Peserta Tertua dan Termuda Bentang Jawa 2026 Terpaksa DNF di Hari Kedua

KETANGGUHAN fisik dan tekad baja bukan jaminan mutlak untuk menaklukkan Bentang Jawa 2026. Lintasan ekstrem, jalur gravel, serta takdir di atas aspal memaksa dua petarung beda generasi harus menyudahi perjuangan lebih awal.

Go Suhartono, peserta tertua dan Muhammad Gusti Hibatullah sebagai peserta termuda, terpaksa DNF (Did Not Finish).

Ajang ultra-cycling paling populer di Indonesia itu memang menyajikan realitas keras. Sering kali tidak sesuai harapan. Tak peduli rekam jejak puluhan tahun atau semangat membara usia muda, ego sering kali harus direlakan demi keselamatan jiwa.

Bagi Ko Hai, sapaan Go Suhartono, partisipasi di Bentang Jawa 2026 adalah ujian batas fisik atas kondisi tubuhnya. Pria yang telah berusia 76 tahun itu memegang predikat peserta tertua sejatinya bukan nama baru di gelaran ultra-cycling. Ia rajin mengikuti berbagai event Mainsepeda, termasuk finish strong di East Java Journey (EJJ) 2024 kategori 1.500 km dengan catatan waktu 156 jam.


Go Suhartono (kiri) memeriksa lututnya setelah terjatuh di Ciracap, Sukabumi, pada Senin, 17 Agustus 2026. Kondisi lutut memaksanya DNF dari Bentang Jawa 2026

Itu sudah jadi bukti bahwa usia Ko Hai bukan alasan ia tidak mampu menaklukan jarak yang panjang. Namun, ternyata kali ini yang jadi pengganjal adalah kondisi lutut pria asal Surabaya tersebut.

Baca Juga: Bu Fey Terjun di Bentang Jawa, Berbekal Pengalaman Paris dan Three Island Journey

Baca Juga: Berkat Ngebel KOM, Cyclist Jadi Tahu Ada Telaga Cantik di Ponorogo yang Asyik Buat Gowes 

Nasib nahas menghampiri saat Ko Hai dan pair-nya, Vindranori Djiwananggoro, melintasi seksi gravel Ciracap, Kabupaten Sukabumi, pada hari kedua, Senin pagi, 17 Agustus 2026. Itu adalah jalur turunan berkerikil dan berlubang yang dikenal sangat merusak fokus pembalap. 

Meski telah melaju pelan, ban sepeda Ko Hai tergelincir batu. Ia terjatuh ke sisi kiri dan lututnya terbentur. Setelah itu, Ko Hai tidak langsung berhenti. Ia masih mencoba berjalan lali. Bahkan di satu titik ia turun dan menuntun sepedanya.

"Itu (batu) memang nggak bisa dihindari. Jadi ya memang harus dilewati. Ban depannya itu tergelincir batu, akhirnya jatuh," ungkap Ko Hai dalam video yang dikirim ke Mainsepeda. "Jatuhnya nggak seberapa, tapi pas kebetulan kena lutut yang kiri ini," lanjutnya, sambil menepuk ringan lututnya.

Lutut kiri Ko Hai mengalami pengapuran (osteoarthritis) tingkat lanjut (Grade 4). Ia sebenarnya sudah disarankan menjalani operasi penggantian sendi dengan titanium. Namun ia tunda demi menyalurkan kecintaan pada olahraga ekstrem tersebut.


Ko Hai (kiri) bersama Vindranori Djiwananggoro saat mengambil race pack Bentang Jawa di Pantai Carita, Banten, 16 Agustus 2026.

Ko Hai sempat memaksakan diri mengayuh sejauh puluhan kilometer hingga mencapai KM 363. Sekitar pukul 16.30 WIB, rasa nyeri yang menusuk tak lagi sanggup ditahan. Dibantu Vindranori, Ko Hai akhirnya memutuskan untuk mengundur diri sebelum mencapai Checkpoint 1 (CP1) di Rancabuaya.

Baca Juga: Terpikat Telaga Ngebel, Cyclist Sebut Race Village KAI Ngebel KOM Salah Satu yang Terbaik

Baca Juga: Komunitas Jagoan Mama, Dari Nama Strava Kini Rutin Menjelajah Event Gowes 

"Kepinginnya sih menyelesaikan sampai CP1, mau tak mau harus tak paksa, tapi ndak mungkin ini," kata Ko Hai. "Sakit sekali, jalan aja sakit. Kalau diteruskan ini tambah gempor," lanjutnya.

Tim medis dan ambulans panitia Bentang Jawa 2026 sempat menawarkan rujukan ke klinik terdekat. Namun, Ko Hai memilih untuk langsung kembali ke Surabaya guna menjalani perawatan intensif.


Muhammad Gusti Hibatullah yang berstatus peserta termuda Bentang Jawa 2026 harus DNF lantaran sepedanya patah setelah dua kali kecelakaan.

Jika Ko Hai terhenti oleh trauma fisik, Muhammad Gusti Hibatullah harus mengubur impiannya akibat kerusakan fatal pada sepeda. Belum genap 24 jam merasakan atmosfer kompetisi, sepeda cyclist yang baru berusia 16 tahun itu hancur.

Ujian pertama menghampiri Gusti pada KM 48. Lubang jalan yang tak terhindarkan memicu kecelakaan (crash) pertama, mengakibatkan luka robek di lutut samping. Walau menahan rasa nyeri bak ditusuk-tusuk saat melibas tanjakan, Gusti terus mengayuh sepeda demi menjaga ritme balap.

Petaka puncak terjadi di KM 204, tepatnya pada turunan Cikotok sebelum tanjakan akhir. Perbedaan ketinggian permukaan aspal yang ekstrem di tengah jalan membuat sepeda Gusti melayang. Ia terpelanting keras hingga sempat kehilangan kesadaran.

Baca Juga: 3 Hal tentang Nggravel Glenmore 2026, Inilah Panduan Regulasi dan Persiapan Buat Cyclist

Baca Juga: VP PT KAI Daop 7 Ali Afandi Terjun di Ngebel KOM 2026, Antusias Kolaborasi dengan Mainsepeda Lagi

"Aku terpental dengan keadaan sepedaku yang juga ikut melayang, sempat tak sadarkan diri. Namun bersyukur ada warga yang membantu dan memberi tahu bahwa frame sepedaku sudah terbelah dua. Sedih, kecewa, speechless," tutur Gusti melalui akun media sosial pribadinya.


Frame sepeda Gusti yang rusak parah hingga ia tidak bisa meneruskan perjalanan.

Benturan keras tersebut mematahkan rangka (frame) sepeda menjadi dua bagian, sekaligus memupus tanggung jawab dan harapan yang ia usung sejak garis start.

Walaupun gagal memenuhi ekspektasinya kali ini, Gusti mendapatkan banyak dukungan untuk comeback di tahun-tahun mendatang.

Gugurnya peserta tertua dan termuda di Bentang Jawa 2026 menegaskan bahwa ajang ultra-cycling bukan sekadar tentang kecepatan atau pengalaman. Di sana ada kalkulasi risiko, manajemen fisik, dan nasib baik.

Di sisi lain, melalui pemantauan Race Map hingga pukul 21.30 WIB, Zidan Attala Nouval memimpin balapan Bentang Jawa 2026. Ia telah mencapai kilometer ke-832, sudah lebih dari separuh jalan saat waktu genap 40 jam saja. Lajunya disusul oleh Berry Putra Perdana yang tertinggal 55 km dari Zidan. (Mainsepeda)


COMMENTS