Tour de France 2026 seharusnya bukan panggung Richard Carapaz (EF Education-EasyPost). Kalender musimnya sejak awal disusun untuk Giro d'Italia. Namun, sebuah kista perineum memaksa rencana itu berantakan.

Ironisnya, justru perubahan itulah yang membawa pembalap Ekuador tersebut menciptakan salah satu kisah terbaik di Prancis tahun ini.

Carapaz akan menutup Tour de France 2026 dengan dua kemenangan etape, jersey polkadot sebagai Raja Tanjakan, serta posisi kedelapan klasemen umum (GC). Sulit membayangkan hasil yang lebih manis untuk seorang pembalap yang beberapa bulan lalu bahkan belum yakin bisa tampil di Prancis.

Kalau ada pembalap yang tahu cara menghibur penonton, Carapaz adalah salah satunya.

Dia bukan tipe pembalap yang bersembunyi di dalam peloton. Dia tidak suka sekadar menjaga posisi klasemen. Ketika melihat peluang menyerang, sekecil apa pun, dia akan mencoba. Itulah yang membuat namanya selalu menarik di setiap Grand Tour.

Tour kali ini kembali menjadi panggungnya. Saat sebagian besar kandidat GC mulai berhitung detik demi detik pada pekan terakhir, Carapaz justru berkali-kali muncul di depan balapan. Jersey merah muda EF Education-EasyPost hampir selalu terlihat memimpin breakaway di tanjakan-tanjakan besar.

Bukan kebetulan. Pembalap asal Ekuador itu memang selalu tampil berbeda ketika balapan memasuki pegunungan tinggi. Lahir dan besar di ketinggian sekitar 2.800 meter membuat tanjakan panjang seperti menjadi habitat alaminya.

"Kami telah memecahkan banyak rekor kecepatan dan pendakian tahun ini. Persaingan semakin tinggi setiap musim, jadi memenangkan jersey ini sangat sulit," kata Carapaz.

Carapaz mengakui bahwa perjalanannya menuju Tour tidak pernah mudah.

"Saat saya menyadari tidak bisa mengikuti Giro, situasinya sangat rumit. Setelah operasi saya tidak mengendarai sepeda selama tiga minggu dan saya tidak tahu apakah persiapan menuju Tour sudah cukup," ujarnya.

Untungnya, dukungan tim datang pada saat yang tepat.

"Mereka membantu saya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan moral."

Karena itulah Carapaz tidak memaksakan diri pada pekan pertama.

Ia rela kehilangan waktu. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena seluruh persiapannya memang diarahkan untuk satu momen: pekan ketiga Tour de France.

"Ketika saya tahu akan mengikuti Tour, kami sadar pekan pertama akan berat. Saya ingin berada dalam kondisi 100 persen pada pekan terakhir," jelasnya.

Strategi itu berjalan sempurna. Etape 20 pada Sabtu (25/7) sebenarnya diawali dengan satu target sederhana: mengunci jersey polkadot.

Jalurnya menawarkan banyak poin tanjakan, mulai Croix de la Fer, Télégraphe, Galibier, Saranne hingga finis legendaris di Alpe d'Huez.

Menang etape mungkin hanya menjadi bonus. Namun, setelah melewati Galibier bersama Jai Hindley, Sepp Kuss, dan Juan Ayuso, cerita mulai berubah.

"Saat kami melewati Galibier dan turun, kerja sama berjalan sangat baik. Kami punya keunggulan sekitar empat menit dan saya tahu saya memiliki kaki untuk menang," kata Carapaz.

Pendakian terakhir menjadi panggung penentuan. Sepp Kuss sempat menyerang. Carapaz tertinggal beberapa detik, tetapi tetap menjaga ritmenya. Tak lama kemudian, pembalap Visma-Lease a Bike itu dua kali terjatuh saat turunan. Kesempatan emas pun terbuka.

Carapaz tidak menyia-nyiakannya. Empat kilometer terakhir menuju Alpe d'Huez didakinya dengan tempo yang nyaris sempurna. Garis finis akhirnya dilewati sendirian. Remco Evenepoel menyusul 26 detik kemudian, sedangkan Kuss harus puas di posisi ketiga.

"Di Alpe d'Huez saya benar-benar menderita. Saya tahu jalurnya sampai meter terakhir, tetapi tetap saja sangat berat. Semua perjuangan itu terbayar dengan kemenangan etape ini," ujar Carapaz.

Target utama pun tercapai. "Sasaran kami sejak awal adalah memenangkan jersey polkadot. Itulah misi kami, dan kami berhasil melakukannya," ujarnya.

Tour de France 2026 mungkin tidak pernah ada dalam rencana Richard Carapaz. Tetapi ketika kesempatan datang, ia memanfaatkannya dengan cara yang hanya bisa dilakukan pembalap sejati: menyerang, menghibur, lalu menang. (mainsepeda)

Populer

Tour de France 2026-Etape 20: Carapaz Menang di Alpe d'Huez, Pogacar Selangkah Lagi Juara
Tour de France 2026-Etape 19: Pogacar Pecahkan Rekor Pantani di Alpe d’Huez
Tour de France 2026: Pogacar Makin Dekat Gelar Juara Usai Pecah Rekor di Alpe d’Huez
Review Sensah Empire Pro 12-Speed setelah 1.000 Km Plus (3-Habis)
Rute Etape 21 Tour de France 2026 Dipangkas Akibat Kebakaran Hutan
Tour de France 2026: Datang Tanpa Ekspektasi, Carapaz Pulang sebagai Raja Tanjakan
Bagaimana Memilih Sepeda dan Ukurannya?
Weight Weenie Build: Wdnsdy AJ62 "NAKED" ini hanya 5,6 kilogram!
Official Jersey KAI Ngebel KOM 2026 Dirilis, Terinspirasi Kisah Naga Baru Klinting
Persiapan KAI Ngebel KOM 2026: Kepolisian Madiun-Ponorogo Matangkan Rekayasa Jalur