Main sepeda di Manado
Gunung Mahawu, Antara Surga dan Neraka
by - February 05, 2018
Main sepeda di Manado
Gunung Mahawu, Antara Surga dan Neraka
by Royke Hendra - February 05, 2018

Dibandingkan daerah lain, Manado memiliki banyak rute eksotik sekaligus menantang untuk main sepeda. Di Manado rasanya sulit skali mencari rute sepeda yang flat, jalanannya kalau bukan tanjakan, ya rolling karena memang topografi di bumi Nyiur Melambai ini berbukit dan pegunungan.

Tapi itulah enaknya disini, tidak perlu jauh-jauh kalau kita ingin latihan nanjak ataupun sekedar ingin menikmati pemandangan & suasana pegunungan.

Salah satu tujuan favorit kami adalah nanjak ke Gunung Mahawu. Gunung api yang sudah tidak aktif ini cukup dekat dari kota Manado, cukup 31 km dari pusat kota.

Dengan ketinggian 1324 mdpl (meter di atas permukaan laut) kita bisa melihat kota yang ada di Minahasa walaupun seringnya ditutupi kabut tebal di pagi hari.

Biasanya saya dan teman – teman Manado Cycling Mania berkumpul di Patung Sam Ratulangi atau di daerah Citraland Winangun jam 6 pagi.

Start dari Patung Sam Ratulangi Wanea, langsung menanjak ke Winangun. Strava segmen “Karombasan climb” menanti anda, dengan jarak 2.9 km gradient 5-12 persen, menjadi pemanasan awal.

Dari Citraland Winangun menurun sedikit ke Pineleng dan mulai menanjak tanpa henti hingga sampai Tinoor kurang lebih 12km dengan total elevation gain sampai 600 m.

Sepanjang perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yg indah dan sejuk terutama di daerah Tinor Jaya atau yang biasa kita kenal dengan Pemandangan, karena kita bisa melihat seluruh kota Manado dan Bunaken dari atas.

Jalanan yang berkelok – kelok mengharuskan kita untuk hati - hati bersepeda di sini, tapi jangan khawatir, orang Manado ramah dan sabar untuk mengalah, memberi jalan pada kita.

Dari Pemandangan, kita terus melewati desa Tinoor, dari sini tanjakannya sudah lumayan bersahabat (gradient 3-7 persen) sampai Desa Kinilow.

Memasuki kota Tomohon ada segment Strava terakhir “Kakaskasen Climb” berjarak 2,1 km gradient 6-8 persen dan sedikit kebut-kebutan mengakhiri tanjakan panjang melengkapi latihan kami, dan sampailah kita di kota Tomohon.

Setelah dihajar tanjakan sepanjang 17 km dan total elevasi 865m, kita recovery sedikit karena jalan agak turun memasuki pusat kota Tomohon. Tunggu dulu ini belum sampai ke Mahawu, lho!

Untuk menuju ke Puncak Mahawu, ada 2 jalan. Pertama, melewati pasar dan terminal Tomohon, dan kedua lewat kebun sayur dan bawang.

Yang pasti kedua jalur ini jadi neraka bagi pesepeda manja, tapi merupakan surga bagi para penikmat tanjakan !.

Lewat terminal dan pasar tradisional Tomohon yang legendaris itu (dagangannya tidak biasa, jual daging ular phyton, kelelawar alias Paniki, Tikus, Anjing, Monyet dan lainnya), kita belok kiri dan mulai nanjak lagi sepanjang 5,2 km sampai ke puncak Mahawu. Gradient 12-18 persen cukup menyiksa bahkan ada terlihat di garmin sampai 28 persen tapi inilah tantangan kenikmatannya.

“Paksa, jangan Pasrah…!!”, seru Ferry Palar, anggota MCM yang hampir tiap minggu 2-3 kali melewati rute ini . Walaupun sudah ngos ngosan, tapi karena semangat dan karena malu ledekin, tetap memaksakan diri untuk bisa finish di Puncak Mahawu.

Alternatif rute kedua adalah lewat kebun sayur. Dan ini lebih gila lagi, setelah melewati rolling di Bukit Doa, langsung menanjak sepanjang 4 km, cukup terjal tanpa ada gradient di bawah 10 persen.

Ada 2 tanjakan pendek hanya 100-150 meter tapi kemiringan 25-33 persen cukup membuat saya berpikir untuk turun dari sepeda. Tapi teringat teriakan Ferry “Paksa! Jangan Pasrah!” jadinya saya semangat lagi!

Jalannya sangat sepi, udaranya bersih dan sejuk, suara burung jelas terdengar entah menyanyi merdu atau berteriak menyoraki kami menambah kenikmatan menanjak di sini.

Tidak sia-sia main sepeda ke sini, selain melatih otot dan jantung menjadi kuat, pemandangan yang menakjubkan menanti anda, pikiran jadi tenang dan senang, siap untuk kembali menghadapi kesibukan harian kami.

Saya sendiri tidak pernah bosan dengan rute dan pemandangan di sini, yang bosan itu tanjakannya hahahaha..

“A perfect cycling path will always has a nice coffee stop...”

Dan itulah salah satu alasan kami sering ke Tomohon, kopi dan biapong (bak pao). Setelah menikmati pemandangan yang indah, kita turun dan singgah di rumah kopi Hok Lae.

Selain kopi dan bakpaonya enak, mie cakalang kuah atau nasi goreng boleh dicoba. Apalah artinya semangkuk mie cakalang dibandingkan dengan kalori yang sudah terbakar sewaktu bersepeda tadi ? Worth it!


COMMENTS