Unbound Gravel, balapan gravel paling bergengsi di dunia, telah menuntaskan edisi ke-20-nya Sabtu, 30 Mei (berakhir Minggu pagi WIB). Hujan, lumpur, dan banjir membuat edisi spesial ini makin spesial. Pada akhirnya, di ajang paling bergengsi 200 mil (320 km plus), kerja sama tim berhasil mensukseskan pembalap Specialized Off-road, Mads Wurtz Schmidt dan Sofia Gomez Villafane.

Mads Wurtz Schmidt berhasil menuntaskan lomba dalam waktu 9 jam 14 menit dan 51 detik. Tapi, dia nyaris gagal finish. Ketika dalam breakaway bersama rekan setimnya, Keegan Swenson, bannya sobek kena batu tajam.

Unbound memang dikenal dengan batu-batunya yang tajam, di kawasan Flint Hills, Kansas. Batu-batu itu dulu digunakan sebagai bahan mata panah bagi suku asli Amerika.

Sang juara gravel Eropa mendapatkan bantuan luar biasa dari Swenson, yang mengorbankan wheel-nya untuk Wurtz Schmidt.

Dia pun kembali melaju dan meraih kemenangan. Kemenangan itu juga diamankan oleh rekan setim yang lain, Matt Beers, yang finish di urutan kedua. Tobias Kongstad (PAS Racing), finish ketiga.

"Saya tidak mungkin meraih ini tanpa Keegan. Dia seorang juara sejati", kata Wurtz Schmidt. "Dia mengorbankan lombanya untuk saya", tandasnya.


Wurtz Schmidt memeluk Keegan Swenson sesaat setelah finis.

Di kategori Women Elite, Specialized Off-road juga meraih kemenangan lewat kerja sama tim yang cantik. Sofia Gomez Villafane menang dengan catatan waktu 10 jam, 31 menit, dan 37 detik. Finish di depan rekan setim sendiri, Geerike Schreurs.

Strategi tim sebenarnya memberi kesempatan bagi Schreurs untuk melarikan diri ke depan. Tapi ketika dia tertangkap dan harus terjadi adu sprint melibatkan lima pembalap, tim ini langsung memfokuskan dukungan untuk Villafane yang dianggap sebagai sprinter terbaik.

"Ketika waktunya sprint, semua fokus ke saya, dan bisa finis 1-2 itu sulit dipercaya", ucap Villafane.


Selebrasi Sofia Gomez Villafane setelah finis, sebelumnya ia harus berjuang menghadapi medan berat: lumpur dan banjir. 

Tidak kalah dramatis adalah kategori XL, yang menempuh jarak 350 mil (lebih dari 560 km) secara unsupported. Robin Gemperle meraih kemenangan, menempuh jarak total 356 mil (573 km) dalam waktu 21 jam dan 16 menit. Dia unggul 34 menit di depan Sidhartha Mathai.

Catatan waktu itu cukup spektakuler, mengingat Gemperle sempat harus menuntun atau memikul sepedanya sejauh 21 km ("Half marathon", katanya). Penyebabnya, hujan dan lumpur. Di kawasan itu, kalau hujan, tanah memang bisa berubah menjadi lumpur lengket yang sangat merepotkan!

Belum lagi Gemperle mengaku sempat mengalami masalah perut di sekitar kilometer 180. "Secara mental ini sangat menantang", akunya.


Robin Gemperle berhasil menyelesaikan tantangan Unbound Gravel 2026 kategori XL.

Gemperle memang jagoan ultra cycling. Tahun lalu, dia memecahkan rekor tercepat Tour Divide, event off-road yang menempuh jarak membelah Amerika, dari Kanada ke arah Meksiko.

"Saya sangat happy bisa meraih kemenangan ini. Karena saya tidak mau melakukan ini lagi untuk lima tahun ke depan! Saya ingin kembali ke ajang yang (jarak tempuh) jauh-jauhan lagi. Saya lebih nyaman di sana. Lega rasanya yang ini sudah selesai", pungkasnya.

Ternyata, jagoan ultra pun ada kapoknya! (mainsepeda)

Populer

Giro d’Italia 2026-Etape 20: Jonas Vingegaard di Ambang Juara Overall
EJJ 2026: Cerita Sepatu Bolong Miswanto dan Tangan Dewa Yusuf Kibar
Jersey Bromo KOM 2026: Perpaduan Seni Hatching dan Bahan untuk Performa Maksimal
Giro d’Italia 2026-Etape 19: Sepp Kuss Menang di Dolomites, Lengkapi Koleksi Grand Tour
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Unbound Gravel 2026: Kerja Tim Menangkan Mads Wurtz Schmidt dan Sofia Gomez Villafane
Jamin Kelancaran Bromo KOM 2026, Ratusan Personel Kepolisian Siap Amankan Rute
Usia Bukan Alasan, Peserta Kategori Men 60+ Ini Punya Menu Latihan Serius Menuju Bromo KOM 2026
Polda Jatim Kembali Jadi Titik Start, Bromo KOM 2026 Jadi Rangkaian HUT Ke-80 Bhayangkara
Bromo KOM 2026: Ketika Para Remidial Tak Pernah Kapok Tuntaskan Misi Finis Bahagia