Evolusi Sepeda Trek: Dari Madone Allrounder hingga Emonda Aero
by - June 30, 2020

Produsen sepeda terbesar Amerika Serikat, Trek, baru saja merilis senjata terbarunya. Trek Emonda SLR 2021, sebuah sepeda ringan climber yang memiliki bentuk aero.

Sepeda ini merupakan produk termutakhir dari evolusi perkembangan sepeda-sepeda balap Trek dalam 15 tahun terakhir. Dari satu sepeda untuk semua bernama Madone, yang kemudian bercabang tiga jadi Madone, Domane, dan Emonda, yang masing-masing terus berevolusi menurut tujuannya.

Sebagai penggemar Trek, kebetulan saya punya koleksi evolusi ini. Khususnya edisi Tim WorldTour. Mulai zaman RadioSchack-Nissan-Trek hingga Trek-Segafredo sekarang. Beberapa merupakan sepeda "bekas" tim balap asli yang saya koleksi. Dari Madone 6.9 2010, berlanjut ke Madone 7 aero allrounder, hingga cabang-cabangnya sekarang.

 

Trek Madone 6.9 - RadioShack-Nissan-Trek

Nama "Madone" merupakan nama legendaris buat Trek. Inspirasinya dari era Lance Armstrong, yang pernah memenangi Tour de France tujuh kali (lalu dicoret). Nama itu diambil dari sebuah tanjakan di Prancis Selatan, Col de la Madone, tempat Armstrong memoles diri secara rutin.

Dan sebelum 2014, nama "Madone" identik dengan sebuah sepeda allrounder dengan performa tertinggi. Dihajar untuk datar, tanjakan, maupun medan-medan kasar. Tinggal menyesuaikan wheelset dan bannya saja.

Trek Madone 6.9 RadioShack-Nissan-Trek ini saya dapatkan melalui koneksi di Amerika. Bekas dipakai tim pada 2010-2011. Komponen saya buat semirip mungkin dengan versi tim asli. Termasuk Shimano Dura-Ace 7900 Di2 10-speed. Wheelset alloy itu biasa dipakai untuk training para pembalapnya.

Yang menarik, bila frame ini dijual memakai racikan karbon OCLV 700 (tertinggi Trek kala itu), sepeda yang saya dapat ini OCLV 600. Sedikit di bawahnya. Ketika saya tanya, jawabannya keren: Karena pembalap kadang butuh frame lebih berat untuk memenuhi regulasi bobot sepeda minimum 6.8 kg. Khususnya untuk size-size kecil.

 

Trek Madone 7 - RadioShack-Nissan-Trek

Sahabat saya Prajna Murdaya mengajak beli sepeda ini usai menonton Tour de France 2012. Waktu itu, Madone 7 ini merupakan paling mutakhir. Sebuah sepeda allround yang mengedepankan aerodinamika. Sekilas bentuknya biasa, tapi ada sentuhan bentuk aero halus. Plus ini sepeda yang mempopulerkan --kala itu-- pemakaian rem belakang di bawah chainstay.

Sekali lagi, speknya sama dengan yang dipakai tim. Masih memakai Dura-Ace Di2 10-speed dengan wheelset Bontrager Aeolus 5.

Lewat Madone 7 ini, Trek memperkenalkan dua varian head tube. Ada H1 untuk yang suka posisi agresif (lebih rendah), ada H2 bagi yang ingin posisi lebih nyaman (lebih tinggi).

 

Trek Domane 6.9 Spartacus + Trek Domane SLR Fabian Tour LE

Mulai 2013, Trek mulai membedakan sepeda performance-nya berdasarkan kebutuhan medan. Untuk balapan-balapan yang melewati medan berat, khususnya jalanan bebatuan (cobble), mereka meluncurkan Domane. Memainkan urutan huruf dari Madone.

Pada versi pertama, sepeda ini dilengkapi dengan suspensi di tempat seat tube dan top tube bertemu. Dinamai ISO Speed Decoupler. Membantu meredam kejut tanpa mengurangi performa.

Pada versi kedua yang keluar pada 2015, Domane SLR, Trek membuat ISO Speed belakang itu bisa disetel. Keras atau lunak. Caranya mengubah posisi slider di seat tube. Versi kedua ini juga dilengkapi peredam kejut di bagian head tube.

Memiliki bintang balapan cobbles, Fabian Cancellara, Trek meraih sukses cukup besar dengan Domane. Baik di lintasan maupun dalam penjualan.

