Ratjoen Cycling Club Malang
Dari Garasi Jadi Penyumbang Pajak
by - February 25, 2018
Ratjoen Cycling Club Malang
Dari Garasi Jadi Penyumbang Pajak
by MainSepeda - February 25, 2018

Alasan kesehatan. Itu yang jadi dasar awal terbentuknya Ratjoen Cycling Club (RCC) 5 tahun silam. Pudjianto Oentoro, Budhi Tedjo, Irawan Djakaria, Budi Utomo Handojo dan Ongkowijoyo Onggowarsito, berlima membeli sepeda dan memulai main sepeda ke Kebun Teh Wonosari Lawang.

“Usia kita makin bertambah, aktifitas makin padat, tingkat stress juga makin hebat. Gowes jadi solusi terbaik! Tubuh jadi sehat dan sekalian refreshing bersama,” buka Irawan.

Lima alumnus SMAK Kolese Santo Yusup ini aktif meracuni teman-teman lain agar hidup sehat dengan bersepeda. “Jadi ini racun positif ya!” kekeh Irawan.

Berjalannya waktu, semakin banyak alumnus yang gabung dengan RCC, akhirnya tidak lagi teman se-angkatan tetapi sudah lintas angkatan. “Pokoknya alumnus SMAK Kolese Santo Yusup dan senang bersepeda, ayok gabung aja,” imbuh Pudjianto yang biasa disapa Buketu.

Karena SMAK Kolese Santo Yusup ini lumayan terkenal dan jadi jujugan sekolah oleh siswa dari luar Malang, alhasil setelah mereka lulus akan kembali ke kotanya masing-masing. Tetapi sepedalah yang mempertemukan mereka kembali.

“Saya lulusan tahun 1989 dan asli Cepu jadi saya pulang. Nah begitu dengar ada alumni yang penggemar cycling jadilah saya ikut gabung dengan mereka sejak 2014,” cerita Rudy Rustanto yang akrab dipanggil Rudy Cepu.

Saat ini, komunitas yang gowes rutin hari Selasa dan Kamis ini mempunyai 168 member yang aktif. Mayoritas mereka berdomisili di Malang Raya dan Surabaya.

“Ada juga yang di Cepu, Banyuwangi dan Jakarta, serta tidak harus lulusan Santo Yusup lagi. Banyak juga dari sekolah lain, jadi dulu kita berantem khas anak SMA sekarang seduluran berkat sepeda,” tukas Buketu.

Kekeluargaan dan keakraban sangat kental di tubuh RCC. Salah satu perekatnya adalah garasi rumah Irawan Djakaria yang sudah diseting jadi basecamp. Suasana homey bak di rumah sendiri menambah bonding antar member.

Setengah dari garasi tersebut dilengkapi sofa, lemari pendingin yang berisi segala macam minuman dan meja tamu yang tak pernah bersih dari camilan. Tentunya, tembok sekitar area itu penuh digantungi sepeda koleksi milik Pakkom, panggilan mesra Irawan.

“Kita hanya memfasilitasi saja teman-teman RCC agar ada tempat kumpul, nongkrong sekaligus berdiskusi tentang sepeda maupun arah organisasi RCC,” bilang suami Tedy Herlina ini merendah.

Hasil dari bonding time antar member di ‘garasi Irawan’ adalah diresmikannya RCC sebagai komunitas sepeda pertama yang berbadan hukum sejak Januari 2018.

“RCC ini makin besar, nah untuk mewujudkan misi, visi serta membuat even pasti memerlukan dukungan dana dari member, donatur maupun sponsor. Dengan adanya badan hukum ini maka RCC jadi lebih meyakinkan di mata mereka,” jelas Irawan.

Dalam setahun, RCC melaunching jersey sebanyak dua kali. Awal tahun, mereka melaunching jersey tanda dimulainya tahun yang baru, lalu di pertengahan tahun RCC melaunching lagi jersey wajib yang dilengkapi dengan dukungan sponsor.

“Di sinilah pentingnya badan hukum komunitas ini, kita bisa mempunyai rekening bank atas nama RCC sehingga donatur dan sponsor makin percaya bahwa dana digunakan untuk kepentingan klub. Selain itu kita juga ikut membangun bangsa dengan membayar pajak. Minimal pajak kita untuk membangun jalan raya yang kita lewati saat bersepeda,” tutup Buketu. ud


COMMENTS