Jonas Vingegaard menunjukkan kapasitasnya sebagai favorit juara Giro d’Italia 2026 setelah tampil dominan pada etape ketujuh yang finis di puncak Blockhaus, Jumat (15/5). Pembalap Visma-Lease a Bike itu melancarkan serangan pada 5,5 kilometer terakhir sebelum melaju sendirian hingga garis finis.
Kemenangan tersebut menjadi sinyal serius dalam perebutan gelar juara umum (GC). Meski belum merebut maglia rosa dari Afonso Eulalio (Bahrain Victorious), Vingegaard sukses memangkas waktu dari sejumlah rival utama.
Etape ketujuh menjadi salah satu momen penting Giro d’Italia musim ini. Selain berstatus etape terpanjang dengan jarak mencapai 244 kilometer, finis di tanjakan Blockhaus juga menjadi ujian besar pertama bagi para kandidat juara umum.
Felix Gall (Decathlon CMA CGM) tampil mengejutkan dengan finis hanya 13 detik di belakang Vingegaard. Sementara Giulio Pellizzari dan Jai Hindley dari Red Bull-Bora-hansgrohe, menyusul sekitar satu menit kemudian.
"Hari ini kami memang ingin memburu kemenangan etape. Rekan-rekan setim melakukan pekerjaan luar biasa dan saya senang bisa menyelesaikannya dengan hasil terbaik," ujar Vingegaard seusai balapan.
BACA JUGA: Bupati Pasuruan Sambangi Kantor Mainsepeda, Pastikan Dukungan Penuh untuk Bromo KOM 2026
Pembalap asal Denmark itu mengaku strategi serangan tidak ditentukan secara pasti sejak awal. Kondisi angin yang berubah-ubah membuat timnya menunggu momen paling tepat untuk melancarkan akselerasi.
"Kami membiarkan situasinya lebih terbuka untuk melihat kapan waktu terbaik menyerang. Angin cukup kuat dan beberapa kali menjadi headwind. Tanjakannya benar-benar berat," terang Vingegaard.
Vingegaard juga puas karena mampu memangkas selisih waktu dari pesaing utama dalam klasemen umum (GC). "Saya senang bisa mengambil kembali waktu dan memberi jarak kepada rival-rival saya. Ini hari yang sangat baik bagi kami," lanjutnya.
Sejak memasuki tanjakan Blockhaus, Visma-Lease a Bike sudah memperlihatkan ambisi besar untuk mengendalikan balapan. Tim asal Belanda itu bergantian memimpin peloton bersama Red Bull-Bora-hansgrohe demi menjaga tempo tinggi.
Setelah kelompok breakaway terakhir tertangkap, Sepp Kuss (Visma-Lease a Bike) sempat mengambil alih tempo sebelum Vingegaard melancarkan serangan penentu. Giulio Pellizzari sempat mencoba menempel, tetapi tak mampu bertahan lebih lama setelah beberapa akselerasi lanjutan dari Vingegaard.
BACA JUGA: Polda Jatim Kembali Jadi Titik Start, Bromo KOM 2026 Jadi Rangkaian HUT Ke-80 Bhayangkara
Sementara itu, Felix Gall tampil konsisten dengan menjaga ritme dari belakang, bahkan sempat memangkas beberapa detik di garis finis. Penampilan tersebut membuat pembalap Austria itu mulai disebut sebagai salah satu pesaing utama dalam perebutan gelar juara umum.
"Felix Gall jelas rival besar. Saya sudah mengetahui itu sebelum balapan dimulai. Dia pembalap yang sangat kuat dan harus diperhitungkan," aku Vingegaard.
Etape ketujuh memang dirancang menjadi panggung bagi para climber. Selain finis di Blockhaus yang memiliki panjang 13,6 kilometer dengan gradien rata-rata 8,4 persen, para pembalap juga harus melewati sejumlah tanjakan berat sepanjang paruh kedua lomba.
Balapan sempat diwarnai aksi breakaway yang diisi Jonathan Milan, Nikolas Zukowsky, Jardi Van Der Lee, Diego Pablo Sevilla, dan Tim Naberman. Milan sempat memenangi intermediate sprint di Venafro untuk menambah poin klasemen sprinter sebelum akhirnya tertinggal saat jalur mulai menanjak.
Memasuki kilometer-kilometer akhir, tempo balapan meningkat drastis. Davide Piganzoli membantu Visma-Lease a Bike mempercepat irama hingga sejumlah pembalap unggulan mulai kehilangan kontak dengan grup utama.
Pada 6,5 kilometer terakhir, situasi balapan berubah cepat. Breakaway terakhir tertangkap, pemegang maglia rosa Afonso Eulálio mulai tertinggal. Vingegaard langsung melancarkan serangan yang tak mampu direspons rival-rivalnya. (mainsepeda)