Bagaimana Menaklukkan Tanjakan Bromo KOM?  
by Azrul Ananda - February 26, 2019

Pada 16 Maret 2019, lebih dari 1.000 cyclist bakal kembali uji ketangguhan. Mencoba menaklukkan tanjakan menuju Wonokitri, Bromo. Di ketinggian sekitar 2.000 meter.

Bagi cyclist level apa pun, tanjakan ini punya misteri tersendiri. Yang tidak kuat bakal menyerah. Yang sudah kuat tetap merasa susah. Yang mentalnya lemah akan terus mencari cara untuk “curang.”

Bertanya kepada siapa pun, jawaban taktik menaklukkan rute Bromo KOM bisa beda-beda. Dan memang, setiap orang punya cara berbeda. Tanjakan ini panjang. Tidak bisa bohong. Tidak bisa “asal dikayuh.”

Lewat tulisan ini, saya akan mencoba membagi rute Bromo KOM menjadi beberapa bagian. Mulai dari start di Surabaya hingga mencapai Wonokitri, Bromo. Saya akan mencoba menjelaskannya sesederhana mungkin. Semoga bisa bermanfaat.

SATU: Dari Surabaya ke Pasuruan

Even Bromo KOM 2019 akan start dari lokasi baru, Kodam V/Brawijaya di kawasan Hayam Wuruk, Surabaya. Menambah beberapa km menuju Pasuruan. Tapi totalnya masih sekitar 60 km.

Pastikan Anda tidur cukup, tidur nyenyak, malam sebelumnya. Pastikan sepeda sudah dalam kondisi fit. Jangan sampai bikin panik dan bingung di pagi buta sebelum start (jadwal pukul 06.00 WIB).

Jarak 60 km ini sangat flat (datar). Karena rombongan sangat besar (80 persen peserta start dari Surabaya), maka harus fokus dan hati-hati dalam berpeloton. Aktif komunikasi saat akan bergerak ke kanan atau ke kiri. Saat akan maju ke depan atau ingin mundur ke belakang.

Jangan kebanyakan ngobrol! Selalu awas. Jalan-jalan ada yang berlubang, sesama peserta ada yang tiba-tiba tidak fokus.

Tidak perlu bawa sepeda yang beda, antara datar dan nanjak. Saya pernah ingin tertawa terpingkal beberapa tahun lalu, melihat ada peserta naik sepeda time trial (TT) saat bagian datar ini. Konyol sekali.

Satu, sepeda TT hanya berfungsi optimal saat jalan kosong dan lari sendirian. Kalau berpeloton superbesar, tidak ada manfaatnya. Malah bikin tambah capek karena posisi yang lebih membungkuk.

Santai bro! Kecepatan peloton akan terkontrol, tidak kebut-kebutan! Yang penting nyaman dua jam perjalanan ke Pasuruan.

DUA: Pasuruan ke Start KOM

Peloton akan berkumpul lagi di GOR Untung Suropati Pasuruan. Istirahat sejenak. Silakan isi “bahan bakar.” Jangan makan terlalu berat. Jangan sampai perut ikut kerja keras memproses banyak makanan, di saat badan bekerja keras mengayuh sepeda.

Start akan terbagi dalam beberapa kelompok. Barisan peserta lomba duluan. Men Elite dan Master dan lain-lain akan start di depan. Kemudian peloton non-kompetitif beberapa menit kemudian, diikuti rombongan Brompton dan sepeda lipat.

Ini belum “Start KOM.” Masih neutral dulu sekitar 15 km menuju kaki tanjakan di Pasrepan. Jangan emosi. Sabar. Jangan buang energi di sini, percuma.

TIGA: Start KOM ke Finis di Wonokitri

Bagi peserta lomba, begitu lewat gate Start KOM, silakan tancap gas saling mencoba merontokkan. Siapa finis duluan di Wonokitri adalah juaranya. Hadiah Piala Pangdam V/Brawijaya dan uang tunai siap menanti. Pengalaman tahun 2018, barisan Men Elite sudah akan finis tanjakan sekitar 25 km itu dalam waktu tak sampai 90 menit.

Bagi peloton non-kompetitif, dan bagi peserta “biasa” yang “salah daftar” ikut lomba, sebaiknya jangan ikutan.

