Paul Seixas Juara Il Lombardia 2026, Jadi Pemenang Termuda dalam Sejarah

Paul Seixas mencatatkan namanya dalam sejarah balap sepeda dunia setelah menjuarai Il Lombardia 2026, Sabtu (10/10). Ia tampil impresif dengan melakukan serangan solo saat balapan menyisakan 18 kilometer.

Kemenangan ini terasa istimewa karena Seixas baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-20 dua pekan sebelumnya. Hasil tersebut sekaligus menjadikannya pemenang termuda sepanjang sejarah Il Lombardia.

Selain itu, anggota tim Decathlon CMA CGM ini menjadi pembalap putra termuda keempat yang berhasil menjuarai salah satu balapan Monument dalam sejarah balap sepeda.

Seixas tampil dengan perhitungan matang sepanjang perlombaan sejauh 239 kilometer. Tim Decathlon CMA CGM bekerja keras mengendalikan jalannya balapan sejak awal. Sementara sang pembalap memilih menjaga tenaga sebelum melancarkan serangan penentu di tanjakan Civiglio.

Akselerasi Seixas di tanjakan itu terbukti menjadi titik balik perlombaan. Sejumlah pesaing mampu mengikuti kecepatannya pada awal serangan, tetapi tidak bertahan lama. Setelah melepaskan diri dari kelompok favorit, Seixas melanjutkan perjalanan seorang diri hingga garis finis.

Enric Mas (Movistar) sang juara Vuelta a Espana 2026, berusaha mengejar dengan meninggalkan Giulio Ciccone (Lidl-Trek) pada fase akhir balapan. Namun, upaya itu tidak cukup untuk menghentikan laju Seixas yang semakin menjauh.

Mas akhirnya finis di posisi kedua dengan selisih 49 detik dari sang pemenang. Ciccone menyusul di urutan ketiga. Remco Evenepoel (Red Bull-Bora-Hansgrohe) harus puas di posisi keempat.

Seixas mengaku masih sulit memahami pencapaiannya setelah meraih kemenangan bersejarah di salah satu balapan Monument paling bergengsi.

“Ini gila. Saya rasa untuk saat ini saya belum benar-benar menyadarinya,” ujar Seixas usai finis.

Ia juga memberikan apresiasi kepada rekan-rekan setimnya yang dinilai berperan besar dalam membuka peluang kemenangan. Menurutnya, kerja keras tim memungkinkan dirinya memasuki fase penentuan dengan kondisi fisik yang sangat baik.

“Semua berjalan sempurna. Rekan-rekan setim melakukan pekerjaan yang luar biasa. Semua orang mengerahkan tenaga lebih besar daripada yang seharusnya mereka lakukan, dan saya memiliki kondisi kaki yang luar biasa,” katanya.

Seixas menjelaskan bahwa dirinya sudah merasakan peluang untuk menciptakan perbedaan ketika memasuki tanjakan Civiglio. Namun, ia menilai kecepatan kelompok saat awal pendakian belum cukup tinggi untuk menghasilkan seleksi yang menentukan.

Oleh karena itu, ia memutuskan meningkatkan kecepatan lebih awal dari perkiraan. Seixas kemudian mengatur tenaga secara cermat, memaksimalkan akselerasi pada bagian tanjakan yang lebih sulit, dan mempertahankan ritme hingga finis.

“Setelah itu, saya melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya seperti menjalani uji waktu, saya melawan diri sendiri. Ya, ini benar-benar gila,” tuturnya.

Sebelum serangan penentu Seixas, Il Lombardia 2026 berlangsung dalam persaingan panjang antara kelompok breakaway dan rombongan utama yang diisi para unggulan.

Sebanyak 14 pembalap sempat membentuk kelompok breakaway dan menghabiskan sebagian besar balapan di depan. Mereka sempat membangun keunggulan hingga tiga menit, sementara tim-tim besar mengatur tempo peloton untuk menjaga jarak tetap terkendali.

Persaingan semakin intens ketika balapan memasuki rangkaian tanjakan utama. Sejumlah pembalap dari kelompok breakaway mulai tertinggal, sedangkan rombongan unggulan meningkatkan kecepatan untuk memangkas selisih waktu.

Ben O'Connor dari Jayco AlUla dan Michael Leonard dari EF Education-EasyPost termasuk di antara pembalap yang bertahan cukup lama di depan. Namun, tekanan dari kelompok utama akhirnya membuat keunggulan mereka terus menyusut.

Memasuki 20 kilometer terakhir, Leonard menjadi pembalap terakhir dari kelompok pelarian yang masih bertahan di depan. Situasi berubah ketika Seixas melancarkan akselerasi di Civiglio. Leonard berhasil dikejar, sementara para unggulan mulai kesulitan mengikuti perubahan tempo.

Tom Pidcock dari Pinarello-Q36.5 dan Ciccone sempat mengikuti pergerakan Seixas. Akan tetapi, keduanya kemudian tertinggal ketika pembalap Prancis tersebut meningkatkan kecepatannya dan memilih melanjutkan balapan sendirian.

Evenepoel, yang menjadi salah satu favorit utama sebelum perlombaan, juga tidak mampu merespons serangan tersebut. Bersama Isaac del Toro dan sejumlah pembalap lain, ia akhirnya harus berjuang dari kelompok pengejar.

Setelah Seixas menjauh, Mas dan Ciccone menjadi dua pesaing yang berusaha menjaga peluang mengejar sang pemimpin balapan.

Keduanya tidak mampu bekerja sama secara efektif untuk memangkas jarak. Mas kemudian memutuskan melanjutkan pengejaran seorang diri, tetapi keunggulan Seixas semakin sulit dikejar ketika balapan mendekati finis.

Dengan sisa lima kilometer, Mas masih tertinggal hampir satu menit. Kondisi tersebut membuat Seixas dapat mempertahankan keunggulannya tanpa harus mengambil risiko berlebihan pada kilometer terakhir. (mainsepeda)


COMMENTS