Gowes Wisata atau Kuliner di Jogja? JFB Siap Jadi Guide
by Yudy Hananta - June 15, 2019

Kota pelajar, Jogjakarta sering jadi destinasi wisata goweser folding bike yang tergabung dalam id-foldingbike dan Bikeberry Surabaya. Gara-gara itu, Haryanto Angga, Kahana Han, Herry Krismunanto, dan Ferry Kurniawan bersatu membuat Jogjafoldingbike (JFB) pada 25 Januari 2009. “Gunanya mewadahi para pengguna dan pecinta sepeda lipat di Jogja,” tukas Imam Syafii, salah satu anggota Jogjafoldingbike.

Sesuai namanya, Jogjafoldingbike fokus pada sepeda lipat dengan roda ukuran 14-22 inchi saja. Tidak ada batasaan usia untuk menjadi anggota JFB. Saat ini yang tercatat paling tua adalah mbah Giman, 64.

Kemampuan juga tidak dibatasi. Bahkan ada beberapa anggota JFB yang memiliki tubuh subur. Seperti Dika dan Eko memiliki berat badan lebih dari 100 kilogram. Keduanya menggunakan sepeda Fnhon Storm.

Tak hanya anggota laki-laki, ada juga perempuan. “Saat ini semakin banyak anggota perempuannya,” bilang Imam.

Untuk menjaga kekompakan, anggota JFB aktif gowes bareng sebulan sekali. Bisa eksplor tempat wisata atau gowes kuliner. Di luar jadwal komunitas, para anggota juga aktif gowes sendiri-sendiri. Biasanya di weekend.

Saat gowes bersama. JFB mempunyai beberapa alternatif lokasi titik kumpul disesuaikan dengan arah tujuan. Bisa kumpul di bundaran UGM, KM0, atau Museum Perjuangan.

“Selain gowes pagi, JFB juga sering mengadakan nite ride yang mengambil rute dalam kota,” tutur Imam. Apalagi dalam bulan Ramadhan, JFB mengadakan kegiatan rutin menggalang dana untuk baksos ke panti asuhan dan buka puasa bersama mereka.

Imam juga mengaku bahwa JFB sudah sering didaulat menjadi tuan rumah even sepeda lipat sejak tahun 2010. Karena Jogja nyaman untuk bersepeda. Setiap tahun, JFB mengadakan gowes rutin ulang tahun.

Terakhir, bulan Januari 2019 diadakan gowes ulang tahun ke-10 yang diikuti oleh 500 cyclist. Waktu itu, tujuannya ke Rajinem kopi dan thiwul Pakem Sleman. “Pendaftaran sistem online dan lainnya kita urus sendiri sebagai event organizer,” bilang Imam.

Sebelumnya, tahun 2018, JFB mengadakan gowes bersama ulang tahun JFB ke-9 dengan rute Geblek Pari Nanggulan Kulonprogo. “Pesertanya 300 cyclist waktu itu,” imbuhnya.

Selain itu, even nasional yang pernah digelar JFB antara lain Jogja Attact 2013, Jamselinas ke-4 2014, dan Jogja 150K (J150K). Tak hanya lokalan Jogja, anggota JFB aktif mengikuti even sepeda lipat di luar kota. Seperti LTDJ, Jamselinas yang tiap tahun berubah lokasinya. Juga even ulang tahun komunitas seli di kota lain.

Devi, salah satu anggota JFB pernah mendapatkan juara QOM dari even BoySeli tahun lalu. Bahkan, Dyah, ketua JFB saat ini juga pernah menjadi peserta Srikandi Inspirasi Bagi Negeri jilid 5 tahun 2015 yang bersepeda dari Bima ke Denpasar sejauh 725 km.

Lain cerita, Yuwana Widyastuti, salah satu anggota JFB sangat gembira dirinya bisa berolahraga bersama JFB. “Saya pernah diberhentikan oleh seorang ibu-ibu bersepeda motor saat saya sedang bersepeda. Saya kira ada apa, eh dia cuman mau mengatakan bahwa dirinya senang melihat saya bersepeda dan saya sehat dan mengingatkan saya agar tidak kendoro berolahraga. Wah, Alhamdulillah ada yang mengingatkan pentingnya olahraga,” bilang Yuwana.

Apalagi dengan bergabung di JFB, Yuwana merasa mendapatkan kesenangan selain badan sehat. “Teman-teman JFB lucu-lucu membuat rohani saya terhibur,” celoteh Yuwana lantas tertawa.

Imam beserta kawan-kawan JFB berpegang teguh bahwa dengan folding bike, mereka ingin membuat masyarakat lebih sehat. “Karena sehat itu mahal dan bersepeda bisa membuat badan jauh lebih sehat,” tutup Imam yang mengajak cyclist pengguna sepeda lipat untuk follow akun Instagram @jogjafoldingbike. (yudy hananta)

           

 


COMMENTS