Bagi ribuan pesepeda, tanjakan konstan sepanjang 25 kilometer menuju puncak Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, adalah sebuah ritual tahunan yang sakral. Di jalur menanjak itu, Bromo KOM 2026 akan dijadwalkan bergulir 6 Juni mendatang.
Akan tetapi, tak semua cyclist mampu menaklukkan rute magis ini. Banyak di antaranya menyerah di tengah jalan, beberapa lainnya finis, tapi harus over cut off time (COT).
Fachmi Effendi, salah satunya. Sejak tahun 2023, pesepeda asal Sidoarjo ini tidak pernah absen menyandarkan sepedanya di garis start Bromo KOM. Tiga kali tampil, tiga kali pula ia harus menerima kenyataan pahit: mencapai Wonokitri saat COT sudah terlewat. Fisiknya kerap kedodoran menjaga konsistensi di tanjakan ikonik itu.
Baca Juga: Bupati Pasuruan Sambangi Kantor Mainsepeda, Pastikan Dukungan Penuh untuk Bromo KOM 2026
Meski demikian, Fachmi menolak menyerah. Menyambut tahun keempatnya, ia memilih melipatgandakan porsi latihan mandiri. Bagi Fachmi, podium tertinggi adalah saat ia mampu menaklukkan ego di atas sadel.
"Sebenarnya kalau kendala di jalan tidak ada, semuanya aman. Baik-baik saja. Hanya mental kita saja sebenarnya, kalau mau dipaksa (pasti) bisa,” kata Fachmi.
Tahun ini, ia tidak muluk-muluk untuk mengincar catatan waktu impresif. "Bagi saya, ikut event Bromo KOM Juni ini untuk membuktikan bahwa saya harus bisa memaksakan diri dan berjuang sampai finis di Pendopo Wonokitri. Apa yang kita rasakan di badan itu layaknya kebahagiaan mendapatkan medali," ujarnya filosofis.
Rasa "penasaran" juga membayangi Galih Maulana. Dalam tiga edisi terakhir, pesepeda asal Gresik ini memiliki catatan rapor yang kurang beruntung: dua kali gagal finis (did not finish/DNF) dan sekali terlambat dari batas waktu.
Tahun lalu, Galih menyerah di tengah jalan. Runtuhnya pertahanan Galih bukan sekadar karena kelelahan, melainkan karena sebuah perang batin usai membaca spanduk di pinggir jalan yang disiapkan panitia. “Finish yang Sebenarnya Adalah di Rumah”. Kalimat yang sejatinya imbauan keselamatan itu justru memukul mundur mentalnya yang sedang rapuh. Galih memutuskan memutar balik arah sepeda sebelum menyentuh puncak.
Dengan postur 172 cm dan bobot 95 kg, Galih sadar fisiknya belum ideal. Namun, rasa penasaran mengalahkan kalkulasi di atas kertas. “Dari seluruh Trilogy (Mainsepeda) yang belum pernah finish cuma Bromo. Penasaran saja sih. Masa saya belum bisa?” cetus Galih.
Sementara itu, Gunawan Aris Pramana datang dari Sleman, DI Yogyakarta, dengan bekal realisme yang matang. Pada debutnya tahun lalu, Gunawan sebenarnya berhasil menyentuh garis akhir di Wonokitri. Sayang, ia terlambat 15 menit dari regulasi waktu yang ditetapkan. Medali finisher pun melayang.
Kembali hadir dengan berat badan 97 kg, Gunawan tahu mengejar COT di Bromo dengan postur "kelas berat" adalah perkara yang teramat sulit. Namun, ia konsisten merawat napas lewat latihan morning ride sejauh 45 kilometer demi menuntaskan apa yang kerap disebut sebagai "naik haji"-nya para pesepeda Indonesia ini.
"Membuktikan untuk diri sendiri saja. Namun, berat badan saya sekarang 97 kg, sepertinya berat kalau bisa finis sebelum COT. Saya juga ingin sekalian refreshing," tutur Gunawan.
Jika Fachmi, Galih, dan Gunawan bertarung melawan batas fisik, nasib berbeda dialami A.A Gede Putra Purnama. Pesepeda asal Gianyar, Bali, ini bukan karena amatiran di rute jarak jauh. Tahun ini, ia bahkan sukses menuntaskan rute ekstrem East Java Journey (EJJ) sejauh 600 Km.
âIronisnya, keperkasaan Gede rontok di Bromo KOM perdananya tahun lalu. Bukan karena kehabisan napas, melainkan karena nasib sial di kilometer pertama.
Hanya satu kilometer setelah lepas dari garis start di Surabaya, ban sepedanya bocor berulang kali. Karena hari masih terlampau pagi dan belum ada toko sepeda yang buka untuk memberikan bantuan teknis darurat, panitia terpaksa menghentikan perjalanannya demi keselamatan.
Baca Juga: Polda Jatim Kembali Jadi Titik Start, Bromo KOM 2026 Jadi Rangkaian HUT Ke-80 Bhayangkara
"Ya, gagal masalah teknis di lapangan saja, kadang di luar prediksi. Intinya (tahun ini) mau menikmati tanjakan dan alamnya saja, karena ingin menuntaskan Bromo," jelas Gede.
Bromo KOM telah memasuki edisi ke-12 dan telah rutin digelar sejak 2014 silam. Tahun ini, start akan kembali start dari pelataran Markas Polda Jawa Timur (Mapolda Jatim). Dari sana, rombongan akan mengarah ke Kabupaten Pasuruan, sebelum menanjak ke puncak Bromo via Wonokitri.
Saat ini pendaftaran All-Event Mainsepeda saat ini masih dibuka, termasuk registrasi single event. Pendaftaran empat event Mainsepeda 2026 yang tersisa, yakni Bromo KOM, Ngebel KOM, Nggravel Glenmore, dan West Java Journey (WJJ), dapat dilakukan melalui Mainsepeda App. Selain itu, tersedia pula paket bundling dengan potongan harga per kategori event, seperti King of the Mountain (Bromo KOM dan Ngebel KOM). (mainsepeda)