Tahun ini, saya total sudah gowes 223 kali, menempuh jarak total 18.117 kilometer, menanjak total 132.268 meter. Ini berarti, untuk tahun kedua berturut-turut, saya gagal mencapai angka 20 ribu km dalam setahun. Bedanya, tahun ini saya tidak kecewa.

Tahun lalu, saya gagal karena sempat terganggu virus pandemi itu. Walau nyaris tanpa gejala saat positif, namun saya merasakan after effect yang cukup menyebalkan. Sendi-sendi saya sering kesakitan hingga tiga bulan setelahnya (dan agak mengganggu setelahnya). Itu membuat rutinitas gowes saya kacau, sehingga gagal mencapai target 20 ribu km setahun.

Tahun ini, yang membuat gagal justru seharusnya membuat kita semua bahagia. Karena hidup sudah kembali offline, kembali normal. Kesibukan lama telah kembali, bahkan sempat lebih hectic, membuat jadwal gowes saya sering berantakan. Harus sering ke luar kota, jadwal acara-acara berdekatan, dan lain-lain. Sempat saya superkompensasi dengan gowes jauh-jauh, tapi tentu tidak bisa mengganggu latihan rutin.

Selain itu, umur tidak bisa dibohongi wkwkwk. Kalau sudah kurang istirahat, sudah tidak bisa lagi recovery cepat seperti dulu.


Sebelum pandemi mensponsori tim balap profesional di Amerika.

Bagi yang tidak familiar dengan hobi sepeda, mungkin heran bagaimana bisa seorang penghobi bisa gowes hingga 20 ribu km setahun. Karena itu berarti lebih dari 1.500 km sebulan. Harus bisa di kisaran 400 km seminggu.

Bagi yang sudah benar-benar menekuni hobi ini secara serius, bukan sekadar ikut-ikutan atau gaya-gayaan, mencapai 20 ribu km setahun memang tidak mudah. Tapi sebenarnya tidak spektakuler, masih sangat realistis.

Ini hanya masalah PERSEPSI dan PEMAHAMAN.

Seperti semua olahraga lain, kita butuh waktu untuk membiasakan diri, mengubah habit hidup, melatih otot-otot dan organ-organ terkait. Tidak mungkin baru mulai hobi langsung bisa begitu. Sepeda harga Rp 200 juta juga tidak akan instan bisa membuat Anda sekuat itu.

Saya mulai gowes akhir 2011. Mulai benar-benar serius main road bike pada 2012. Itu berarti, tahun ini saya resmi satu dekade sudah serius hobi sepeda.

Waktu pertama serius, target 100 km seminggu benar-benar sebuah tantangan. Gowes 2-3 kali seminggu, tapi masih 25-30 km sekali keluar rumah. Gowes 100 km sehari adalah sebuah pencapaian besar. Padahal masih belum ada menanjaknya sama sekali.

Lama kelamaan, apalagi dengan menemukan teman atau komunitas yang "searah," kemampuan terus meningkat. Target 100 km seminggu jadi 200, jadi 300, lalu 400.

Dan hebatnya, waktu yang diluangkan tidak jauh beda. Kalau dulu dalam satu jam hanya mampu 25 km, sekarang mampu 30-35 km. Satu jam setengah sudah bisa 50 km. Ketika "Rabu Ceria" alias Happy Wednesday kami mulai di Surabaya pada 2013, jarak 100 km pp dengan menanjak bisa kami selesaikan dalam empat jam. Jam 5 berangkat bareng ke arah selatan Surabaya, menuju tanjakan Tretes (km 50, ketinggian sekitar 800 meter). Lalu, tak sampai jam 9 sudah kembali masuk Surabaya. Kadang 9.30-10.00 karena kita mampir makan pagi atau ngopi dulu.

Gowesnya makin efektif. Duduk-duduk ngobrol dan kongkownya berkurang. Tak terasa, 400-500 km seminggu jadi sesuatu yang realistis di tengah rutinitas keseharian.

