Kabar mengejutkan datang dari juara bertahan Giro d’Italia, Simon Yates. Tiada hujan, tiada angin, pembalap asal Inggris tersebut memutuskan untuk menyudahi kariernya di usia 33 tahun. Keputusan yang 'aneh' karena diambil saat ia masih berada di level tertinggi kompetisi WorldTour.
Pengumuman pengunduran diri ini disampaikan secara resmi oleh timnya, Visma-Lease a Bike, pada Rabu malam, 7 Desember 2025. Yates, yang telah berkarier selama 13 tahun, meninggalkan olahraga ini dengan torehan 36 kemenangan profesional, termasuk dua gelar Grand Tour dan 10 kemenangan etape di ajang-ajang bergengsi.â
"Saya telah memikirkan hal ini dalam waktu yang lama, dan sekarang terasa seperti momen yang tepat untuk melangkah pergi dari olahraga ini," ujar Yates melalui pernyataan resmi yang emosional di media sosial.
Baca Juga: Wout van Aert Absen Tiga Bulan Akibat Patah Pergelangan Kaki
Keputusan ini tergolong tidak biasa mengingat performa Yates yang masih sangat kompetitif. Pada musim 2025, ia berhasil menuntaskan misi balas dendam pibadinya dengan menjuarai balapan GrandTour, Giro d’Italia. Di Sestriere ada etape 20 tahun lalu, ia menebus kegagalan yang menyakitkan di tanjakan yang sama pada 2018. Tujuh tahun lalu, ia kehilangan kaus merah muda (maglia rosa) yang akhirnya direbut oleh Chris Froome. Namun, cerita sebaliknya terjadi musim lalu. Di dobel tanjakan Colle delle Finestre dan Sestriere itu, ia merebut puncak klasemen GC dari tangan Issac del Toro.
Yates memulai kisahnya di dunia balap sepeda di kampung halamannya, Bury, Inggris. Ia berlatih di velodrome kotanya bersama saudara kembar identiknya, Adam Yates. Ia merupakan juara dunia kategori points race pada 2013 sebelum beralih sepenuhnya ke balap jalan raya.
Simon Yates mengangkat trofi Giro d'Italia di Roma tahun lalu.
Karier jalan rayanya melesat cepat sejak memenangi dua etape gunung di Tour de l'Avenir 2013. Setelahnya kemenangan demi kemenangan diraihnya. Total 36 kali ia naik podium tertinggi. Sebagian besar karier profesionalnya dihabiskan bersama tim Orica GreenEdge (kini Jayco AlUla), sebelum akhirnya pindah ke Visma-Lease a Bike pada 2025. Di tim asal Belanda tersebut, Yates rela menerima pemotongan gaji demi mengejar ambisi terakhirnya: kembali memenangi Grand Tour. Dan, mimpinya akhirnya terwujud.
"Berbagai kemenangan memang akan selalu menonjol, tetapi hari-hari yang sulit dan kegagalan justru jauh lebih penting. Semua itu mengajarkan saya tentang resiliensi dan kesabaran," kata Yates.
Direktur Visma-Lease a Bike, Grischa Niermann, mengakui bahwa kehilangan pembalap sekaliber Yates merupakan pukulan bagi tim, meski mereka mendukung penuh keputusan pribadi sang atlet.
"Simon adalah pembalap spesialis tanjakan dan klasemen umum yang luar biasa. Ia selalu memberikan performa terbaik saat momen-momen krusial. Fakta bahwa ia berhenti saat berada di titik tertinggi kariernya menunjukkan kelasnya sebagai seorang profesional," tutur Niermann.
Baca Juga: Daftar Transfer Terbaik 2026, Upaya Menandingi Kekuatan UAE Team Emirats-XRG
Yates tercatat sebagai salah satu pembalap Britania Raya tersukses dalam sejarah. Keberhasilannya memenangi Vuelta a Espana 2018 dan Giro d’Italia 2025 menempatkannya dalam jajaran elite pembalap all-arounder. Bagi Yates, pensiun adalah cara untuk membayar kembali waktu yang hilang bersama keluarga. Ia mengakui bahwa banyak pengorbanan yang telah dilakukan keluarganya, seperti ketidakhadiran dirinya pada momen-momen terbaik selama belasan tahun. Hal itu bukanlah hal mudah bagi Yates.
"Saya melangkah pergi dengan rasa bangga yang mendalam dan kedamaian. Babak ini telah memberi saya lebih banyak hal daripada yang pernah saya bayangkan. Untuk tim saya, Visma Lease a Bike, terima kasih untuk dukungan terharap keputusan saya," pungkasnya.(Mainsepeda)