Percayalah, Jangan Ambisi Jadi Juara di Turunan (Descending)
by - February 13, 2020
Percayalah, Jangan Ambisi Jadi Juara di Turunan (Descending)
by Azrul Ananda - February 13, 2020

Semakin banyak event bersepeda diselenggarakan di Indonesia. Semakin banyak cyclist suka tantangan menanjak. Di sisi lain, cerita cyclist terjatuh juga terus bermunculan. Dan seringkali terjadi saat sedang di turunan. Alias sedang descending.

Seorang penyelenggara event rutin pernah bilang: "Kalau ada kecelakaan, 80 persennya justru terjadi saat di turunan."

Berdasarkan pengalaman, banyak pesepeda memang paling bahagia saat di turunan. Termasuk saya sendiri. Kecepatan bisa tinggi tanpa harus keluar tenaga mengayuh pedal. Apalagi ada keasyikan tantangan meliuk-liuk apabila rutenya berkelok-kelok.

Bagi mereka yang berbadan besar atau berat, descending/turunan ini juga seperti menjadi "hadiah." Bonus seru setelah bersusah payah di tanjakan.

Sering saya mendengar komentar ini dari teman-teman yang sering struggle di tanjakan: "Saya harus ngebut di turunan untuk mengejar ketinggalan di tanjakan."

Teman-teman semua, pembaca yang budiman, itu adalah ucapan yang sangat berbahaya. Dan ucapan-ucapan seperti itu yang sering mengakibatkan terjadinya kecelakaan di turunan.

Saya ingin cerita pengalaman waktu gowes dengan beberapa teman di kawasan Aspen, Colorado, pada 2013. Waktu itu kami masih relatif pemula, namun bersemangat ketika ada kesempatan gowes bareng Rapha dan Team Sky (sekarang Team Ineos). Sebuah kesempatan emas bertemu Chris Froome yang saat itu kali pertama jadi juara Tour de France.

Rute setiap hari selalu naik dan turun, jarang datar.

Semua cyclist tahu: Sepeda mempertemukan kita, tanjakan memisahkan kita. Jadi, setiap hari rombongan selalu terpecah-pecah, jauh dari satu sama lain. Yang dimaksud gowes dengan Team Sky hanyalah start bersama. Begitu dimulai, langsung terpisah sejak kilometer pertama!

Seorang sahabat saya, yang waktu itu menanjaknya selalu di grup belakang, mencoba memburu yang lain saat turunan. Jalanan meliuk-liuk. Saya agak di belakang, tapi kemudian saya melihat banyak cyclist berhenti.

Sahabat saya itu terjungkal! Kecepatan di atas 50 km/jam!

Syukurlah, dia tidak cedera berat. Hanya "kehilangan kulit" cukup luas pada salah satu sisi paha. Untung kami selalu mengenakan perlengkapan keselamatan komplet.

Rupanya, karena tidak familiar dengan rute, dia salah mengantisipasi kelokan di depan. Alhasil mengerem mendadak dan terjungkal dari sepeda.

Dan waktu itu dia juga menyampaikan alasan ini: "Saya kalah di tanjakan, jadi ingin mengejar ketinggalan di turunan."

Karena dia tidak cedera parah, kami memang bisa bercanda tentang kejadian itu. Candaan kami khususnya seputar besarnya biaya "kerusakan" barang yang dia alami gara-gara terjatuh itu.

Sepatu limited edition babras. Bib short, jaket angin, helm, sarung tangan, sobek semua. Plus ada bagian-bagian sepeda yang harus diganti. Berdasarkan hitungan kami: Nilai kerusakan mencapai lebih dari USD 1.500.

Tapi sekali lagi, kami bersyukur dia tidak cedera lebih parah.

Dalam pengalaman ikut event-event massal di Indonesia, atau saat gowes bareng-bareng, kejadian-kejadian saat turunan ini beberapa kali saya temui. Bisa karena skill handling yang belum mumpuni. Bisa karena tidak biasa gowes lama, sehingga tangan pegal menahan rem. Bisa karena tidak biasa turunan panjang, sehingga rim roda pecah gara-gara kepanasan terus direm.

Saya pribadi pernah melebar saat turunan karena rim depan pecah. Padahal merek wheelset-nya termasuk paling ternama. Untung banyak rerumputan, jadi tidak terguling ke aspal.

Dan, yang paling klasik kalau gowes di Indonesia: Ada pasir yang membuat sepeda terpeleset. Ada lubang yang membuat sepeda terpental. Atau, ada binatang seperti kucing, anjing, bahkan ayam menyeberang yang membuat sepeda terpental atau melebar mencoba menghindari.

Pernah juga, ada bola plastik tiba-tiba melintas saat turunan, gara-gara di sebelah ada lapangan dan isinya anak-anak bermain sepak bola!

Intinya, ada terlalu banyak variabel yang membahayakan saat turunan panjang. Apalagi di negara seperti Indonesia.

Janganlah mencoba meniru para pembalap di ajang WorldTour seperti Tour de France. Mereka semua bisa hajar-hajaran di turunan karena jalannya kosong dan steril!

Jadi, berdasarkan pengalaman pribadi saya gowes, jangan memaksakan diri di turunan. Lakukan descending sesuai dengan ketenangan hati masing-masing. Jangan mudah terpancing oleh teman yang lebih cepat.

Ingat, di arena balap road cycling pun tidak ada istilah juara turunan. Adanya juara sprint di jalan datar atau juara tanjakan alias King/Queen of the Mountain!

Jangan kapok main sepeda, tapi safety tetap nomor satu! (azrul ananda)

Foto-Foto: Dewo Pratomo 


COMMENTS