Pengalaman saya, setiap kali lewat Start KOM, para peserta seperti berlomba-lomba ngebut duluan. Saya sering geleng-geleng kepala dan tertawa, karena mereka yang tancap gas duluan ini yang biasanya justru gagal finis dan “bergelimpangan” di sisi jalan.

Sabar saja bro. Tanjakan yang berat masih jauh di atas.

Silakan bagi 25 km tanjakan ini dalam tiga bagian.

Pertama dari Start KOM ke Desa Puspo, sekitar 10 km. Ada drink stop disiapkan panitia di situ. Tanjakannya belum curam, masih banyak di bawah 7 persen. Atur irama. Nikmati putaran kaki mumpung masih bisa. Jangan terpancing yang lebih cepat. Begitu sampai drink stop, istirahat 1-2 menit. Minum secukupnya. Makan bar seperti Strive atau pisang. Jangan nafsu minum dan makan. Malah jadi beban di badan.

Kedua, dari Puspo ke Baledono (jembatan beton), sekitar 10 km juga. Ada drink stop lagi di sini. Nah, inilah bagian yang paling harus sabar dilewati. Tanjakannya konsisten antara 7-11 persen. Makin ke atas makin curam.

Sabar. Jangan emosi. Putar kaki senyaman mungkin, walau sampai sini sudah tidak jelas lagi apa itu “nyaman.” Jangan lupa isi bahan bakar saat di tengahnya. Mungkin satu gel di tengah-tengahnya. Minum yang teratur, teguk sedikit-sedikit setiap 10-15 menit.

Sampai Baledono, istirahat 1-2 menit (atau 5). Tidak perlu makan banyak. Tapi isi bahan bakar. Kalau Anda sudah sampai sini, kemungkinan besar Anda akan selamat sampai ke puncak Wonokitri! Semangat!

Ketiga, Baledono ke Wonokitri. HANYA sekitar 5 Km.

Gunakan pelajaran matematika dasar di sekolah. Kalau Anda jalan menuntun, kecepatan Anda bisa lebih 4 km per jam. Itu berarti, kalau Anda jalan kaki, Anda bisa sampai finis dalam waktu sekitar satu jam. Kalau gowes dan kecepatan di atas 5 km/jam, Anda bisa finis tak sampai satu jam.

Jadi semangatlah. Tanjakannya memang konstan 8-11 persen, tapi ada sedikit bagian “istirahat” di tengahnya. Ada lagi turunan pendek dua kali setelah melewati pertigaan Tosari, sekitar 1,5 km dari finis.

Logikanya, Anda bisa finis antara 30-60 menit!

Yang penting atur napas untuk 200 meter terakhir menuju Wonokitri. Ya, tanjakan curam memutar di ujung itu. Yang kemiringan di tengahnya mencapai 20 persen. Tekniknya: Agak sabar di awal bagian curam, bertahan hidup di tengah-tengahnya yang paling curam, lalu tenang menghadapi garis finis dan barisan fotografer yang siap mengabadikan momen finis Anda.

KESIMPULAN

Memang, lebih mudah menulis dan membaca dari benar-benar menanjak rute Bromo KOM.

Kalau Anda sudah rajin latihan, jaga kondisi dan berat badan, seharusnya ini rute yang menantang dan memberi kepuasan.

Kalau Anda jarang latihan, makan semaunya, ya ini rute yang… Ngapain Anda ikut?

Kalau Anda tipe yang manja, yang suka mencari cara untuk lolos tanpa susah, ya… Ngapain Anda ikut?

Rute Bromo KOM adalah tanjakan yang menuntut respect. Kita harus respect terhadap tanjakan ini kalau ingin menaklukkannya dengan baik. Kita juga harus respect terhadap peserta lain, yang mungkin sudah bersusah payah berlatih untuk bisa menaklukkannya dengan baik.

Kalau ingin finis dengan curang, berarti Anda tidak respect pada tanjakan ini. Dan tidak respect kepada peserta lain yang berjuang.

Selamat berjuang, sampai bertemu di puncak Wonokitri! (azrul ananda)

Foto : Dewo Pratomo

    


COMMENTS