Kolom Sehat: Toxic Cyclist
by - June 26, 2020
Kolom Sehat: Toxic Cyclist
by Johnny Ray - June 26, 2020

"Toxic" secara harfiah artinya racun. Dan yang saya maksud "toxic" di terjemahan sehari-hari adalah ketika seseorang yang bertindak atau berucap semena-mena, tidak supportive dan tidak sehat secara emosional. Pada dasarnya seseorang yang membuat kita tertekan dengan kehadiran dan kelakuannya.

Mem-bully verbal dalam dunia sepeda adalah hal yang "lumrah." Walau itu wajar, tetap ada beberapa hal yang perlu dihindari agar kita tidak menjadi toxic bagi orang lain atau komunitas kita.

Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam berinteraksi dengan teman-teman kita. Kelepasan satu atau dua kata yang mungkin menyakitkan orang lain akan menjadikan kita toxic bagi orang itu. Berikut ini beberapa hal yang bisa kita perhatikan, agar kita bisa saling menjaga tutur kata dan bahasa saat bertukar pesan. Khususnya secara elektronik, baik untuk pribadi maupun kelompok.

 

1. Mengenali Diri Sendiri dan Orang Lain

Salah satu tindakan preventif yang paling dasar adalah mengenali diri kita sendiri. Paham kita ini sebenarnya bagaimana, bagaimana mood kita bisa berubah, dan kapan kita bisa lepas kontrol. Apakah ketika sedang ada masalah, apakah ketika sedang lelah, atau ketika sedang bersemangat mengejar teman di depan. Sepertinya gampang, tapi ini mungkin sangat sulit.

Di sisi lain, kita juga perlu mengeri karakter masing-masing teman kita. Paling tidak ada yang tidak mereka sukai secara mendasar.

 

2. Memahami Keterbatasan

Fisik tiap orang beda. Ada yang kuat, ada yang lemah. Demikian juga telinga tiap pribadi beda. Ada yang tebal, ada yang tipis. Ada yang tahan gurauan yang "kelewatan," ada yang tidak tahan. Ada yang suka menertawakan kekurangan sendiri, ada yang tidak. Kita perlu mencari tahu batas-batas dari tiap individu/kelompok yang baru kita temui. Agar kita bisa lebih membaur dengan mereka.

 

3. Berpikir Positif

Dalam sebuah grup atau kelompok, mungkin ada beberapa yang kurang cocok menurut opini kita. Tapi belum tentu orangnya seperti yang kita duga.

Selama tindakan mereka masih bisa kita petik poin positifnya, maka kita tidak perlu gusar atas perilaku mereka. Contoh, ada pesepeda yang sukanya menambah kecepatan tanpa berembug dulu.

Ya bagaimana berembugnya? Kan sedang di jalan. Tiba-tiba ulah satu orang ini membuat grup terpancing dan secara bersama sama menambah kecepatan. Walau kadang menyebalkan, ada sisi positifnya. Karena kita bisa belajar jadi lebih cepat walau terpaksa.

 

4. Kepentingan Bersama

Dalam berkomunitas, kepentingan bersamalah yang perlu di utamakan. Bila komunitas itu punya pemimpin, maka pemimpin yang baik bisa membuat keputusan yang membahagiakan tiap anggotanya.

Contohnya soal memilih tempat makan. Nah, makan adalah hal yang sangat sederhana, menyenangkan dan dibutuhkan. Tetapi percaya atau tidak, pemilihan tempat makan bisa menjadi pemicu ribut. Perut lapar yang ingin segera diisi akan membuat sumbu kita lebih pendek. Ada sebagian yang ingin kenyang dengan Nasi Padang, ada yang ingin kenyang dengan mie goreng atau soto.

Mungkin dalam kasus ini, kalau kita ingin mie dan soto, ada baiknya kita mengalah dulu pada yang ingin makan Nasi Padang. Toh setelah itu bisa lanjut lagi makan mie dan soto...

Teman-teman, bersepeda sama seperti kebanyakan hobi. Kita perlu berteman, kita perlu orang lain. Mengesampingkan kepentingan pribadi perlu kita lakukan. Teman yang baik juga pasti paham keadaan kita, dan berusaha membuat kita nyaman untuk berkomunitas bersama.

Perbedaan itu wajar. Asal jangan sampai dibesar-besarkan sehingga membuat munculnya toxic dalam komunitas. Demikian dari saya, semoga hidup kita semua bebas dari toxic. (Johnny Ray)

Episode Baru Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray:

 

Audionya bisa juga didengarkan di Spotify


COMMENTS