Senin libur. Selasa gowes relatif pendek. Rabu Ceria 100 km. Kamis pendek. Jumat libur. Sabtu endurance jarak jauh di atas 100 atau 150 km. Minggu fleksibel mau pendek atau panjang lagi.

Saking efektifnya latihan, ketika badan saya sedang puncak fit beberapa tahun lalu, jadwal saya bisa begini:

Kalau harus terbang pesawat jam 8 pagi, maka saya jam 4.30 keluar rumah gowes 50 km. Jam 6 pagi sudah di rumah lagi, mandi dan siap-siap, lalu langsung ke bandara.

Kalau terbang pesawat jam 10 pagi, bisa gowes lebih jauhan lagi. Berangkat 4.30 atau 5.00 ke arah Pandaan. Buat saya itu 80 km pp. Tanpa berhenti. Sampai rumah jam 7.30. Mandi dan siap-siap, lalu ke bandara.

Malah kalau tidak gowes badan sakit semua.

Pada 2014, saya kali pertama bisa menembus 15 ribu km dalam setahun. Om Bobby Arifin, sahabat-senior-panutan saya liputan Formula 1, sampai membuatkan kaus Nike custom sebagai kado. Kaus itu bertuliskan: "The Show Continues, 16.393 km."

Waktu itu rasanya bangga sekali. Bisa gowes sejauh itu. Ketika kemampuan terus bertambah, jarak itu jadi jarak biasa-biasa saja. Puncaknya, saya beberapa kali tembus 23 ribu km setahun.

Dulu saya pernah menulis, bahwa saya menemukan "sesuatu" saat gowes. Saya bisa merasakan seperti --mungkin-- bersemedi. Makin kenal dengan diri sendiri, selalu berbicara dengan diri sendiri. Jauh dari pekerjaan dan keruwetan, melepaskan diri sejenak dari keluarga. Benar-benar me time. Banyak ide muncul saat seperti itu, yang bermanfaat untuk aspek kehidupan lain. Selain, tentu saja, badan saya yang lebih sehat.

Tentu saja, semakin bertambah umur, tantangannya jadi beda. Pada dasarnya, saya bukan yang berbakat untuk perform di level tinggi dalam bersepeda. Saya harus bekerja keras untuk bisa bersaing dengan teman-teman yang tampaknya memang berbakat.

Dalam tiga tahun terakhir, saya menetapkan target 20 ribu km setahun. Tidak harus dicapai, tapi berusaha mencapai atau mendekatinya. Pada 2020, saat pandemi dan jalan sepi, saya masih berhasil. Dua tahun terakhir gagal.


Bikepacking dari Surabaya ke Mandalika di awal November 2022.

Tidak apa-apa. Tahun 2023 nanti, target saya masih akan sama 20 ribu km. Kalau tercapai akan jadi kebanggaan pribadi. Kalau tidak ya sebisa mungkin mendekatinya seperti sekarang ini. Karena target itu paralel dengan kondisi badan saya. Semakin jauh dari target, semakin saya gemuk dan lemah dan di-bully teman-teman wkwkwkwk.

Dua tahun ini saya menyadari, semakin jauh saya dari target, kompensasinya jauh lebih menyiksa. Itu berarti saya harus makan lebih sehat, makan lebih bersih, makan lebih sedikit...

Yang tidak kenal saya mungkin bertanya: Kenapa tidak olahraga lain? Jawabannya masih sama: Seandainya bisa, saya pasti menjalani olahraga lain itu. Karena sejak kecil saya sangat suka semua olahraga.

Namun, saya punya lutut kanan yang "koplak." Pernah putus total main sepak bola pada 2006 lalu. Saya sudah tidak mungkin lari (malah tidak boleh). Apalagi loncat-loncat. Pilihannya hanya dua: Renang atau sepeda. Karena tidak bisa renang, dan malas belajar renang (plus ada sinus), ya sepedalah jalannya.