Belakangan, Domane ini semakin bergeser ke arah gravel, arena yang sekarang sedang memuncak popularitasnya di Amerika. Ada varian Domane yang bisa dipasangi ban hingga 35 mm.

 

Madone Jadi Sepeda Full Aero

Mulai 2015, Trek tidak lagi menjadikan Madone sebagai sepeda allrounder. Madone resmi menjadi sepeda yang full aerodinamis. Ironis, mengingat namanya diambil dari sebuah tanjakan.

Trek Madone ini mampu membuat kagum sejak kali pertama dirilis. Pertama, sepeda aero ini dilengkapi pula dengan ISO Speed decoupler. Membungkam segala anggapan bahwa sepeda aero cenderung keras dinaiki karena bentuk frame-nya yang tebal dan besar.

Selain itu, Trek Madone ini juga terbilang sangat ringan untuk sebuah sepeda aero. Lebih ringan dari pesaing-pesaing terdekatnya waktu itu.

Pada 2018, Madone ini berevolusi lagi jadi Madone SLR. Hanya tersedia dalam versi disc brake, sepeda ini bentuknya jadi lebih ekstrem aero. Suspensi ISO Speed-nya bisa disesuaikan kekerasannya, dengan menggeser slider yang terdapat pada bawah top tube.

Bagi yang ingin turun di arena triathlon, Madone SLR juga bisa dipasangi aerobar (tanduk) di atas stemnya. Membuat ini sepeda aero multifungsi.

 

Emonda untuk Taklukkan Tanjakan

Pada 2015, Trek juga merilis Emonda sebagai penakluk tanjakan. Bila Madone dibuat menjadi aero, Emonda diletakkan pada spektrum berlawanan, sebagai sepeda super ringan untuk melejit di tanjakan.

Waktu dirilis, saya memesan Emonda edisi SLR 10, alias paling ringan. Di klaim tak sampai 6 kg. Dengan wheelset dan sadel Tune. Pada akhirnya, saya justru memasanginya dengan wheelset dan komponen lain lebih berat. Karena versi orisinalnya terlalu ringan, rasanya jadi agak melayang saat diajak melaju kencang.

Kemudian muncul Emonda generasi kedua pada 2017. Sekali lagi, masih dibuat sangat ringan. Bentuk dasarnya masih sama, tapi ada beberapa sentuhan berbeda, seperti pada bentuk top tube. Tujuannya untuk membuat sepeda ini lebih nikmat dikendarai (ride quality).

Dan sekarang Emonda generasi ketiga (model 2021) sudah diluncurkan. Masih sangat ringan, masih dirancang sebagai raja tanjakan. Namun sekarang dibuat lebih aero, khususnya pada bentuk head tube yang lebih ramping dan down tube yang lebih pipih. Sepeda ini juga hanya tersedia versi disc brake.

Menurut Trek, secara aerodinamika, Emonda baru ini lebih mendekat ke Madone. Tepat di tengah-tengah antara Emonda lama dan Madone.

 

What's Next?

Tren sepeda selalu berubah. Bila sepuluh tahun lalu satu sepeda dipakai untuk segala rute, sekarang ada spesialisasinya. Ada yang aero, climber, atau endurance (medan berat). Rata-rata merek besar punya model sepeda untuk tiga varian itu. Plus sekarang ada kategori gravel.

Trek Emonda 2021 pada akhirnya berevolusi menjadi lebih allrounder. Bahkan Tim Trek-Segafredo sendiri menyatakan bahwa Emonda baru akan digunakan pada tujuh dari sepuluh lomba yang mereka ikuti.

Jangan-jangan, ke depan akan terjadi konvergensi antara "aero" dan "climber." Toh teknologi sudah memungkinkan untuk membuat sepeda aero sekaligus ringan. Merek besar lain Amerika kabarnya juga akan segera "melebur" sepeda tanjakan dan sepeda aeronya.

Sedangkan Domane, bukan tidak mungkin akan semakin bersenggolan dengan sepeda gravel Trek bernama Checkpoint. Apakah nantinya akan melebur juga? Entahlah, hanya waktu bisa menjawab.

Yang jelas, perkembangan dunia sepeda memang luar biasa. Bagaimana sebuah detail bisa berkembang menjadi sebuah kategori besar sendiri. Ini membuat penghobi terus asyik mengikuti perkembangannya, walau harus diakui membuat bingung banyak pemula! (azrul ananda)

Episode Baru Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray:

Audionya bisa juga didengarkan di Spotify


COMMENTS