NGGRAVEL Glenmore 2026 terbagi menjadi dua kategori. Yakni Competitive (100 Km) dan Non-Competitive (80 Km). Kategori terakhir sejatinya tidak dirancang untuk perebutan podium formal. Namun, rute Nggravel Glenmore rupanya tetap menggoda para peserta non-kompetitif untuk kebut-kebutan.
Dua peserta yang mencatatkan waktu tercepat di kategorinya: Gingin Ginanjar (33) pada kategori gravel bike, dan Ardiansyah Putra Pratama (33) pada kategori MTB. Keduanya memiliki alasan tersendiri di balik keputusan mereka memacu sepeda sejak awal start.
Gingin tampil impresif memacu sepedanya. Disesuaikan dengan ban gravel berukuran 35 mm, ia sukses melahap rute 80 km hanya dalam kurun waktu 3 jam 39 menit 55 detik. Kendati demikian, aksi ngebut Gingin bukan karena ingin gaya-gayan. Ada alasan unik yang mendasari keputusannya, yakni karena matanya minus.
"Awalnya saya ke depan karena rombongan agak berisiko kalau lihat kontur rute sama banyak kejutan belokannya," ungkap Gingin. "Jadi saya coba ke depan biar kelihatan jelas, karena mata saya minus. Eh, malah keterusan," lanjutnya, lantas tertawa.
Baca Juga: Glenmore, The Real Gravel
Baca Juga: Peserta Terpukau Trek Nggravel Glenmore 2026, Rute 10/10, View 100/10!
"Pas lihat ke belakang ternyata sudah tidak ada siapa-siapa," imbuhnya. Gingin pun kebingungan. Terlebih ia bukan penikmat kebut-kebutan. Namun, mau tidak mau, akhirnya ia menjaga pace kencang itu sampai finis pertama.
Ia mengaku tidak ada persiapan khusus menjelang terjun di Glenmore. Ia hanya mengandalkan rutinitas gowes komunitas tiga kali sepekan.
Yang lebih menarik, pendorong stamina terbesarnya di sepanjang rute bukanlah energy gel atau minuman berenergi, melainkan lemper dari checkpoint (CP) 1. "Aku bawa gel aja lupa gak diminum, malah menikmati lemper," imbuhnya, lagi-lagi disambung tawa.
Pengalaman berkesan melibas lintasan tanah, berpapasan dengan truk tebu di kilometer 74, hingga menikmati santapan lokal memicu keinginannya untuk beralih ke kategori kompetitif pada edisi mendatang.
Alasan berbeda datang dari Ardiansyah Putra Pratama. Di kategori MTB Non-Competitive, Putra membukukan waktu tercepat yaitu 4 jam 25 detik. Ia telah menyiapkan setelan sepedanya secara matang sejak mempelajari bocoran rute, termasuk memperbesar ukuran chainring dari 32T menjadi 34T dan memompa ban hingga batas maksimal.
Baca Juga: Cerita Peraih Lanterne Rouge Nggravel Glenmore 2026, Termotivasi Pacar dan Anak
Siksaan jalur keras dan berbatu khas Glenmore yang membuat tangan serta pahanya pegal tak menyurutkan langkah Putra. Bahkan, ketika alat pemantau (cyclocomputer) miliknya mengalami kendala teknis.
Akan tetapi, alasan utamanya kebut-kebutan adalah janji kepada keluarganya. Mereka ingin berwisata, mumpung sedang di Banyuwangi. "Sempat kesal karena lihat kilometer kok tidak nambah-nambah, sampai beberapa kali tanya peserta lain," jelas Putra.
"Tapi saya ngebut karena sudah ditunggu anak-anak, mau diajak lanjut jalan-jalan ke De Djawatan," lanjutnya, lantas tertawa. Rupanya, mereka ingin menikmati keindahan hutan wisata yang berlokasi di Cluring, sekitar sejam dari Glenmore.
Bagi Putra, keberhasilan menuntaskan rute Nggravel Glenmore 2026 juga memberikan kesan emosional. Lokasi finis di kawasan Pabrik Gula Glenmore mengingatkannya pada momen beberapa pekan sebelumnya saat ia menginap di sana sebagai tamu. Menjadikan pengalaman kali ini terasa semakin personal.
Nggravel Glenmore 2026 merupakan event gravel besutan Mainsepeda yang mengeksplorasi rute menawan di wilayah Glenmore, Banyuwangi. Jalurnya cukup jarang ditemukan di Indonesia dengan karakteristik speed gravel. Bahkan founder Mainsepeda Azrul Ananda menyebut Nggravel Glenmore punya dna dari event gravel terbaik saat ini, Unbound Gravel.
Sekitar 400 peserta telah ikut meramaikan event yang digelar pada Minggu, 4 Oktober lalu. (Mainsepeda)