Rawon. Makanan khas Jawa Timur yang berkuah dengan daging dan telur asin serta kerupuk itu yang jadi perekat Strattos Cycling Communitty (SCC).

“Kita gowes pasti cari rute yang tempat finisnya ada depot jual rawon. Apalagi jika gowesnya jarak jauh,” buka Yusuf Hermawan, salah satu pendiri SCC. Yusuf berkisah, awal mula terbentuk SCC ini berangkat dari kesamaan sepeda yang digunakan yaitu Polygon Strattos.

“Pertama kali beli Strattos dulu saya tergabung dalam grup facebook Strattos User Community Indonesia (SUCI). Anggotanya dari seluruh Indonesia. Lalu cyclist yang berdomisili di Surabaya dan Sidoarjo sepakat untuk kopdar dan gowes bersama,” bilang Yusuf.

Gowes perdana itu diikuti cyclist yang dikenal sebagai pendiri SCC yakni Sunartiko, Fadly, Galih, Eko Rudianto, Kamto, dan Yudith. Dari situ, makin banyak pengguna Strattos di Surabaya-Sidoarjo yang bergabung dan akhirnya terbentuklah Strattos Regional Surabaya. Lambat laun berubah menjadi Strattos Cycling Club (SCC).

Kian serius, SCC membuat seragam komunitas dan mengambil tanggal 25 Maret 2018 sebagai hari resmi lahirnya SCC. Rute gowes Surabaya ke Gudang Garam, Pandaan jadi pilihan untuk launching jersey ride. Hingga saat ini, tercatat 92 anggota SCC.

Uniknya, meskipun mereka menggunakan nama Strattos karena berawal menggunakan sepeda Polygon, tapi banyak juga anggotanya yang telah berganti sepeda.

“Kita sepakati mengganti arti Strattos menjadi adalah lapisan awan. Bisa digambarkan bahwa anggota SCC terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dengan macam-macam sepeda,” cerita Yusuf.

Di komunitas SCC tidak ada susunan organisasi. “Semua keputusan diambil secara poling kekeluargaan. Hanya ditunjuk seorang bendahara dan kordinator apabila ada even tertentu dan bubar setelah even berakhir,” tutur Yusuf.

Contoh, pemilihan rute gowes bareng mingguan. Beberapa anggota memberikan alternatif rute. Keputusannya diambil melalui sistem poling suara terbanyak.      

Hari Sabtu ditetapkan sebagai hari gowes bersama untuk rute pendek kisaran 50 m dengan tujuan Sidoarjo atau Pandaan. Sedangkan hari Minggu baru rute panjang di atas 100 km.

“Banyak pilihan, bisa ke kebun the Lawang, Nongkojajar, Jolotundo, Jatijejer, Pacet, dan lainnya,” tutur Sunartiko, salah satu pendiri SCC.

Melebur dan membuang kesan eksklusif, SCC rutin mengikuti even yang diadakan oleh komunitas lain. Seperti Tour de Manoreh, Srambang KOM, Audax Solo 600 km. Juga gowes bersama komunitas lain. “Kita pernah gowes bareng Meteor Cycling Club ke Jolotundo dan Tretes,” tutur Sunartiko.

Mayoritas anggota SCC adalah cyclist pemula. Dan mereka semua memiliki satu harapan yaitu bisa lulus gowes menanjak ke Wonokitri, Bromo. “Menurut mereka sangat menakutkan karena menanjak terus,” bilang Yusuf.

Untuk itu, SCC membuat acara gowes akbar SCC Healthy Ride to Bromo. Sebagai persiapannya, membuat program latihan dua bulan sebelumnya. Akhirnya SCC bisa lulus hingga puncak Wonokitri, Bromo. Malah ketagihan, tiga bulan berikutnya, SCC mengadakan gowes menanjak ke Paralayang, Batu.

Hasan bisa tiga kali dalam seminggu gowes ke Wonokitri, Bromo saking senangnya bisa melampaui batasan diri sendiri. Tak kalah hebohnya, Abu Dawud, anggota SCC yang berdomisili di Solo pasti hadir saat ada even gowes akbar di Surabaya. Seperti ke Bromo dan Paralayang. Hebatnya, Abu datang ke Surabaya dengan menggowes sepedanya dari Solo. Begitu pula pulangnya, dari Surabaya digowes balik Solo.

Abu Dawud.

Lain lagi dengan Alwi, yang dikenal dengan panggilan coach pernah bersepeda dari Jakarta ke Surabaya yang ditempuh dalam tiga hari.

“Yang penting, di SCC kita tidak bertanding. Tapi saling mendukung dan support agar berkembang bersama. Sesuai slogan kami yaitu, Seduluran Saklawase-Budal Bareng, Moleh Bareng,” tutur Yusuf.

Jadi gowes menanjak di gunung-gunung, dan kemampuan anggota SCC berbeda maka terjadi jarak yang memisahkan mereka. “Tapi rawon di tempat finis menyatukan kita kembali,” tutup Yusuf lantas tertawa. (mainsepeda)

Hasan (paling kanan) menyabet juara 3 KOM Tour de Manoreh. 


COMMENTS