Nggravel Blitar 2026 Dulu Sebelum Turun di Kejuaraan Dunia Gravel UCI

Gelaran Nggravel Blitar 2026 yang dijadwalkan menyapa para cyclist pada 19 April mendatang dipastikan bakal semakin menarik. Tak sekadar ajang kumpul komunitas, event ini bakal menjadi panggung unjuk gigi tiga cyclist nasional spesialis gravel: Yusuf Kibar, Trihadi Siswanto, dan Arfiana Khairunnisa.

Ketiganya merupakan cyclist pro gravel nasional. Sepanjang 2025, mereka aktif mengikuti event gravel internasional sepanjang 2025 dan melahirkan sejumlah prestasi mentereng. 

Yusuf Kibar tampak basah kuyub ketika melintasi jalur sungai di Dustman 2025. 

Kibar awalnya dikenal luas sebagai ultra-cyclist dengan sederet gelar juara di event nasional ternama. Ia juara dua kali di Bentang Jawa 2024 dan 2025 dengan dua kategori berbeda. Pada 2024, ia juara di nomor solo, sementara tahun berikutnya ia memenangi kategori pair bersama sang ayah, Miswanto. Yang terbaru duet itu juga sukses meraih podium terbaik di East Java Journey (EJJ) 2026, event ultra cycling besutan Mainsepeda. 

Baca Juga: DMCT Rilis Jersey Kelima, Desain Terinspirasi Tim Balap Pro Belanda

Di tengah kariernya yang menanjak, Kibar lantas menjajal profil kompetisi baru: Gravel. Ia mulai aktif berlatih gravel dan mengikuti sejumlah event internasional populer di 2025 seperti Unbound Gravel di Amerika dan UCI Gravel World Series, Dustman, di Thailand. 

Prestasi membanggakan pun ia ciptakan. Kibar yang turun di kelas Men Age 19-29 untuk kategori 100 mil di Unbound Gravel berhasil finis lima besar. Sementara di Dustman 2025, ia finis di posisi keempat. Secara regulasi, Kibar memastikan tiket Kejuaraan Dunia Gravel UCI di Nannup, Australia, pada Oktober mendatang.

Hadi Tombro saat mengikuti Dustman 2025. 

Pasangan suami-istri, Trihadi Siswanto dan Arfiana juga tak kalah aktif mengikuti beberapa event gravel di luar negeri. Seperti Kibar, Fian--sapaan Arfiana-- juga sukses mengamankan tiket Kejuraan Dunia Gravel UCI 2026. Ia meraih podium ketiga di kelas Women 35-39 ketika mengikuti ajang UCI Gravel World Series, Gravelista di Australia. Pencapaian yang sama diraih Fian di Dustman, Thailand. 

Sedangkan, Trihadi Siswanto alias Hadi Tombro belum seberuntung yang lain. Ia mengalami sejumlah masalah teknis saat mengikuti event dua seri UCI Gravel World Series, Dustman dan Gravelista sehingga gagal lolos di kejuaraan dunia tahun ini.

Meskipun demikian, prestasi Tombro tidak kalah mentereng. Ia berhasil naik podium di ajang gravel non-UCI di Filipina: runner Up di kelas Men Age 30-39 ATTCK Unrstrktd Gravel 2025 untuk rute 240 Km dan posisi ketiga di Gravelton 2024 di kelas Men 30-39 pada kategori Gravel 120 Km. 

Hadirnya event gravel yang digelar oleh Mainsepeda disebut sebagai 'angin segar' bagi para cyclist gravel seperti Hadi Tombro dkk. Tahun ini, Mainsepeda akan memperkenalkan kategori race 100 Km di event gravel-nya, Nggravel Blitar dan Nggravel Glenmore. Seperti diketahui, event race Gravel di Indonesia masih sangat jarang digelar. 

"Nggravel Blitar nantinya untuk nambah pengalaman race gravel. Kapan lagi kan ada event gravel di Indonesia, apalagi yang ngadain Mainsepeda yang sudah pasti proper," kata Kibar. 

Jika dibandingkan negara-negara Asean lainnya, event race gravel di Indonesia belum sesemarak yang lain. Namun, Fian menilai hal itu masih wajar. Balap gravel sendiri baru diakui sebagai salah satu disiplin olahraga baru pada 2022 oleh UCI. 

Fian meraih podium ketiga di Dustman 2025. 

Selain itu, mencari rute gravel tidak semudah event road race. Medannya harus menantang, offroad, dan jarak lintasannya panjang. Kesulitan itu membuat event Nggravel selalu menjadi magnet pecinta gravel. Menurut Fian, event Nggravel milik Mainsepeda akan berpotensi menarik minat cyclist asing, terutama pecinta gravel di Asia Tenggara. 

"Karena nggak mudah jadi penggemar gravel pasti pengen cobain berkompetisi di sini. Termasuk negara tetangga yang sekiranya bisa dijangkau," ungkap Fian. 

"Selama ini event gravel race kebanyakan di luar negeri. Kalau wadahnya berkembang, gravel race gak harus ke luar negeri," tambahnya. 

Nggravel Blitar sendiri akan menjadi salah satu program latihan bagi Fian untuk menghadapi Kejuaraan Dunia Gravel UCI di Australia. Selain itu, ia berencana akan mengikuti event gravel di Malaysia, White Stone Gravel Fest, 24-25 April medatang. 

Hal yang sama juga dirasakan oleh Hadi Tombro. Cyclist 36 tahun ini mengaku ingin memanfaatkan seluruh event Nggravel tahun ini, baik Nggravel Blitar maupun Nggravel Glenmore, untuk menambah jam latihan. Harapannya ia sanggup bersaing dan lolos untuk Kejuaraan Dunia Gravel UCI 2027 saat mengikuti event kualifikasi di Dustman 2026 di Tailan pada 14 November mendatang. 

Baca Juga: UAE Tour 2026-Etape 5: Kemenangan Ganda Jonathan Milan di Dubai

"Makin banyak opsi untuk latihan. Kemarin aku kurang latihan, Peyok!" guraunya. 

Para peserta Nggravel nantinya akan terbagi menjadi dua kategori: race dan non-race. Untuk race, rute balapannya akan berjarak 100 Km yang dibagi menjadi dua kompetisi berdasarkan jenis sepeda, Gravel Bike (Drop Bar) dan MTB (flat bar). Masing-masing kategori akan mempertandingkan lima kelompok umur. Men 34 and Under, Men 35-44, Men 45 and Up, Women 29 and Under, dan Women 30 and Up. 

Sementara itu, Mainsepeda juga tetap menyediakan kategori non-race dengan jarak 80 Km. Kategori ini diperuntukkan untuk para cyclist yang hanya ingin sekadar menikmati pemandangan dan perjalanan di rute gravel Blitar yang ikonik. (Mainsepepeda) 


COMMENTS