lain. Membawa hand sanitizer mini, rajin cuci tangan saat stop. Mobil dan motor pengawal pun sangat dibatasi jumlahnya.

Menurut Asril Adenan, acara gowes ini memang harus ketat timetable-nya. Semua bisa gowes 300 km, tapi tidak semua bisa disiplin mengatur waktu sehingga bisa memenuhi target waktu finis.

"Kami ingin menyelesaikan rute sebelum matahari terbenam. Itu berarti harus selesai dalam waktu tidak sampai 12 jam. Disiplin dan efisiensi jadi kunci. Khususnya dalam pacing kecepatan dan menata waktu istirahat," ujarnya.

Cyclist berusia lebih dari 70 tahun, Go Suhartono, menjalani rute dengan face shield.

Rombongan kecil ini berangkat tet pukul 06.00. Menuju utara lalu belok ke timur. Target rest stop pertama adalah Pantai Slopeng, pada km 132 di kawasan ujung timur Madura. Hanya ada drink stop singkat untuk mengisi bidon pada km 75.


Peserta berhenti sejenak untuk mengisi bidon sebelum km 75.

Para peserta disiplin berpeloton dua-dua, bergantian maju ke depan untuk menarik rombongan. Speed ditata tidak lambat, tapi juga tidak terlalu cepat di rute yang relatif cukup datar itu. Kisaran 35 km jam tapi terus melawan angin.

Hingga Pantai Slopeng, target waktu terpenuhi. Hanya butuh 4 jam dan 15 menit untuk sampai di sana. Kemudian istirahat 35 menit, makan secukupnya dan kembali mengisi suplai. Setelah itu, gas lagi ke arah Sumenep, ke Selatan untuk kembali belok ke arah barat.


Rombongan tiba di Pantai Slopeng Sumenep.

Cyclist senior asal Madura, Tonny Budianto Tanadi, menyediakan makanan enak untuk teman-teman. "Nasi Serpang khas Madura," ungkap pria 63 tahun namun sangat rajin dan kuat gowes itu.

Rute setelah Slopeng ini termasuk paling berat. Ada tanjakan pendek tapi agak curam, kemudian rute dari Sumenep ke arah barat terus rolling naik turun. Pada km 177, kelompok ini rest sebentar di sebuah mini market. Lalu tancap gas lagi menuju Sampang. Tempat makan siang (late lunch) memang direncanakan di sana.

Pukul 14.30, setelah menempuh 239 km, rombongan tiba di Depot Kaldu Al Ghazali di Sampang. Depot ini sering jadi tujuan cyclist Surabaya, karena terkenal dengan Sop Dengkul Sapi-nya yang dahsyat.


Kali ini, semua peserta ditraktir oleh Dietmar Dutilleux, cyclist asal Belgia yang tinggal di Surabaya. Kebetulan, sehari sebelum gowes, dia merayakan ulang tahun istimewa. "Ulang tahun peralihan dari era 4.9 ke 5.0," katanya.

Dietmar Dutilleux (kanan) ikutan Madura Trihandret 2020.

Pas satu jam kemudian, rombongan berangkat menuju finis lagi di Restoran Suramadu. Hanya 61 km tersisa, rencananya dilahap tanpa stop sama sekali. Walaupun harus melewati rute paling berat dari sepanjang perjalanan, rolling hills di kawasan Blegah.

Rombongan sempat terpecah, tapi semuanya lancar menuju finis. Nyaris semua mampu beat the sun alias mengalahkan matahari terbenam. Menuntaskan rute dalam waktu hanya 11,5 jam.

Ya, sekitar pukul 17.30 hampir semua peserta sudah mencapai finis. Kecepatan rata-rata (moving time) di kisaran 31,5 km/jam. Waktu riding time di kisaran 9,5 jam, yang berarti total istirahat dan makan hanya dua jam.

Tentu saja, tidak mudah melahap rute sejauh itu. Endurance dan "kebetahan" di atas sadel sangat ditantang. Kekompakan juga penting. Bila ada yang masalah selalu ada teman menunggu dan mendampingi. Azrul sendiri sempat kram di Blegah, namun ditunggui beberapa teman lalu melaju mencoba mengejar lagi peloton utama di depan.


Yang harus diacungi jempol adalah Faisol Arif dan Tatang Marthadinata. Faisol sebenarnya mengalami masalah perut beberapa hari sebelum acara. Dia mencoba ikut, dan tetap menuntaskan rute walau tidak bisa melaju bersama peloton utama. Bersama Tatang, Faisol finis sekitar satu jam setelah yang lain.

"Sayang kalau tidak finis. Kapan lagi bisa ikut gowes 300 km," kata pria yang pernah meraih juara 1 kelas Brompton di Herbana Bromo KOM Challenge 2020 lalu.

Para finisher foto bersama. 

Usai acara, para peserta mengaku sangat lega bisa menuntaskan rute seru ini. Lebih puas lagi karena bisa menyelesaikannya secara aman dan sesuai target waktu. "Ini experience yang tidak mungkin dilupakan anak-anak," kata Berry Cornelis, yang ikut bersama beberapa teman dari Free Bike Indonesia.

Bang Berry, sapaan akrabnya, juga punya pesan buat teman-teman gowes lain yang ingin melakukan acara serupa. "Kalau feedback dari teman-teman, kalau even yang jauh-jauh begini, speed-nya harus bisa konstan supaya semua bisa finis dengan happy," pungkasnya. (mainsepeda)


Episode Kelima Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray: Apa Upgrade Sepeda Paling Penting?



Audionya bisa didengarkan di sini

Foto: Rizky/Aprian, Pramadi Wardhana


COMMENTS