Istilah Bromo KOM sebagai "event naik haji-nya" para cyclist ternyata santer hingga mancanegara. Istilah itu pula yang membuat penasaran sejumlah pesepeda dari luar negeri, sebelum akhirnya mereka memutuskan mengikuti event tahunan tersebut.
Salah satu yang terang-terangan mengungkapkan hal itu adalah peserta asal Malaysia, Jmin Jian Jot. Ia mengenal Bromo KOM dari komunitasnya. Jmin penasaran ketika ada salah satu anggota komunitasnya yang menyebut Bromo KOM sebagai pilgrimage (naik haji) bagi para cyclist.
“Yang bikin saya penasaran, katanya Bromo KOM itu seperti pilgrimage untuk cyclist di Indonesia,” tegasnya.
Jmin sendiri berstatus debutan di Bromo KOM 2026. Setelah mendengar dari banyak temannya tentang Bromo KOM, ia merasa event itu bukan sekadar kompetisi. Ia melihatnya sebagai pengalaman baru, apalagi ia juga akan bertemu dengan teman-temannya dari berbagai negara yang sama-sama ikut event ini.
"Saya tahu Bromo KOM ini dari teman-teman komunitas sepeda, salah satunya sesama cyclist dari Rapha Melbourne," kata Jmin.
Ia berharap bisa menyelesaikan rute Bromo KOM di debutnya ini. "Saya sempat mencoba Peaks Challenge (event sepeda di Melbourne) tahun ini, tetapi tidak berhasil finis," kelakarnya.
Jmin Jian Jot membagikan dokumentasi perjalanan bersepedanya ke beberapa negara.
Daya tarik Bromo KOM memang tidak hanya datang dari dalam negeri. Sejumlah cyclist asing dari berbagai negara dipastikan ambil bagian. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, tetapi punya satu kesamaan: penasaran dengan tanjakan Wonokitri yang legendaris.
Jika Jmin mengetahui Bromo KOM dari temannya, berbeda dengan Daniel Jaramillo Uribe, cyclist asal Kolombia. Ia mengaku menemukan Bromo KOM secara tidak sengaja. Berawal dari pencarian di Google Search, hingga akhirnya tertarik setelah menonton video di kanal YouTube Mainsepeda.
“Saya mencari event sepeda climbing, lalu menemukan Bromo KOM. Setelah melihat videonya, saya langsung ingin ikut,” ujarnya.
Bagi Daniel, yang berasal dari negara dengan kultur climbing kuat, Bromo KOM tetap terasa spesial. Ia menilai karakter tanjakan tanpa jeda sejauh hampir 25 kilometer menjadi tantangan yang jarang ditemui di event lain.
“Biasanya ada turunan untuk istirahat. Tapi di Bromo KOM tidak ada ya? Itu yang bikin penasaran,” tambahnya.
Dokumentasi Daniel Jaramillo Uribe saat mengikuti beberapa event.
Cerita berbeda datang dari Jepang. Hirokatsu Miyauchi mengetahui Bromo KOM dari rekannya. Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung mendaftar.
“Saya mendaftar secara impulsif. Sekarang justru mulai berpikir apakah saya bisa menaklukkannya,” ujarnya, lantas tertawa.
Hirokatsu berharap “petualangan”-nya di Bromo KOM nanti bisa meninggalkan kesan mendalam. "Saya ingin punya cerita yang tak terlupakan, bahkan ketika nanti kembali ke Jepang," katanya. Saat ini, Hirokatsu mengaku persiapannya masih sebatas gowes rutin dengan mencari rute yang memiliki tanjakan.
Meski datang dengan motivasi berbeda—mulai dari yang serius mengejar performa hingga sekadar ingin mencoba—ketiganya memiliki tujuan yang sama: finis di Bromo.
Namun, itu bukan hal mudah. Tanjakan menuju Wonokitri dikenal konstan, panjang, dan minim ruang untuk “bernapas”. Justru di situlah daya tariknya.
Pendaftaran All-Event Mainsepeda saat ini masih dibuka, termasuk untuk registrasi single event. Bagi yang berminat, Anda masih bisa mendaftar di empat event Mainsepeda 2026 mendatang, yaitu Bromo KOM, Ngebel KOM, Nggravel Glenmore, dan West Java Journey (WJJ) melalui Mainsepeda App.
Di sisi lain, tersedia juga paket bundling yang menawarkan potongan harga per kategori event, seperti kategori King of the Mountain (Bromo KOM dan Ngebel KOM), Gravel (Nggravel Blitar dan Glenmore), serta Ultra Cycling (EJJ dan WJJ) dengan potongan hingga 25 persen. (mainsepeda)