Mau bahagia? Belilah sepeda. Itu resep Luddy Bedjo Legowo. Berat badan turun 20 kg, badan jadi lebih enteng. Sakit penyakit hilang. Bahkan bisa lebih membahagiakan istri.

Berawal delapan bulan lalu, Luddy diultimatum dokter bahwa harus menurunkan berat badan secara drastis apabila ingin sehat. “Stress akibat pekerjaan dan kesedihan adik perempuan meninggal, membuat saya banyak makan. Jadilah saya gemuk hingga 84,5 kg,” tutur pria kelahiran 11 September 1978.

Pernah, saat mengemudi mobil, dirinya merasakan dadanya sakit. Setelah diperiksa dokter, ternyata asam lambung yang naik dan mengganggu kinerja jantung. “Dulu banyak penyakit di tubuhku ini,” keluhnya.

Olahraga jadi pilihan pertama. Dipilihlah renang. Belajar berenang mulai dari nol. Tapi tidak ada hasil. Badan masih gemuk dan tidak ada kemajuan dalam hal kesehatan.

Pindah olahraga lain. Melihat sepeda MTB Giant nganggur di rumah, mulai bersihkan dan diajak jalan-jalan. Saat melintas Monjali (Monumen Jogja Kembali), batin Luddy bergejolak karena disalip rombongan cyclist menggunakan road bike dengan baju ketat yang keren.

“Aku ingin seperti itu!” tekadnya. Sepulang gowes pagi itu, langsung menebus sebuah road bike. Hasilnya? Malah tersiksa! Saat gowes, lutut Luddy kerap bertabrakan dengan perut buncitnya.

“Lutut kena perut terus sampai sakit perut saya. Tapi saya senang pakai road bike,” tuturnya polos. Alhasil, hari demi hari jarak tempuh kian jauh dan kian kencang.

Menurutnya, bersepeda road bike itu bisa menemukan rute-rute yang keren dan teman yang asyik. Hingga suatu saat, di cafe bernuansa sepeda, Peloton & Co di Jogja, Luddy bertemu dengan Didot. Diajaknya bersepeda bersama.

Salah satu senior di dunia sepeda Jogjakarta ini menyambutnya dengan antusias. Didot juga kerap membantu Luddy melakukan perawatan atau servis sepedanya.

Kemudian, Luddy bertemu dengan William, bos Gudz Bike Jogja. Nyambung banget saat sharing soal sepeda dan Luddy kepincut sepeda Trek. William memberikan pilihan terbaiknya.

“Luddy bukan tipe pembalap dan climber. Jadi dia lebih cocok pakai sepeda endurance. Trek punya Domane SLR 6,” tukas William. Dan hasilnya? Luddy makin mencintai bersepeda.

Menurutnya, sepeda Trek Domane ini sangat nyaman digunakan jarak jauh. Marini, istri Luddy sempat bingung. Karena Luddy tidak lagi memilih berenang sebagai olahraga utama.

“Saya jelaskan ke istri bahwa bersepeda jauh lebih asyik, lebih menantang dan bisa mengunjungi tempat-tempat baru. Juga bisa jalin relasi dengan cyclist lain,” tuturnya.

Banyak pengalaman lucu yang dialami Luddy ketika bersepeda dan ini membuatnya kian mencintai olahraga ini. “Di daerah utara tepatnya Kaliurang itu banyak perempuan yang mencuci bajunya di pinggir jalan kebun salak. Dan bau sabun deterjen Molto sangat menyengat. Jadi apabila pagi hari lewat sana pasti dihibur dengan bau pewangi baju yang kuat,” ceritanya sambil tertawa.

Luddy punya kebiasaan unik. Salah satu tempat favoritnya adalah peternakan sapi di koperasi peternak sapi di kawasan Pakem, Sleman. Dia selalu menyempatkan diri mampir dan bercengkerama dengan sapi-sapi.

Pernah ketika asyik ngobrol dengan sapi, pemiliknya datang dan bertanya “Kenapa masuk ke kandang sapi saya?” Luddy menjawab, saya hanya sekedar ngobrol dengan sapi bapak. Pemilik peternakanpun tertawa mendengar jawabannya dan meninggalkan Luddy.

Dengan bersepeda, dirinya bisa menemukan kebebasan apapun termasuk mengekspresikan dengan siapa Luddy ingin bicara. Saat ini, tidak muluk-muluk, Luddy rutin bersepeda sejauh 40 km setiap harinya.

“Suasana ceria yang ditemuinya di jalan sanggup membuat moodnya jadi ceria juga. Beban pekerjaan jadi lebih ringan dan karyawan senang karena saya tidak pernah cemberut lagi. Badan saya jadi fit dan dinamis,” bangganya.

Dalam waktu dekat, target utamanya adalah latihan menanjak agar bisa lulus even memanjak paling bergengsi, Herbana Bromo KOM Challenge 2019 yang akan digelar 16 Maret ini.

“Sebenarnya saya kurang percaya diri. Banyak yang bilang tanjakannya menyeramkan. Tapi tidak masalah. Disinilah saya bisa menempa kesabaran dan keuletan,” tekad pengusaha yang sudah mengembangkan bisnis distributor Wika Water Heater, AC Daikin, dan pipa PPR dari Italia ini.

Luddy mengaku banyak teman yang kaget melihat transformasi tubuhnya. Dan mulai bertanya-tanya resep apa yang membuat Luddy jadi lebih sehat. “Hidup bahagia. Dan itu didapat dari bersepeda!” jawabnya spontan.

 

Catatan Dewo tentang Luddy

Lama saya di Jogjakarta, karena selain rumah saya di Bantul, saya juga sering membantu even sepeda di Jogjakarta. Sudah empat tahun ini. Banyak cyclist yang saya kenal.

Tapi tidak dengan Luddy Bedjo Legowo. Nama yang asing untuk saya. Padahal dia sangat aktif di media sosialnya. Setiap hari, Luddy posting foto dirinya bersepeda. Ya, setiap hari! Kami juga sering saling berbalas komentar di medsos.

Pernah dia posting foto celana dalam di atas genting tujuannya untuk menghalau hujan. Agar bisa bersepeda esoknya. Tapi jika Jogjakarta hujan, ia membuat status “maaf hari ini libur sepedaan, karena kemarin lupa melempar celana dalam ke genting.” Hahaha....

Saking penasaran dengan Luddy, saya pernah membuat status “Pingin motret Cyclist Jogja, Luddy Legowo”. Samuel Irwanto Yongki, sahabat saya merespon dan mempertemukan kami.

Tanggal 31 Desember 2018, kita janjian bertemu jam 05.15 WIB di salah satu gerai fast food di daerah Jombor Jogya Utara. Luddy sempat kaget, karena saya tiba duluan ke titik kumpul.

Saya ungkapkan bahwa saya terbiasa dengan didikan Azrul Ananda School of Suffering (AA SoS) di Surabaya yang selalu tepat waktu. Pagi itu, kami bersepeda rute recovery menuju Kaliurang. Sungguh indah.

Saya paling bersemangat memotret jika rutenya banyak pemandangan yang membuat mata segar. Suasana pedesaan dengan udara yang sejuk. Dan, bersepeda di antara kesibukan masyarakat yang hilir mudik menjalankan aktifitas pagi.

Sepedaan pagi itu berakhir di warkop Bukan Kopi Luwak. Tempat ini merupakan salah satu tikum cyclist Jogja selain Warjo. Sambil menikmati teh tubruk panas obrolan semakin hangat. *

 

 

 


COMMENTS