Tahun 2015, sekolah SMA Katolik Santo Aloysius Bandung mengadakan acara fun bike. Panitia mencari bantuan dari para alumnus yang hobi bersepeda agar bersedia menjadi marshal di acara itu.

Tak diduga ternyata banyak juga alumnus Santo Aloysius yang hobi gowes. Akhirnya, Yoga Pujiraharjo, salah satu panitia membentuk grup Whatsapp dengan nama Top Cycling Club untuk mempermudah kordinasi.

Selesai dan sukses dengan acara fun bike itu, anggota whatsapp Top Cycling Club tidak membubarkan diri. “Mereka terlanjur cocok satu sama lain dan mereka senang karena bisa reuni sambil menjalani hobi yang sama. Jadilah grup Whatsapp itu tetap eksis dan dideklarasikan sebagai komunitas sepeda,” tutur Kodiat Siantan, ketua TCC yang menjabat sejak 2018.

Tepat tanggal 7 Agustus 2015 dijadikan sebagai hari jadi dan Yoga dinobatkan menjadi founder dari TCC. “Waktu awal berdiri anggota TCC ada 10 cyclist saja. Sekarang sudah 187 cyclist. Terbagi dari alumni Santo Aloysius maupun cyclist non alumnus,” bilang Randy Leonard, wakil ketua TCC.

TCC tidak membatasi anggota menggunakan road bike atau sepeda jenis lainnya. Buat anggota yang suka gowes offroad dengan MTB biasanya gowes ke daerah Dago Bengkok. Dan finis di Lembang.

Begitu pula dengan anggota TCC yang gemar berpacu kecepatan dengan road bike, biasa berkumpul di jalan Nyland Bandung dan gowes ke Lembang. “Tiap akhir bulan kita adakan endurance ride sejauh 100 km. Bisa rute Bandung ke Sawit Wanayasa. Atau Bandung ke Waduk Cirata. Bisa juga ke Lingkar Nagrek,” tutur Randy.

Dalam sebuah komunitas pasti ada “bintangnya”. Dan di TCC yang menjadi “bintang” adalah trio Italiano. Mereka adalah Rendy Aditya, Alfons Kurniawan, dan Adam Sadhani. Disebut begitu, karena mereka selalu dandan totalitas bernuansa Italia.

Bisa merek asal Italia atau warna khas Italia mulai dari jersey, helm, dan kacamata. “Selain itu kami juga suka menggunakan atribut yang matching dengan warna sepeda kami,” imbuh Adam lantas tertawa.

Anggota TCC ini meskipun mayoritas dari alumni Santo Aloysius, tapi dari berbagai usia dan angkatan. Kodiat sebagai ketua mempunyai misi membuat TCC tetap rukun dan guyub.

Komunitas yang pernah mendapatkan IATOP Award 2017 sebagai klub terbaik dari beberapa klub Alumni Santo Aloysius Bandung ini mengadakan jadwal turing rutin dua kali dalam setahun. Charity Ride Touring dan Anniversary Ride Touring.

“Dengan adanya dua even besar ini, diharapkan setiap anggota akan saling komunikasi sehingga bisa lebih dekat satu sama lain. Dan jadi makin akrab,” tegasnya.

Selain dua agenda tetap itu, banyak anggota TCC yang mengikuti even gowes seperti Bromo KOM Challenge, GFNY Bali dan Samosir, Gran Fondo Solo, Tour de Ambarukmo, Tour de Borobudur, even KGB Jakarta, Etape Pasundan, dan lainnya

TCC juga kerap mengadakan acara family gathering. Di acara ini diijinkan membawa anak dan istri. “Family bonding juga sangat penting untuk memperkokoh komunitas TCC,” harap Kodiat.

TCC mempunyai visi meramaikan industri dan komunitas sepeda. Tentu dengan menggandeng komunitas sepeda lainnya. Saat mengadakan Anniversary Ride ulang tahun ketiga di Jogjakarta tanggal 25 Agustus 2018, TCC mengajak JRCC (Jogja Road Cycling Community) untuk ride bersama.

Juga even Charity Ride, TCC tidak sendiri. Turing panti asuhan Santo Yusuf di Cipanas tanggal 1 Desember 2018 itu bertepatan dengan launching jersey 1st ride yellow jersey TCC. “Saat itu kami undang komunitas sepeda Bandung seperti SKS, Blacksheep, TOTAL, dan GFB,” ujar Randy.

Sedangkan setahun sebelumnya, 2017, TCC juga turing bersepeda dari Bandung ke panti jompo di Sukabumi. “Tahun 2016, charity ride kami mengunjungi salah satu SLB di Cirebon,” imbuhnya. Rudi Atip, dewan pembina TCC sangat mengapresiasi yang dilakukan oleh komunitas TCC ini. “Meskipun anggota TCC banyak yang muda tetapi mereka sudah peduli dengan sesama. Semuanya mempunyai aura positif. Badan jadi sehat, pertemanan juga sehat, jiwa juga sehat karena bisa beramal dan berbagi,” tutupnya. (yudy hananta)


COMMENTS