Holy Week.

Pekan Suci.

Di arena cycling, itulah nama yang diberikan untuk masa antara Minggu, 7 April, hingga Minggu, 14 April, mendatang. Karena dalam dua hari Minggu itu, diselenggarakan dua balapan Monument terbesar.

Tour of Flanders digelar di Belgia, Minggu, 7 April.

Paris-Roubaix dilaksanakan di Prancis, Minggu, 14 April.

Rutenya seru. Jalanannya berbatu. Penontonnya minta ampun ramai dan heboh.

Biasanya, kalau bicara soal dua Monument ini, yang dibahas sebagai unggulan adalah nama-nama terbesar. Sebut saja Peter Sagan (Bora-Hansgrohe), pemenang Flanders 2017 dan Roubaix 2018. Atau Greg van Avermaet (CCC Team), pemenang Roubaix 2017.

Peter Sagan (Bora-Hansgrohe).

Atau, Pasukan Serigala Deceuninck-QuickStep.

Tahun lalu, tim ini menang lewat Niki Terpstra di Flanders. Tahun ini, Terpstra pindah tim ke Direct Energie. Meski demikian, Deceuninck-QuickStep tetap punya banyak serigala buas. Ada Philippe Gilbert (juara Flanders 2016). Kalau bukan, ada Yves Lampaert, Zdenek Stybar, atau Bob Jungels.

Seperti biasa, tim ini akan sulit dibendung karena punya begitu banyak senjata.

Philippe Gilbert (Deceuninck-QuickStep). 

Walau unggulan-unggulan “tradisional” itu tetap harus disoroti, ada dua nama muda yang digadang-gadang bisa menang tahun ini. Dua-duanya adalah jagoan cyclocross. Yaitu Wout van Aert (Jumbo-Visma) dan Mathieu van der Poel (Corendon-Circus).

Van Aert, 24, sudah memukau sejak tahun lalu. Meraih hasil baik di lomba-lomba Classics top, termasuk podium di Strade Bianche. Tahun ini dia pindah full time di WorldTour, dan sudah menakjubkan pula di awal 2019 ini.

Lagi-lagi dia naik podium di Strade Bianche, plus naik podium di E3 BinckBank Classic. Yang paling menakjubkan adalah saat Van Aert finis keenam di Milan-San Remo. Balapan 300 km yang seharusnya jadi arena para sprinter!

Wout van Aert (Jumbo-Visma).

Performa Van Aert di Milan-San Remo itu mengundang pujian dari Tom Boonen, legenda Classics Belgia. “Apa yang dia (Van Aert) lakukan di kilometer terakhir di Poggio (tanjakan penutup Milan-San Remo) adalah upaya luar biasa. Saya tidak menyangka dia mampu melakukan itu di awal karirnya ini,” ucap Boonen via Sporza.

Van der Poel, 23, malah lebih mengejutkan. Finis keempat di Gent-Wevelgem tahun ini. Dan Rabu lalu (3 April), jadi juara di Dwars door Vlaanderen, balapan pemanasan terakhir Tour of Flanders.

Van der Poel sendiri tak mau disebut sebagai unggulan. Dia bilang, Dwars door Vlaanderen tergolong balapan pendek, sekitar 180 km. Sedangkan Tour of Flanders sangat panjang, 267 km.

Mathieu van der Poel (Corendon-Circus).

Unggulan atau tidak, aksi kedua bintang cyclocross ini akan sangat diperhatikan. Khususnya di hellingen-hellingen (tanjakan-tanjakan curam berbatu) di Tour of Flanders.

Karena juara lomba ini hampir selalu ditentukan di hellingen. Bisa attack jarak jauh, di Muur van Geraardsbergen (Kapelmuur), 100 km dari finis. Atau di Patterberg, tidak jauh dari finis.

Catatan khusus, lomba seperti Tour of Flanders bisa juga memunculkan juara kejutan. Misalnya Alejandro Valverde, bintang Movistar sekaligus juara dunia 2018 yang baru kali pertama ini ikut Tour of Flanders.

Alejandro Valverde (Movistar).

Bintang muda lain yang bisa mengejutkan: Mads Pedersen, 23, dari Trek-Segafredo.

Intinya, jangan lewatkan kalau ada kesempatan nonton Tour of Flanders via televisi atau streaming. Khususnya 100 km terakhir. Balapan ini bisa eksplosif dan mendebarkan! Lihat saja, dan Anda akan memahami kenapa balapan ini mendapat status salah satu dari lima Monument! (azrul ananda)

Foto : Getty Images dan Bettini 


COMMENTS