Pesona pantai selatan membius 82 cyclist peserta Trek Century Ride Indonesia 4 (TCRI 4) . Even yang diselenggarakan oleh PT. Wahana Inti Utama ini merupakan bentuk apresiasi dari importir Trek kepada pengguna merek sepeda asal Amerika ini.

“Ini juga jadi ajang gathering cyclist untuk bisa saling kenal dan menambah persaudaraan antar pengguna Trek,” buka Roy Wirjana, national sales manager PT. Wahana Inti Utama (WIU).

Guna memudahkan peserta, titik start dan finis berada di lokasi yang sama yaitu Hotel Harris Malang. Lahan yang luas menjadi pertimbangan utama dipilihnya hotel yang berada di jalan Ahmad Yani ini.

“Juga mengakomodasi peserta non Malang yang mencapai 40an orang agar tidak susah mencari hotel. Apalagi buat mereka yang bawa keluarga. Satu hotel untuk semua peserta juga memudahkan kordinasi dari Trek, RatjoenCC, dan peserta,” imbuh Frans Suryadi, salah satu petinggi WIU.

Hari Minggu, 27 Januari tepat jam 5.30 pagi rombongan diberangkatkan dari Hotel Harris. Perjalanan sejauh 40 km peserta dimanjakan dengan hawa yang sejuk. Lalu lintas yang belum padat. Dan jalanan yang cenderung menurun.

Tepat di kilometer 40, mulailah masuk ke tanjakan Pletes yang curam. “Ini sih menjebak, awalnya udah enak turunan eh langsung nanjak seperti ini,” tutur Yudho Febriyadi, pengguna Trek Emonda asal Surabaya.

Tak tanggung-tanggung, tanjakan Pletes itu sejauh kurang lebih 2 km dengan gradien sekitar 8-10 persen. “Ada beberapa titik yang mencapai 25 persen,” tutur Rudy Rustanto, road captain TCRI 4.

Selepas istirahat di pitstop Pletes, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Batu Bengkung di kilometer 85. “Kita ingin memanjakan peserta TCRI. Di pantai ini adalah tempat makan siang. Kita cari menu makanan yang sangat identik dengan pantai. Dipilih ikan dan lobster,” tutur Arielaksa Wibowo, ketua panitia TCRI 4 Malang. Minumnya? Degan yang fresh langsung diminum dari buahnya!

Puas dengan makan dan berfoto di pantai selatan yang ikonik ini, tepat jam 11 siang perjalanan dilanjutkan menuju pitstop 3 yaitu di kantor camat Bantur. Meskipun jarak hanya 20an km tapi rutenya sangat menantang.

“Nanjak dan rolling saat matahari tepat di atas kita itu sesuatu banget! Sempat tertulis di Garmin suhu udara 41 derajat celcius! Tapi harus aku selesaikan meskipun panas begini. Sudah jauh ke sini, saya tidak mau loading mobil,” tekad Suciono, pengguna Trek Madone 9 asal Sampit, Kalimantan. Dirinya sempat dua kali berhenti di warung hanya untuk membeli minuman Coca-Cola dingin.

Perjalanan berikutnya adalah menuju pitstop 4 di Stadion Kanjuruhan. “Tidak jauh hanya 26 kilometer,” bilang Pudjianto Oentoro, ketua Ratjoen Cycling Club yang terus memberi semangat peserta TCRI 4 ini.

Menuju pitstop 4 ini, peserta harus ekstra hati-hati karena melewati jalur turunan yang sangat curam. Namanya Jurang Klampok atau sering disebut juga Jurang Mayit. “Tim panitia siap berdiri di pinggir jalan demi mengingatkan seluruh peserta agar berhati-hati,” tukas Buketu, panggilan akrab Pudjianto.

Selepas Stadion Kanjuruhan, seluruh peserta ditahan agar konvoi rapi memasuki kota Malang yang disambut oleh hujan. Finis di Hotel Harris jam 4 sore. Lebih cepat dari jadwal, yang seharusnya jam 5 sore kembali ke hotel.

“Klop cuaca hari ini. Mulai dingin mendung di pagi, siang yang panas terik saat menaklukkan tanjakan-tanjakan dan sore yang hujan saat memasuki kota Malang,” bilang Firman Candra Perdana, salah satu peserta TCRI 4 asal Jakarta yang menggunakan Trek Madone 9 Project One warna ungu bunglon.

Sesampai di Hotel Harris, panitia dari RatjoenCC menyediakan makanan yang hangat yaitu soto dan es tape. “Baru kita putuskan Minggu pagi untuk sediakan makanan soto ini karena kita tahu peserta pasti capek dan ingin sesuatu yang hangat. Apalagi didukung cuaca hujan jadi makin seru makan sotonya,” tukas Danny Setiawan, wakil ketua panitia TCRI 4.

Seluruh peserta sangat puas dan happy dengan TCRI 4 ini. Rutenya mantap meskipun tidak bisa dikategorikan rute untuk pemula. Makan siang yang sangat heboh. Dan tim support dari RatjoenCC sangat total dalam memandu dan membantu seluruh cyclist.

“Acara ini just perfect! Tidak ada kurangnya. Makanan melimpah ruah, minuman tidak pernah kehabisan. Di tengah jalanpun ada tim feeding zone, di finispun masih diberi makan lagi. Hebat Trek Indonesia dan RatjoenCC,” tutur Haryanto Agus, pengguna Trek Emonda SLR6 dari Surabaya.

Haryanto sempat terpeleset pasir dan jatuh di turunan saat menuju pitstop Pletes. Celananya sobek dan mengalami beberapa luka baret di tangan dan paha.

Baca juga : Sepeda-sepeda Wow di Trek Century Ride

Baca juga : Perempuan tangguh penakluk Trek Century Ride

“Pelayanan dari panitia dan tim medis sangat sigap. Membuat saya pede menyelesaikan rute ini sampai tuntas. Waktu di perjalanan tidak terasa apa-apa. Tapi baru terasa nyeri setelah sampai hotel. Euforia bersepeda mengalahkan rasa sakitku,” tuturnya lalu tertawa puas dan gembira.

Tak hanya peserta yang puas, Derek Montgomery, salah satu petinggi Trek Amerika juga mengapresiasi peserta TCRI 4 juga kerja keras panitia lokal. “Semuanya on schedule dan sesuai rencana. Saya puas dengan penyelenggaraan TCRI 4 ini!” puji Derek.

Derek Montgomery (kanan) bersama Azrul Ananda.

“Kami panita lokal, RatjoenCC mengucapkan banyak terima kasih pada semua cyclist yang bersedia hadir dan bersepeda di Malang. Juga pada Trek Indonesia yang sudah memberi kepercayaan pada kami. Ini juga sebagai ujian kekompakan tim RatjoenCC dan lulus!” tutup Irawan Djakaria, penasihat RatjoenCC yang hobi fotografi ini. (Yudy Hananta)

Arielaksa Wibowo (kiri) dan Danny Setiawan (kanan).          

Dari kiri : Frans Suryadi (WIU), Nadia Soewandito dan Eric Otniliem (Brand Ambassador Trek), Firman Candra Perdana.  

 

Foto : Darius RatjoenCC dan Tim 


COMMENTS