Gowes ke puncak Wuling di Taiwan dengan ketinggian 3.275 meter. 

Saya juga berkali-kali bilang, saya menemukan tiga manfaat sekaligus dari bersepeda. Satu, saya dapat olahraganya untuk menjaga kondisi badan. Dua, saya dapat memenuhi kesukaan saya mengutak-atik barang (dulu suka rakit model plastik, main Tamiya, main mobil RC). Tiga, hobi road bike juga memenuhi kesukaan saya terhadap kecepatan (dulu ingin jadi pembalap tapi tak punya uang).

Dan sebenarnya bukan itu saja. Ada manfaat psikologis, dan tentu saja manfaat networking. Dapat banyak teman baru di seluruh dunia. Bisnis juga ada, karena sekarang punya bisnis hobi di sepeda Wdnsdy dan ikut terlibat di SUB Jersey (Bismillah komisaris wkwkwk). Eh, juga sejak 2013 aktif bikin event sepeda untuk terus menjaga keseruan dan keramaian hobi ini.

Tidak ketinggalan, saya jadi mengunjungi tempat-tempat terindah di dunia, yang mungkin tidak akan pernah saya kunjungi kalau tidak hobi sepeda. Seperti Independence Pass di ketinggian 3.600 mdpl di Colorado. Puncak Wuling di ketinggian 3.275 mdpl di Taiwan. Arena gravel di Kansas. Pegunungan superindah di Dolomiti Italia. Dan masih banyak lagi...


Gowes ke Independence Pass pertama kali pada 2013, di ketinggian lebih dari 3600 mdpl.


Mengulangi gowes ke Independence Pass pada 2018.


Ikut Maratona Dolomiti di Italia 2017. Pesertanya 10 ribu orang dari seluruh dunia.

Tidak terasa ya, sudah sepuluh tahun ini saya hobi sepeda. Bagi yang penasaran, saya orangnya cukup terstruktur. Semua catatan gowes saya sejak 2012 terekam di Strava. Menurut aplikasi itu, hingga akhir 2022 ini (terakhir gowes 22 Desember, setelah itu liburan akhir tahun) saya sudah gowes 2.311 kali, menempuh jarak total 188.289 km.

Berarti, selama sepuluh tahun, saya gowes rata-rata hampir 19 ribu km per tahun.

Saya barusan mengecek mobil kesayangan saya, Subaru Impreza WRX hatchback biru keluaran 2012. Kilometer totalnya baru 47 ribu kilometer...


Bersepeda di Passo Gavia di Italia.

Abah saya pernah bertanya, sampai kapan saya terus cari tantangan bersepeda. Mempush badan saya seperti ini. Jawaban saya singkat dan simple: Sampai badan saya tidak mampu lagi.

Ada banyak panutan saya di usia 50-an, 60-an, bahkan 70-an masih mampu gowes kuat. Bahkan lebih kuat dari saya sekarang. Mungkin saya tidak akan bisa seperti mereka. Tapi minimal, mereka memotivasi saya untuk terus mencoba...

Buat teman-teman semua, semoga kita semua terus diberi kesehatan dan kekuatan, serta motivasi untuk menjaga kesehatan itu supaya terus punya kekuatan. Selamat tinggal 2022. Bagi yang merayakan, Selamat Natal. Dan untuk semua, Selamat tahun baru 2023. Semoga semakin indah dan seru untuk kita semua! (azrul ananda)

-                 

PS: Ketika mulai bersepeda sepuluh tahun lalu, berat badan saya 85 kilogram. Ketika kuat-kuatnya sekitar lima tahun lalu, berat badan saya hanya 68 kilogram. Sekarang? Kisaran 74-76 kilogram. Jadi, baju saya dari XL turun ke XS, lalu sekarang ke M. Mungkin ini yang dimaksud dengan keseimbangan. Wkwkwk...


Tahun 2016 ketika badan terkurus hanya 68 kilogram.

 

 


COMMENTS