STORY : Me and My Bike (16)
Saya dan Pinarello, Seperti Menikah!
by - April 02, 2019

Perawakannya tegap, bicaranya tegas dan lantang dengan logat khas Sulawesi Selatan, jalannya cepat. Jangan ragukan aksinya di atas sepeda. Itulah Liem Tjong San. Puluhan tahun bergumul dengan sepeda. Akhirnya cintanya berlabuh pada merek Italia, Pinarello.

“Sepertinya itulah cinta pertama. Meskipun sepeda pertama saya bukan Pinarello, tapi impresi pertama saya adalah di atas sepeda merek Italia. Rossin!” buka San, panggilan akrabnya.

Sepeda Rossin berbahan chromoly lah jadi pembuka sepeda pertama San. Saat itu, tahun 1998, belum banyak sepeda bermerek yang dimiliki oleh pecinta sepeda Indonesia. Maklum, saat itu jalur impor masih susah. Chanel juga belum ada. Belum ada era internet.

Tapi San tidak patah semangat untuk terus berburu sepeda merek unik. Beberapa toko sepeda di Jakarta dan Bandung diberi pesan bahwa apabila ada sepeda ataupun frame yang datang harus menghubungi dirinya terlebih dahulu.

“Jaman itu sangat susah. Harus adu cepat dengan pembeli lain. Jadi saya booking duluan lewat toko-toko sepeda itu,” bilang San. Pinarello pertama yang berhasil dipinang adalah tipe Titan Road warna putih mutiara.

Liem Tjong San dengan Pinarello Titan Road. 

“Itupun saya beli bekas dari teman di Jakarta, dan itu adalah Pinarello pertama saya. Ketika saya rakit dan coba. Waduh… sangat beda dengan Rossin maupun merek-merek lainnya. Ini jauh lebih mantap. Hati saya langsung klik dan jatuh cinta,” kenang San.

San iseng membandingkannya dengan Colnago yang sama-sama dari Italia, ternyata menurutnya Pinarello masih lebih unggul. “Ini subyektif sekali. Tapi inilah penilaian saya pribadi. Pinarello mantap di tanjakan, turunan, maupun datar,” pujinya.

Setelah memiliki Pinarello Titan Road, San mengincar Pinarello berbahan karbon. Lagi-lagi harus berkutat dengan toko-toko sepeda di Surabaya, Jakarta, dan Bandung.

Kali ini, San mendapatkannya dari Herman, juragan toko sepeda Bandung SA. “Herman menawari Pinarello Prince persis dengan incaran saya bahan karbon,” tuturnya.

Ketika Pinarello Prince tiba di Jakarta, San harus “bersaing” dengan penghobi lain yang kebetulan melihat frame keren itu dan ingin meminangnya. “Dia mau beli dari saya, tapi tidak saya lepas karena menunggunya cukup lama,” kenang San.

Berburu Pinarello makin menggila setelah Titan Road dan Prince mengisi garasi San di kediaman di kawasan jalan Sumba, Makassar. Seingat pria berusia 62 tahun ini, koleksi Pinarello nya mencapai 12 buah. Seri Dogma, San memiliki lengkap. Mulai Dogma 1 hingga F10.

“Sudah banyak yang saya jual. Tapi satu yang paling menyesal yaitu Titan sudah terjual juga. Ingin saya beli balik. Ini sedang saya lacak pembelinya,” bilang San sambil tertawa.

Selain Titan sebagai sepeda Pinarello pertama, seri apa yang paling dicinta? San mengaku Pinarello Dogma 65.1 Think2 edisi Team Sky yang paling dicinta. “Paling sering saya bawa turing keluar negeri. Pernah ke Prancis, Spanyol, Italia, dan Malaysia. Dan Dogma ini yang menemani saya dalam kondisi saya susah maupun senang. Banyak ceritanyalah!” bilang San.

Saat ini, pengusaha distributor ban mobil ini memiliki 5 Pinarello Dogma berbagai seri dan Colnago serta Cannondale masing-masing satu buah. “Saya juga ada Wdnsdy AJ62 sedang proses dirakit di Rusdy Gallery Makassar,” imbuh salah satu pendiri komunitas Makassar Cycling Community (MCC).

Saking cintanya dengan Pinarello. Saat traveling ke Italia bersama istri dan anak tahun 2012, San menyempatkan mampir ke toko pusat Pinarello di Treviso, Italia. Saat di dalam toko itu. San diikuti terus oleh seorang bapak tua dan beliau menjelaskan beberapa pernik-pernik Pinarello, sepeda Pinarello, dan menjelaskan sejarah maupun keunggulannya.

San sempat heran, siapa ini fasih soal sejarah. Meskipun berkomunikasi menggunakan bahasa ‘tarsan’ dan dibantu penerjemah petugas toko obrolan mereka nyambung juga.

Liem Tjong San bersama Giovanni Pinarello. 

Setelah diberitahu oleh pengunjung lain, ternyata bapak tua itu adalah Giovanni Pinarello! “Betapa kagetnya saya, dia adalah pemilik Pinarello yang tanda tangannya ada di setiap frame Dogma!” cerita San sambil matanya berbinar-binar.

Langsung San beli kaus Pinarello warna hitam persis yang digunakan Giovanni saat juara. Lalu San berfoto bersama dengan Giovanni! Sepulang ke Indonesia, foto itu dicetak besar dan dipasang di kantor. Eh, datang kesempatan kedua. Tahun 2014, Azrul Ananda mengajak San untuk cycling trip ke Italia dan berakhir mengunjungi gudang Pinarello.

“Mendengar kata Pinarello, tidak berpikir dua kali. Langsung saya iyakan!” tegasnya. Beruntung, saat San bersama Azrul dan kawan-kawan ke Italia itu, Pinarello mau meluncurkan Dogma F8.

Liem Tjong San bersama Azrul Ananda dan teman-teman cyclist melihat Pinarello Dogma F8 sebelum dilaunching untuk umum.

“Saya dan kawan-kawan mendapatkan akses melihat pertama kalinya! Saya berdebar-debar saat itu. Gimana sih bentuk F8 yang katanya lebih aero dan beda total dengan seri 65.1 Think2. Sayang tidak boleh ada foto satupun. Jadi semua handphone dan kamera dikumpulkan di petugas gudang. Kita juga disuruh tanda tangan disclaimer bahwa tidak akan membocorkan rahasia ini,” ceritanya lantas tertawa.

Fausto Pinarello, Carla Pinarello dan Luciano Fusar Poli semuanya ramah menjamu dan mengantar rombongan San dan kawan-kawan melihat dan menjelaskan fasilitas gudang Pinarello.

Tak ketinggalan, San membawa foto bersama Giovanni Pinarello karena mau minta tanda tangan beliau. “Sayangnya, beberapa bulan setelah itu, tepatnya September 2014, beliau meninggal. Dan foto ini jadi kenangan terindah untuk saya pribadi. Dan menggantung di ruang kerja saya hingga hari ini. Sungguh momen tak terlupakan. Seperti menikah!” tutup San. (mainsepeda).          

Liem Tjong San bersama Carla Pinarello. 

           

 

 


COMMENTS