Lintasan gravel sejauh 100 km kategori MTB pada Nggravel Blitar 2026 melahirkan peraih podium juara dari beragam kota. Empat juara dari empat kelas berbeda, diraih peserta dari empat kota berbeda.
Di kategori MTB Men 34 and Under, jagoan tuan rumah (Blitar) Adrian Kurniawan tampil perkasa. Atlet sepeda gunung asal Blitar ini melesat sebagai finisher tercepat dengan waktu 3 jam 23 menit 57 detik. Latihan endurance dua minggu penuh menjadi bekal penting baginya.
Sementara itu, Berry Perdana Putra menjadi finisher pertama di kategori MTB Men 35-44. Pesepeda asal Jakarta itu mencatat waktu 3 jam 49 menit 34 detik.
Di kategori MTB Men 45 and Up, peserta asal Mataram (NTB) I Made Karang berhasil meraih podium dengan catatan waktu 3 jam 56 menit 8 detik.
Baca Juga: Nggravel Blitar 2026: Podium Gravel Bike Diisi Sosok Familier
Adapun di kategori MTB Women 30 and Up, Zanira Hanifah tampil sebagai pemenang. Perempuan asal Surabaya itu mencatatkan waktu 6 jam 6 menit 38 detik saat tiba di garis finish.
Perjuangan I Made Karang di Nggravel Blitar 2026 penuh drama. Saat balapan, tepatnya di kilometer 75-80, GPS miliknya sempat mati. Tapi, pria asal Mataram itu cukup cerdik. Ia memilih untuk menunggu peserta lain datang agar tidak kesasar.
“Saya sempat bingung, cyclocomp mati. Daripada salah jalur, saya tunggu peserta nomor dua datang. Baru saya ikuti lagi,” ujarnya.
Meski sempat kehilangan ritme, Made tetap menjaga fokus hingga tiba di garis finis. Alhasil, ia menjadi pemenang di kategori MTB Men 45 and Up.
Baginya, ikut event seperti ini bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan menjaga kebugaran dan memberi teladan bagi keluarga. “Kalau tidak ada event, gowes terasa jenuh,” katanya.
Ia menyebut rute Blitar unik dan menantang. Jalurnya panjang, berbatu, penuh tanah, dan tidak terlalu banyak tanjakan. Cocok disebut surganya gravel. Di Nggravel Blitar tahun depan, Made berencana mencoba turun dengan gravel bike. Dan tentu saja mempertahankan capaiannya tahun ini.
“Saya lihat teman-teman gravel bisa melaju kencang di jalan aspal. Speed bisa 40 km/jam. Tahun depan saya ingin rasakan itu,” katanya.
Adrian Kurniawan, atlet sepeda gunung asal Blitar, juga memiliki cerita menarik soal hasil balapan di Nggravel Blitar 2026.
Sejak start, Adrian bersaing ketat dengan atlet gravel nasional, Yusuf Kibar. Adrian sedikit diuntungkan karena advantage terrain Nggravel Blitar sangat cocok untuk sepeda jenis MTB.
“Di Bumi Ayu banyak aspal, jadi gravel enggak bisa ditinggal. Baru di kilometer 30, CP2, ada tanah liat dan batu-batu, di situ saya bisa ninggal Mas Kibar,” ujarnya.
Latihan endurance selama dua minggu dengan total 600-700 km menjadi bekal Adrian untuk meraih podium. Segmen paling berat menurut Adrian ada di Karanganyar, menjelang finis, dengan tanjakan tinggi menuju bendungan. “Kilometer 60-70 itu paling berat. Tapi view bendungan paling indah,” tambahnya.
Sebagai putra daerah Blitar, Adrian merasa bangga bisa mengharumkan nama kota kelahirannya. Setelah kemenangan ini, ia langsung mengalihkan fokus ke Kejuaraan Nasional MTB Juni mendatang.
Sementara itu, Berry Perdana Putra justru tak menyangka bisa finis pertama di kategori Men MTB 35-44. Sejak awal, pesepeda asal Jakarta itu tak pernah menargetkan juara. Sebab, dia ingin enjoy bersepeda menikmati alam Blitar yang Indah. Ternyata Berry justru menyentuh garis finis pukul 09.12 WIB. Di luar prediksinya.
“Tujuannya cuma menikmati rute. Tapi pas race awal disalip gravel, jadi agak kebawa. Kebetulan badan lagi enak, syukur alhamdulillah bisa finis pertama,” ungkapnya.
Karena berhasil meraih podium, Berry berencana ikut ajang Nggravel Glenmore, Oktober 2026 mendatang. Di event itu, Berry tidak akan menggunakan MTB lagi.
Menurutnya, Nggravel Glenmore lebih cocok menggunakan Gravel Bike. “Kayaknya mau ikut. Seru aja. Katanya Glenmore lebih cocok gravel, nanti lihat. Bisa jadi pakai sepeda gravel,” ujarnya.
Sementara itu, Zanira Hanifah menyebut rute tahun ini lebih berat dibanding edisi sebelumnya. “Lebih perih sekarang. Panas banget, jalurnya juga lebih berat. Tapi view-nya oke, bagus sekali,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada cuaca terik dan jalur berbatu menjelang finis, Zanira tetap menjaga energi lewat pitstop. Dia sengaja berhenti di CP1 dan CP2 sebagai strategi untuk menargetkan podium.
Baca Juga: Nggravel Blitar 2026: Adrian Tercepat MTB, Yusuf Kibar Finish Pertama Kategori Gravel Bike
“Pitstop pertama dan kedua minum, di pitstop ketiga saya ambil lemper tiga sama air mineral. Itu cukup buat lanjut sampai finis,” katanya.
Sebagai penggemar MTB, Zanira merasa lebih nyaman dengan suspensi yang membuatnya bisa melibas jalur ekstrem.
Zanira menilai sepeda gravel butuh kehati-hatian ekstra. Tidak adanya suspensi membuat tangan cepat terasa sakit ketika melintasi jalur off-road. Hal itu berbeda dengan MTB yang menurutnya lebih nyaman, terutama saat menghadapi turunan ekstrem yang memungkinkan pesepeda melakukan lompatan kecil di jalur berbatu.
Usai meraih podium, Zanira sudah menyiapkan langkah berikutnya: turun di ajang Nggravel Glenmore, Banyuwangi. “Sudah daftar. Apalagi potensi juara terus. Jadi makin semangat,” ujarnya. (Mainsepeda)