SENSASI tantangan speed gravel di rute jalan tanah berkerikil dan bentangan alam yang asri terus menyihir para pencinta off-road di Tanah Air.
Menjelang Nggravel Glenmore 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026 di Banyuwangi, antusiasme para cyclist dari berbagai penjuru daerah kian memuncak. Event itu menjanjikan petualangan seru yang memadukan tantangan fisik, keindahan visual, dan rekreasi alam khas Jawa Timur.
Nggravel Glenmore nantinya akan menggelar dua kategori umum: Yakni Race (100 Km) dan Non-Competitive (80 Km). Bagi sebagian besar peserta di kategori 80 KM Non-Competitive, ajang itu bukan sekadar panggung unjuk kecepatan. Melainkan ruang untuk mengeksplorasi kegemaran blusukan di luar jalur perkotaan.
Baca Juga: Cantik Banget! Waduk Sidodadi Jadi Lokasi Titik Start dan RPC Nggravel Glenmore 2026
Baca Juga: Jersey Nggravel Glenmore 2026 Dirilis, Padukan Panorama Perkebunan dan Performa Tinggi
Mengejar "Unbound" ala Banyuwangi
âSalah satu daya tarik utama Nggravel Glenmore 2026 adalah karakter rutenya yang digadang-gadang menyerupai arena balap gravel legendaris di Amerika Serikat, Unbound Gravel. Kemiripan sensasi itulah yang memicu rasa penasaran Fitra Pranadjaja.
âSetelah sempat tertunda mengikuti seri Nggravel Blitar awal tahun ini karena agenda personal, Fitra tidak ingin melewatkan kesempatan menjajal trek Glenmore. Bagi Fitra, bersepeda adalah sarana rekreasi dan menikmati lanskap alam.
Sosok Fitra penasaran Glenmore yang identik Unbound Gravel.
"Saya tipe pesepeda yang menikmati perjalanan, bukan yang mengejar podium. Pemandangan di Glenmore sungguh indah, sayang jika tidak dinikmati," ungkap Fitra.
â"Tak semua perjalanan harus berujung podium. Kadang, hadiah terbaik adalah keindahan yang kita temukan di sepanjang perjalanan," imbuhnya.
Meskipun demikian, Fitra tetap menargetkan mampu finish sebelum Cut off Time (CoT). Guna menghadapi karakter Glenmore yang menantang, Fitra menggembleng fisiknya di rute-rute gravel populer Jabodetabek, seperti kawasan Hutan Universitas Indonesia (UI) serta jalur menanjak dan berkerikil di Anaconda, Hambalang.
Baca Juga: Nostalgia Jalur Gravel EJJ, Wisli Sagara dan Ilmiawan Auwalin Siap Comeback ke Glenmore
Baca Juga: Komunitas BioKA Mantap Terjun di Nggravel Glenmore Bekat Rayuan Warlok
âTerapi Ninja di Tengah Kebun Tebu
Aroma keseruan senada dirasakan Eriza Febriansyah, atau yang akrab disapa Djatmico. Pesepeda asal Lhokseumawe, Aceh, yang kini menetap dan bekerja di Denpasar, Bali ini akan menjajal Glenmore dengan 15 orang anggota komunitasnya.
âSeperti halnya Fitra, Eriza juga harus menunda keikutsertaannya di seri Nggravel Blitar tahun ini lantaran bertepatan dengan hari pernikahannya. Namun, kini Eriza siap melahap tantangan Nggravel Glenmore awal bulan depan.
Sosok Eriza Febriansyah, Cyclist kelahiran Aceh.
Bagi pria yang sehari-hari terbiasa bekerja di lapangan itu, bersepeda di jalur alam memberikan pasokan adrenalin yang tidak didapatkan di jalan raya kota.
"Sensasi bergetar di jalan gravel itu yang sulit diungkapkan. Tantangannya harus selalu fokus melihat jalan yang kadang bisa jadi 'ranjau' buat cyclist. Tapi momen paling berkesan itu kalau ketemu alam atau hewan yang jarang kita lihat di perkotaan," kata Eriza.
Menghadapi rute Glenmore, Eriza bahkan menargetkan penurunan berat badan 5 kg sebagai bagian dari persiapan fisiknya. Sembari rutin menjelajahi rute gravel tersembunyi di kawasan Bali Utara. Bagi Eriza, panas maupun hujan saat bersepeda bukan halangan, melainkan pemanis petualangan.
"Jika hati gundah gulana, maka gravelan adalah jalan ninjanya," ucapnya, lantas tertawa.
Baca Juga: Keren! Dua Pembalap King Banana Polda Jatim Raih Podium Tour de Bintan 2026
Baca Juga: 3 Hal tentang Nggravel Glenmore 2026, Inilah Panduan Regulasi dan Persiapan Buat Cyclist
Daya Tarik Nggravel Glenmore 2026
Nggravel Glenmore 2026 siap menjadi panggung utama bagi para penggemar gravel yang ingin menjajal sensasi bersepeda ala Unbound Gravel. Karakteristik rute speed gravel tersebut jarang ditemui di event nasional lainnya. Tak ayal Nggravel Glenmore mampu menarik antusias banyak cyclist.
Di sisi lain, Banyuwangi sendiri dikenal luas dengan label kota sepeda. Selain jalur gravel, kota paling timur Pulau Jawa itu juga punya jalur-jalur sepeda lain. Mulai rute King of the Mountain (KOM) dengan kategori tanjakan HORS Categorie dan jalur race downhill di Ijen, hingga sirkuit BMX kelas dunia di Muncar.
Banyuwangi juga merupakan rumah untuk salah satu event UCI 2.2, yakni Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI).
Nah, pendaftaran resmi Nggravel Glenmore, regulasi teknis, dan informasi rute dapat diakses melalui Mainsepeda App. Penyelenggara mengimbau para pesepeda untuk segera melakukan registrasi sebelum kuota peserta terpenuhi. (Mainsepeda)