Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menawarkan tantangan bagi Anda yang doyan medan naik-turun, alias rolling. Kontur alamnya yang perbukitan, membuat Kupang memiliki banyak tanjakan. Salah satu rintangan terberat ada di Gunung Fatuleu. Tingkat kemiringannya menembus 22 persen.

Indra Rama, salah satu anggota Kupang Road Cycling (KRC) bercerita, Kupang memiliki banyak gunung-gunung kecil dengan elevasi tinggi. Tingkat kemiringannya beragam. Mulai dari 5 persen hingga 22 persen. Tipikal medannya adalah rolling. Sangat cocok bagi cyclist yang gemar mendaki.

“Itulah yang membuat cyclist Kupang tipikal anak-anak rolling semua. Kalau mau cari yang mendatar malah susah. Jadi ketika di tanjakan panjang, kami keteteran. Di medan yang membutuhkan kecepatan tinggi juga agak keteteran. Sebab tidak ada tempat untuk latihan. Kami memang lebih jago rolling,” cerita Indra.

Medan terberat, sekaligus tantangan utama di Kupang adalah Gunung Fatuleu. Menurut data dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Kupang, Gunung Fatuleu tingginya 875 meter di atas permukaan laut. Letaknya Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu. Sekitar 60 kilometer dari arah timur Kota Kupang.

Ada dua tanjakan berat di Gunung Fatuleu. Tanjakan pertama ada di kilometer ke-11 setelah pintu masuk kawasan Gunung Fatuleu. Tingkat kemiringannya mencapai 22 persen. Panjangnya sekitar 200 meter hingga 300 meter. Rintangan kedua berada di 500 meter menjelang puncak Gunung Fatuleu.

“Di sana ada sebuah tanjakan dengan tingkat kemiringan mencapai 20 persen. Panjangnya 600 meter. Ini medan terberat,” sebut bapak dua putra itu, Senin (14/10).

Sebagai komunitas road bike terbesar di Kupang, KRC gencar mengajak komunitas sepeda lain untuk bersama-sama menikmati tanjakan di Gunung Fatuleu. Awal Oktober lalu, dalam rangka merayakan hari jadi kedua, KRC mengundang delapan cyclist dari Surabaya untuk gowes bersama. Menu utamanya tentu saja Fatuleu. 

Agenda itu dilaksanakan selama dua hari, 5-6 Oktober 2019. Total pesertanya 60 orang. Selain cyclist dari Surabaya, KRC juga mengajak salah satu komunitas MTB (Mountain Bike), yakni Kupang Cycling Club (KCC). Gowes hari pertama digeber dengan titel ‘Fatuleu Challenge’.

Sesuai dengan judulnya, peserta gowes ‘disiksa’ di tanjakan Gunung Fatuleu. Jarak tempuhnya 110 kilometer. Selain tanjakan, cyclist juga dihajar oleh cuaca panas Kota Kupang. Suhunya mencapai 39 derajat celcius. Meski berat, dan panas, rintangan menuju Gunung Fatuleu berhasil diatasi.

Gowes pada hari kedua berlangsung lebih santai. Hanya berkeliling kota. Jaraknya sekitar 40 kilometer. Start dari penginapan, dan finisnya di RM Tanjung. “Kami membawa teman-teman untuk berkeliling kota. Berfoto-foto di ikon kota, dan pemandangan alam,” ucap alumnus Universitas Kristen Petra, Surabaya itu. 

Kupang sebenarnya memang punya jalur flat yang cocok untuk mengadu kecepatan. Tapi tak begitu populer. Lokasinya di Oesao, Kecamatan Kupang Timur. Jaraknya sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Kupang. Tetiba di sana, Anda bisa menikmati kebun bunga matahari yang sedang tenar di Kupang. 

Jika tertarik datang ke Kupang, Indra menyarankan untuk gowes saat musim kemarau. Sebab, Anda bisa menyaksikan rerumputan berwarna kekuningan. Persis seperti di padang savana Afrika. Jadi, yuk gowes ke Kupang.

Foto: Kupang Road Cycling

Populer

Strade Bianche 2026: Tadej Pogacar Lampaui Rekor Cancellara
Preview Paris-Nice 2026: Ujian Pertama Vingegaard, Juan Ayuso Bisa Jadi Kuda Hitam
Nggravel Blitar 2026: Rekomendasi Hotel dan Moda Transportasi
Pogacar Berambisi Juara Strade Bianche Keempat Kali, Pembalap 19 Tahun Jadi 'Kuda Hitam'
Cyclist Favorit: Chef Nando Mengulik Kekayaan Kuliner Nusantara Melalui Bersepeda
Kisah LeBron James dan Kecintaannya pada Sepeda
UCI World Championship 2025: Pogacar Back to Back Juara Dunia Road Race
Tips Memperkuat Otot dengan Gym
Sempat Kram tapi Natascha Oking Tetap Kejar Finis
Bentang Jawa Lunas