Ewakobro, ”Rumah” Megah Pecinta Brompton Makassar
by MainSepeda - October 08, 2019

Dari mata turun ke hati. Dari pecinta Vespa ke Brompton. Kisah itu dialami Indra Natsir pada akhir 2014. Datang ke Jakarta untuk belanja aksesoris Vespa, dia tertarik pada sepeda Brompton. Peristiwa yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas Brompton di Makassar. 

Dengan koleksi yang lebih lengkap, Jakarta memang surga bagi pecinta Vespa. Untuk mencari aksesoris atau suku cadang. Bagi Indra yang juga menggemari Lego, datang ke ibu kota juga untuk berburu seri bongkar pasang yang tidak ada di Makassar. 

Namun, perjalanannya ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta pada akhir 2014 lalu memberi warna baru dalam hidupnya. Melewati satu gerai sepeda, matanya tertarik pada sepeda Brompton. Tepatnya, Brompton M6R berwarna kuning.

Dasar sudah jodoh, Indra pun membeli sepeda itu. Dia bawa ke Makassar.

Ketika itu, pemilik dan pengendara Brompton di Makassar sangat sedikit. Bahkan bisa disebut tidak ada. Karena itu, Indra harus nggowes sendiri dengan sepeda lipatnya.

Keinginan untuk memiliki teman bersepeda itulah yang membuat Indra memiliki niat untuk ”meracuni” teman-temannya. Terdekat adalah Iqbal Musa dan Hardiansyah. Keduanya adalah teman Indra di komunitas Vespa.

Tidak sia-sia, Iqbal dan Hardiansyah ikut-ikutan kepincut Brompton. Mereka pun bertiga memiliki Brompton. Gowes sering bersama.

“Pada Februari 2018 kami sepakat membentuk komunitas Brompton di Makassar,” kenang Indra kepada mainsepeda.com (7/10). ”Namanya Ewakobro. Pada saat itu anggotanya hanya tiga orang,” lanjutnya.

Namanya komunitas, kian banyak kian asyik. Indra, Iqbal, dan Hardiansyah lalu kompak memasyarakatkan Brompton di Makassar. Mereka intens gowes bertiga berkeliling Kota Daeng. Tiga founder Ewakobro itu juga sering nongol di kegiatan (CFD). Plus rutin mengikuti fun bike. Lambat laun, keberadaan mereka berhasil menarik perhatian orang.

Apalagi, ketiganya bukan orang yang pelit berbagi pengalaman. Ketika ada cyclist lain yang tertarik dengan Brompton, mereka dengan senang hati meminjamkan tunggangannya untuk dicoba. ”Brompton itu kelihatannya ringkih. Kecil. Akan tetapi, saat dilipat itu paling ringkas. Warnanya juga eye catching,” jelas Indra.

Pergerakan tiga founder Ewakobro itu juga merambah ke media sosial. Mereka secara rutin mengunggah aktivitas gowesnya di akun Instagram dan Facebook. ”Semakin banyak kami ”meracuni” orang, semakin sering kami gowes bareng, maka masyarakat Makassar akhirnya ingin punya Brompton juga,” kata Indra.

Kampanye Brompton yang dilakukan Indra, Iqbal, dan Hardiansyah berjalan sukses. Komunitas Ewakobro berkembang pesat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, anggotanya mencapai 78 cyclist. Sebenarnya jumlah member-nya lebih dari itu. Akan tetapi, hanya 78 cyclist inilah yang aktif berkegiatan di Ewakobro. Tidak berlebihan, Ewakobro kini sudah menjadi ”rumah” megah penggemar Brompton di Makassar. Pertumbuhan anggotanya begitu pesat.

Jumlah sepeda Brompton di Makassar pun meningkat. Telah ada ratusan sepeda. Indra mengatakan, mayoritas ada anggota Ewakobro yang memiliki lebih dari dua Brompton. Bahkan ada yang mengoleksi belasan Brompton.

”Sebagian orang memandang Brompton sebagai kendaraan mewah. Mahal. Sepeda kok seharga motor. Brompton katanya tidak bisa nanjak, dan ngebut. Kami patahkan anggapan itu dengan cara sosialisasi. Kadang kami menjadikannya sebagai demo. Kami meminta masyarakat untuk mencoba dulu. Kalau sudah mencoba, pasti akan paham bagaimana Brompton ini,” jabarnya.

Komunitas Ewakobro biasa berkumpul empat kali dalam sepekan. Saban Selasa, Rabu, Jumat, dan Minggu. Aktivitas gowes pada Selasa, dan Rabu biasa dilakukan pagi hari. Biasanya mereka akan berkeliling Kota Makassar. Jarak tempuhnya bervariasi. Mulai dari 20 kilometer hingga 40 kilometer. Sebelum pulang, mereka biasa sarapan bersama.

”Kalau Jumat biasanya wajib nite ride. Sebab Jumat kan seperti malam Minggu bagi orang kantoran. Jarak tempuhnya sekitar 20 kilometer,” ucapnya. Sedangkan untuk Minggu, pusat kegiatan anggota Ewakobro dilakukan di area CFD.

Ada kriteria khusus dalam pemilihan rute gowes. Selain tempat yang tak ramai kendaraan bermotor, mereka juga mencari tempat yang udaranya segar. Ia menambahkan, pemilihan rute untuk gowes disepakati bersama oleh anggota. Untuk menghindari kebosanan, mereka selalu melalui rute yang berbeda tiap kali mengaspal.

Salah satu spot favorit Ewakobro adalah Malino. Letaknya di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Jaraknya sekitar 90 kilometer dari Makassar. Malino adalah kawasan perbukitan asri yang dikelilingi hutan pinus. ”Malino ini seperti kawasan Puncak di Bogor. Kami biasa ke Malino rame-rame,” ungkapnya.

Berada di timur Indonesia tak membuat Ewakobro kesulitan untuk membeli sepeda, atau aksesorisnya. Ada dua cara yang biasa mereka lakukan. Pertama adalah berbelanja di Jakarta atau ke luar negeri. ”Jika ada member kami yang ke luar negeri, kami bisa menitipkan barang tertentu. Semacam jastip lah, jasa titip,” jelasnya.

Cara kedua adalah yang paling praktis, yakni berbelanja melalui situs jual beli online. Tak sekadar praktis, cara ini membuat mereka bisa berbelanja di seluruh penjuru Indonesia. Bahkan dunia. ”Kami biasanya berbelanja di ebay, atau situs jual beli lainnya. Sekarang semuanya serba mudah. Tak ada kata sulit,” akunya.

Walaupun belum genap berusia dua tahun, Ewakobro tergolong komunitas yang aktif mengikuti event Brompton, maupun event sepeda lipat di Indonesia. Mereka berprtisipasi di Jogja 150 kilometer, Jambore Sepeda Lipat Nasional (JAMSELINAS)#9 di Kota Palembang, hingga Brompton Day Out (BDO) 6 2019 di Bali, akhir pekan lalu.

Indra mengklaim jika Ewakobro adalah komunitas yang mengirimkan cyclist terbanyak di BDO 2019 di Bali. Jumlahnya 46 orang. ”Itu yang terdaftar secara resmi. Belum yang romli, alias rombongan liar,” tutup Indra.(mainsepeda)

 

 


COMMENTS