Insiden patah pergelangan tangan kiri yang dialami Abid Hanief dalam ajang Nggravel Blitar 2026 tak lantas menyurutkan semangatnya. Sebaliknya, ia justru melontarkan apresiasi tinggi terhadap kesiapsiagaan tim medis gabungan Mainsepeda dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar yang dinilai bekerja dengan standar profesional.
Abid, yang turun di kategori kompetitif Gravel Men 34 and Under, awalnya berada di peloton terdepan sejak start race. Namun, petaka terjadi saat memasuki Kilometer 9, di sebuah segmen pinggir sungai yang mengarah masuk ke area hutan.
Perubahan cahaya yang drastis menjadi pemicu utama. Kacamata photocromic yang dikenakan Abid masih dalam kondisi gelap karena merespons teriknya cahaya matahari di rute sebelumnya. Saat memasuki area hutan yang rimbun dan redup, pandangannya seketika tertutup.
Baca Juga: Cerita Survival dan Healing Asyik Peserta Nggravel Blitar 2026
"Pandangan langsung auto gelap. Saya jadi tidak bisa mengidentifikasi lubang dan rintangan di depan," kenang Abid. Ia pun kehilangan kendali, terjatuh, dan mengalami cedera serius pada pergelangan tangannya.
Meski terjatuh di lokasi yang cukup menantang, bantuan datang dalam hitungan menit. Tim Gerak Cepat (TGC) bermotor yang bersiaga di sekitar lokasi langsung memberikan pertolongan pertama. Sekitar 15 menit berselang, ambulans tiba untuk mengevakuasi Abid ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
"Penanganannya sangat gercep (gerak cepat), sat-set. Mulai dari penanganan awal di lokasi, penjemputan menuju RS, pendampingan selama perawatan, bahkan sampai urusan asuransi pasca-event pun dibantu," ujar cyclist asal Yogyakarta tersebut.
Bagi Abid, sistem mitigasi insiden yang disiapkan panitia sudah sangat matang. Menariknya, trauma fisik tidak membuatnya jera. Saat ditanya apakah akan kembali ikut balapan gravel, ia menjawab dengan nada seloroh, "Enggak kapok dong, api masih menyala!"
Tim medis lantas membawa Rijal ke Puskesmas Sutojayan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Terkait respon tim medis, Rijal memberikan pujian. Setelah melapor keadaannya di grup Whatsapp peserta, tim medis datang kurang dari lima menit untuk memberikan penanganan pertama. "Bagus, tanggap sekali. Kira-kira 5 menit, cepat kok. Tim dari Mainsepeda cepat, medisnya juga cepat. Mainsepeda kalau adakan event bagus terus, puas," timpalnya.
Faktor keselamatan memang menjadi prioritas utama penyelenggara, mengingat Nggravel Blitar 2026 mulai memperkenalkan kategori race (balapan) yang memiliki risiko lebih tinggi terjadinya insiden. Dukungan penuh pun diberikan oleh Pemkab Blitar dengan menyiagakan infrastruktur medis yang masif.
10 Puskesmas dan 6 Rumah Sakit rujukan di sepanjang lintasan disiagakan. Sementara itu, puluhan tenaga medis yang tersebar di titik strategis seperti Check Point (CP). 5 unit ambulans di titik rawan dan 7 Tim Gerak Cepat (TGC) roda dua yang membawa emergency kit untuk menjangkau medan sulit.
Baca Juga: Sambut HUT ke-112, Pemkot Malang-BPJS Ketenagakerjaan Gelar Gowes 112 Km
Perwakilan Mainsepeda, Donny Rahardian, menyampaikan apresiasi atas dukungan total dari tuan rumah. "Terima kasih kepada Pemkab Blitar. Berkat kolaborasi ini, Nggravel Blitar 2026 berjalan lancar dan aman bagi peserta," tuturnya.
Kesuksesan penyelenggaraan tahun ini membuat Bupati Blitar, Rijanto, berharap agar ajang ini dilaksanakan sebagai agenda reguler.
"Terima kasih kepada Pak Azrul Ananda (Owner DBL Indonesia/Mainsepeda), seluruh panitia, serta pihak kepolisian dan perhubungan. Insyaallah tahun depan kegiatan serupa akan kembali digelar di Blitar yang kita cintai ini," pungkas Rijanto.
360 peserta memadati Blitar pada akhir pekan lalu untuk mengikuti Nggravel Blitar 2026. Sekitar 85 persennya berasal dari luar Blitar Raya. Hal ini membuat ekonomi di Kabupaten Blitar berputar, efek dari kegiatan sport-tourism Nggravel Blitar 2026. (Mainsepeda)