Menutup tahun 2018, Guntur Priambodo, ketua Banyuwangi Road Cycling Community (BRCC) bersama 9 cyclist lainnya berhasil menyelesaikan tantangan bersepeda menempuh jarak 500 km dalam waktu tidak sampai 24 jam!

Selain Guntur, cyclist BRCC yang ikut bersepeda dalam waktu sehari itu adalah Muhammad Taufik, Hariyadi, Abi Zain Fikri, Eka Muhammad Hadi, Faturahhman, Seger Mulyono, Mustofa, dan Eko Setiawan.

Dari sembilan cyclist tersebut, lima di antaranya merupakan atlet balap sepeda. Sedangkan, Guntur, Seger, dan Eka sekadar pehobi. Ada 21 kota termasuk Madiun dan Banyuwangi yang dilewati oleh Guntur bersama kawan-kawan ini.

Start dilakukan tepat pukul 00.00 dari Aston Madiun Hotel & Conference hari Sabtu tanggal 29 Desember. Guntur menargetkan harus bisa finis di depan kantor pemkab Banyuwangi sebelum berganti hari.

“Start seharusnya dari Ngawi. Tapi semua hotel di Ngawi penuh jadi pindah dari Madiun. Tapi tetap melewati Ngawi untuk memenuhi jarak tempuh,” tuturnya.

Sebenarnya, Guntur sudah pernah melakukan ultra suffering ini tahun 2017 lalu dengan rute Banyuwangi-Surabaya. “Jadi kali ini tujuannya untuk memperbaiki catatan waktu tahun lalu,” jelas wakil ketua harian II ISSI Jatim bidang pembinaan. Saat itu jarak tempuhnya 454 km dengan moving time 19 jam dan tujuh kali pitstop untuk makan dan beribadah.

Dengan kawalan patwal polisi, Guntur dan rombongan mengambil jalur Pantura. “Paling berat adalah saat melewati Pasuruan hingga Situbondo karena panas dan angin mulai jam sembilan pagi hingga tiga sore,” terangnya.

Selain itu, kemampuan sepuluh orang cyclist ini beragam. Agar tidak mengganggu jadwal, cyclist yang kelelahan atau sepeda yang mengalami kerusakan mekanis diloading lalu mengejar dengan mobil.

Tepat jam sepuluh malam hari Sabtu 29 Desember, rombongan memasuki kota Banyuwangi. Total dibutuhkan moving time (waktu gowes) 16 jam 31 menit untuk menyelesaikan Ultra Suffering Ride 500 km. "Total waktu yang dibutuhkan adalah 21 jam 34 menit itu termasuk enam kali pitstop untuk istirahat dan ibadah," tutur Guntur.

Enam cyclist yakni Guntur, Muhammad Taufik, Abi Zain Fikri, Eka Muhammad Hadi, Seger Mulyono, dan Faturahhman berhasil menyelesaikan tantangan 500 km ini tanpa loading sekalipun.

Begitu tiba di finis, Guntur dan kawan-kawan disambut meriah oleh pecinta sepeda Banyuwangi. “Ini perjalanan yang sangat melelahkan. Alhamdulillah kita tiba di finis sesuai jadwal dan bisa memperbaiki waktu dibandingkan tahun lalu dengan rute yang lebih panjang 50 km,” bangga Guntur.

Sebelum finis di Gedung Pemkab Banyuwangi, mereka mengelilingi kota Banyuwangi sebanyak dua kali untuk memastikan menempuh jarak 500 km.          

Guntur mengaku tidak mengalami kendala yang berarti. “Hanya kaki kiri saya agak nyeri saat memasuki kota Kraksaan, Pasuruan di kilometer 320. Sehingga ini mengurangi kecepatan rata-rata kami. Dari start hingga kilometer 200, kecepatan rata-rata 35-40 kmh. Lalu menurun menjadi 32-37 kmh saat kilometer 200-300. Lalu konstan di 28-35 kmh hingga finis,” ceritanya.

Disiplin tinggi, itulah resep Guntur dan kawan-kawan untuk sukses mencapai finis. “Kuncinya di suplai karbo dan elektrolit tidak boleh terlambat agar tubuh tidak bonking,” tukasnya.

Guntur saat mendapatkan perawatan mengurangi nyeri kaki kiri di Paiton (kilometer 350).

Juga disiplin pada masa persiapan. Jam sembilan malam sudah tidur lalu jam satu pagi bangun untuk sholat dan dilanjutkan indoor training pakai aplikasi Zwift program workout sekitar dua hingga tiga jam. Lalu berangkat kantor.

“Itu jadwal latihan hari biasa. Weekend biasanya kita long ride. Bisa mutar ke Genteng lalu naik pos 1 Ijen atau rute lainnya dengan jarak 180-200 km dan elevasi 1,500 - 1,800 meter.

Guntur mengungkapkan one day cycling yang dijalaninya ini memenuhi ekspektasi dan ada kemungkinan dimasukkan dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI) pada penyelenggaraan berikutnya.

’’Saya pikir apa yang kita capai tahun lalu masih menjadi rekor nasional. Dan, sekarang kami perbaiki waktu dan jarak tempuhnya. Dan sudah sesuai harapan, ada kemungkinan kita masukkan Muri tahun depan,’’ ungkapnya.

Guntur (kaus putih) saat melakukan persiapan di hotel Aston Madiun.

Dengan berhasil diselesaikannya acara ini, Guntur berharap bisa membangkitkan semangat bersepeda di Banyuwangi dan Jawa Timur. “Saya ingin buktikan bahwa kemauan kuat bisa membuat orang yang start dari nol bisa bersepeda bahkan melewati kemampuan atlet,” tutup pengguna sepeda Pinarello Dogma F8 dengan grupset Dura-Ace 9100 dan wheelset Enve. (mainsepeda)

Rute Ultra Suffering Ride BRCC One Day 500 Km

Start kota Madiun (Aston Madiun Hotel & Conference), Ngawi, Caruban, Nganjuk, Kertosono, Jombang, 

Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Gempol, Bangil, Pasuruan, 

Probolinggo, Paiton, Besuki, Situbondo, Asembagus, Baluran, Bajulmati, Wongsorejo, 

dan finis Banyuwangi (Depan gedung Pemkab Banyuwangi)

Foto : Radar Madiun, Radar Banyuwangi, dan dokumentasi

 

 


COMMENTS