Herbana Bromo KOM Challenge 2019
Dari Malaysia Tak Sabar Ikutan Bromo KOM
by - February 22, 2019

Gengsi even Herbana Bromo KOM Challenge 2019 kian tinggi. Selain tim balap sepeda level continental, PGN Road Cycling Team dan KFC Cycling Team yang sudah konfirmasi, banyak juga peserta luar negeri yang mengikuti even tahunan ini.

Tercatat, sekitar 50an cyclist non warga negara Indonesia sudah mendaftar di even yang digelar tanggal 16 Maret 2019. Mereka dari Australia, Kolombia, Austria, Denmark, Iran, Italia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Amerika Serikat.

Pekan lalu, saat 20 cyclist Indonesia sedang mengikuti training camp bersama Azrul Ananda School of Suffering (AA SoS) di Cameron Highlands, Malaysia, mereka sempat bertemu dengan Kamarul Irwan, yang akrab disapa Haji Saka.

Pertemuan tidak sengaja ini terjadi saat sedang menanjak menuju Boh Tea Centre di kawasan Brinchang. Haji Saka mengetahui bahwa mereka dari Indonesia dan sebagian adalah panitia Herbana Bromo KOM Challenge, maka dirinya kian antusias ngobrol.

Cyclist kelahiran 20 Juni 1978 ini sudah sering mengikuti even menanjak yang bergengsi besar di Asia. Sebut saja even Taiwan KOM dan Doi Inthanon di Thailand. Tetapi, Haji Saka mengaku belum pernah mengikuti even menanjak di Indonesia.      

“Ada teman yang sudah ikut Bromo KOM Challenge tahun lalu dan memuji bahwa ini even bergengsi. Dia sangat menyukai menanjak ke Wonokitri, Bromo itu. Membuat saya penasaran. Jadi saya daftar untuk tahun ini bersama delapan teman saya,” tuturnya semangat.

Untuk itu, Haji Saka terus berlatih menanjak di sekitar Malaysia. Seperti ke Cameron Highlands, Gua Musang di Kelantan, Koyan, Fraser Hill, dan Jerai di Kedah.

“Rata-rata tiap minggu saya melakukan long climb 500 km,” tutur pria kelahiran Pahang yang mengincar podium juara Bromo KOM di kelompok umur 40-44 tahun. Modalnya? Haji Saka sering meraih podium di even sepeda balap lokal Malaysia yang melombakan KOM.

“Spesialisasi saya adalah long climb dan long distance ride. Saya pernah melakukan bersepeda 500 km dalam 17 jam!” bangga cyclist yang menggunakan Stelbel SB03 saat latihan ini.

Yang paling membanggakan cyclist yang melahap 240 ribu km dalam setahun ini adalah pernah meraih podium pertama lomba Road to Taiwan KOM 2017 di kategori usia 40-44 yang digelar bulan Maret 2017.

Selain bersama delapan kawan, Haji Saka juga mengajak tiga orang teman lain yang tergolong masih newbie tapi ingin mencoba menanjak ke Wonokitri, Bromo. Mereka adalah Amiruddin, Muhammad Rasdi dan Ahmad Farhan. Semuanya berasal dari Penang, Malaysia.

Dari kiri : Haji Saka, Ahmad Farhan, Muhammad Rasdi, dan Amiruddin.

Even yang diselenggarakan hasil kerjasama Azrul Ananda School of Suffering (AA SoS), Strive Nutrition Products didukung oleh SUB jersey, OtakOtak even organiser, dan mainsepedacom akan menempuh jarak 100 km dari Surabaya hingga Wonokitri, Bromo.

Lebih dari 800 cyclist laki-perempuan, usia, dan merek sepeda akan start dari Lapangan Makodam Surabaya. “Dari sini seluruh cyclist akan gowes berpeloton dan full flat sejauh 60 km menuju pitstop pertama di GOR Untung Suropati Pasuruan.

Di sini, Pemkot Pasuruan akan menjamu seluruh cyclist karena even ini adalah bagian dari Hari Jadi kota Pasuruan ke-333,” jelas Azrul Ananda, penggagas even menanjak paling bergengsi ini.

Sekaligus di GOR, bertemu dengan lebih dari 200 cyclist peserta kelas Sepeda Lipat dan Brompton. Selepas GOR Untung Suropati, lebih dari 1.000 cyclist akan menjalani neutral zone secara berpeloton.

Hingga mencapai kilometer 15 dan seluruh peserta melewati gate yang dilengkapi sensor timing chip, maka balapan sejauh 25 km resmi dimulai.

Haji Saka (kanan) bersama Azrul Ananda.

“Cyclist yang terdaftar sebagai peserta competitive harus bisa secepatnya mencapai Wonokitri, Bromo setinggi 2.000 meter di atas permukaan laut. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah medali, fresh money, dan piagam. Khusus juara satu tiap kategori akan membawa pulang piala Pangdam V/Brawijaya,” bilang Yan Christanto, panitia Herbana Bromo KOM Challenge.

Untuk cyclist yang tergabung dalam peloton non-competitive tetap mendapatkan timing chip dan pengamanan. “Kami ingin memastikan semua peserta bisa melihat catatan waktu saat menanjak sejauh 25 km itu,” tutup Cipto. S. Kurniawan, bos Strive Nutrition Products yang juga pengusaha asal Pasuruan ini. (mainsepeda)

Foto : Dewo Pratomo           

 


COMMENTS