Kata Sagan tentang Status Pembalap Termahal Dunia

| Penulis : 

Peter Sagan (Bora-Hansgrohe) menjadi pembalap WorldTour dengan bayaran tertinggi di dunia, begitu klaim surat kabar Perancis, L'Equipe. Menurut mereka, superstar asal Slovakia tersebut menerima upah sebesar 5 juta Euro semusim. Akan tetapi, Cyclingnews mengklaim gaji sagan menyentuh 5,5 juta Euro.

Pada akhir Mei lalu L'Equipe merilis 20 pembalap dengan bayaran tertinggi dunia. Sagan berada di posisi teratas. Menurut L'Equipe, bayaran Sagan melampaui gaji Chris Froome di Ineos Grenadiers. Rider asal Wales itu digaji 4.5 juta Euro.

Gaji Sagan juga melampaui dua pembalap Slovenia yang merajai dua Grand Tour tahun ini, yakni Primoz Roglic (Jumbo-Visma) dan Tadej Pogacar (UAE Team Emirates). Keduanya disebut sama-sama menerima bayaran 2 juta Euro.

"Terus terang saya tidak tahu. Saya tidak tahu kontrak dari pembalap lain," jawab Sagan mengenai status sebagai pembalap termahal di dunia.

Sagan memang berkembang luar biasa dalam satu dekade ini. Ia memulai karier WorldTour bersama tim asal Italia Liquigas-Doimo (kini EF Pro Cycling) pada 2010 silam. Sejak saat itu Sagan bertransformasi menjadi seorang pembalap profesional sekaligus superstar bernilai jutaan Euro.

Sagan mendominasi jersey hijau di Tour de France 2020. Ia sudah tujuh kali memenangkannya. Pamornya meningkat setelah menjadi juara dunia. Makin istimewa karena Sagan meraihnya dalam tiga tahun berturut-turut, yakni 2015, 2016, dan 2017.

Selebrasi Sagan setelah memenangkan Etape 10 Giro d'Italia 2020

Dengan segala kemewahan dan fasilitas yang diperolehnya dalam sepuluh tahun terakhir, Sagan mengaku tak banyak berubah dari dirinya. Ia tetap seorang Peter Sagan yang selalu bekerja keras dan berupaya maksimal untuk mendapatkan hasil terbaik di balapan.

"Hidup saya benar-benar berubah tiga tahun lalu dengan kelahiran putra saya, Marlon. Sejak saya menjadi seorang ayah, saya memiliki lebih banyak tanggung jawab. Marlon adalah hadiah terbaik yang disediakan kehidupan untuk saya," aku Sagan kepada media asal Italia Tuttobiciweb.

Setelah merebut berbagai gelar bergengsi dalam dekade ini, Sagan mengaku selalu memiliki cara untuk membangkitkan motivasinya. "Saya memilih olahraga ini karena saya menyukainya. Saya puas dengan apa yang saya menangkan sampai saat ini," aku Sagan.

"Akan tetapi, saya tidak merasa puas. Jika saya masih membalap, itu karena masih banyak yang harus saya menangkan. Serta saya merasa bisa bertarung lagi dengan pembalap terbaik di dunia," bilang pemenang Paris-Roubaix 2018 itu. (mainsepeda)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 23

Foto: Bettini Photo, RCS Sport, Getty Images

Populer

Race Around Java: Keliling Jawa 3.000 Km, Total Nanjak 30.000 Meter
Vuelta a Espana 2026-Etape 13: Van Aert Tuntaskan Breakaway dengan Kemenangan
Vuelta a Espana 2026-Etape 12: Omrzel Menang Solo, Enric Mas Kokoh di Puncak GC
Zidan Nouval Juara Bentang Jawa 2026, Kawinkan Gelar Ultra-Cycling 1.500 Km
2 Cyclist Siap Nikmati Jalur ala Unbound Gravel di Nggravel Glenmore 2026
Race Around Java: Sebanyak 45 Cyclist Ultra Jalani Petualangan 3.000 Km
Dari Jawa Timur ke Bentang Jawa: EJJ Jadi Tempat Belajar Pegowes Ultra
Race Around Java 2024: Citra Dewi Juara, Rekor Ultra Indonesia 3.000 Km dalam 10 Hari
Pompa Ban Anda sesuai Berat Badan
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!