Rekor Baru di Clasica de San Sebastian, Remco Evenepoel Raih Gelar Keempat

Remco Evenepoel kembali membuktikan bahwa San Sebastian adalah panggung favoritnya. Pembalap Red Bull-Bora-Hansgrohe itu mengukir sejarah dengan merebut gelar keempat Clasica de San Sebastian usai mengalahkan Richard Carapaz (EF Education-EasyPost) pada Sabtu (1/8).

Kemenangan ini membuat Evenepoel menjadi pembalap tersukses dalam sejarah balapan klasik bergengsi di wilayah Basque tersebut. Namun, kemenangan kali ini jauh dari kata mudah.

"Ini adalah kemenangan yang paling sulit dari empat gelar yang saya raih di sini," kata Evenepoel usai balapan.

Drama sudah terjadi jauh sebelum finis. Setelah melewati turunan Jaizkibel, Evenepoel mengalami ban bocor. Insiden tersebut datang pada momen krusial ketika tanjakan Erlaitz sudah di depan mata. Situasi tersebut sempat membuat peluangnya merebut kemenangan terlihat menipis.

Beruntung, kerja keras rekan-rekan setimnya membuat juara Olimpiade itu kembali ke kelompok depan. Giulio Pellizzari membantu mengejar ketertinggalan di kaki Erlaitz, sementara Maxim Van Gils menunggu di grup terdepan agar Evenepoel tidak kehilangan kontak.

"Saya harus berterima kasih kepada tim. Giulio bekerja sangat baik untuk membawa saya kembali, dan Maxim sabar menunggu saya di depan. Pada akhirnya saya hanya perlu menyelesaikan pekerjaan mereka. Hari yang luar biasa dan kemenangan yang indah," ujar Evenepoel.

Balapan sepanjang 221,1 kilometer itu memang dirancang untuk menguras tenaga. Tujuh tanjakan kategori menghiasi rute sebelum para pembalap memasuki dua putaran terakhir yang menghadirkan tanjakan legendaris Jaizkibel, Erlaitz, dan ditutup dengan Murgil yang memiliki gradien rata-rata lebih dari 10 persen.

Delapan pembalap sempat membentuk kelompok terdepan sejak awal lomba. Namun, keunggulan mereka perlahan tergerus saat Red Bull-Bora-Hansgrohe mengambil alih kendali peloton demi menjaga peluang Evenepoel.

Memasuki tanjakan Erlaitz, situasi balapan berubah total. Van Gils sempat berada di depan sebelum kelompok favorit kembali menyatu.

Di belakang, Evenepoel bekerja keras mengejar setelah insiden ban bocor, didampingi sejumlah pembalap seperti Pello Bilbao, Jan Christen, Jhonatan Narváez, hingga Darren Rafferty.

Semua kembali berkumpul sebelum tanjakan terakhir Murgil yang hanya sepanjang 2,1 kilometer, tetapi memiliki kemiringan rata-rata 10,1 persen. Di sinilah penentuan juara dimulai.

UAE Team Emirates-XRG membawa rombongan memasuki kaki tanjakan. Namun, Evenepoel memilih menyerang saat jarak menuju finis tersisa 8,7 kilometer. Hanya Richard Carapaz yang mampu mengikutinya.

Keduanya kemudian membuka jarak dari kelompok pengejar dan mempertahankan keunggulan hingga memasuki jalan-jalan Kota San Sebastian. Giulio Ciccone, Louis Barré, dan rombongan di belakang sempat berusaha menutup selisih, tetapi gagal.

Memasuki kilometer terakhir, Carapaz lebih dulu memimpin. Evenepoel sempat mengambil giliran menarik di depan sebelum pembalap asal Ekuador itu kembali berada di posisi terdepan. Namun, beberapa ratus meter menjelang garis finis, Evenepoel melancarkan sprint terakhir yang tidak mampu dibalas Carapaz.

Evenepoel pun melintasi garis finis sebagai pemenang, sementara Carapaz harus puas di posisi kedua. Ben Tulett (Visma-Lease a Bike) melengkapi podium setelah menjadi yang tercepat dalam sprint kelompok pengejar.

Hasil tersebut menjadi modal sempurna bagi Evenepoel setelah sebelumnya finis sebagai runner-up klasemen umum Tour de France 2026.

Kini, empat trofi San Sebastian Klasikoa sudah berada di lemari prestasi Evenepoel. Rekor baru telah tercipta, dan pembalap Belgia berusia 26 tahun itu sekali lagi menegaskan bahwa tanjakan Murgil adalah wilayah kekuasaannya. (mainsepeda)


COMMENTS