Catatan Mengikuti Ulang Tahun Kupang Road Cycling (KRC)
Rindu Ikut Even, Tahun Depan Buat Even
by - November 29, 2018

Dapat undangan ulang tahun? Sering banget. Tapi undangan kali ini istimewa! Mesti terbang dua jam dari Surabaya dulu. Hahaha… Ya, saya dapat undangan memotret ulang tahun pertama komunitas Kupang Road Cycling (KRC) di Kupang, NTT. Maklum, saya kan, wartawan facebook! Hahaha…

Ini adalah perjalanan pertama saya ke Kupang demi memenuhi undangan Indra Rama, pentolan KRC. Setiba di Kupang, keesokan harinya, subuh saya dijemput di hotel menuju ke tempat start di halaman Bank Mandiri Kupang di Urip Sumoharjo.

Kehangatan tulus khas Indonesia Timur sudah terasa saat menjelang start. Kepala cabang Bank Mandiri, Carl Alexander Kandou ikut menyambut saya. Pria paruh baya ini bahkan ikut bersepeda.

Ehm… Di Kupang, wajah saya terkenal! Bangga dikit boleh, dong! Tentunya lewat foto-foto sepeda. Terlebih dengan caption usil yang kebanyakan mengejek atau membully. Hahaha…

Robby Gontai, salah satu anggota KRC menunjukan foto dan caption iseng saya melalui smart phone-nya. Foto itu adalah Bobby Tanjung yang sedang mengikuti even Bromo KOM Challenge 2018 lalu.

Waktu itu, saya memotret Bobby saat menoleh ke warung Bakso. Dan saya beri caption “Alhamdulillah sudah sampai pitstop”. Saya sudah kurang ajar, maaf, mengejudge kalau badan tambun itu identik doyan makan. Tapi benar juga sih, saat event ulang tahun KRC ini, kembali saya berhasil motret Bobby sedang menoleh warung gorengan Kenanga. Tapi sekarang, saya agak kendor, takut memberi caption yang membully. Sudah berlaku UU ITE, sih! Hahaha…

Carl Alexander Kandou, Kepala cabang Bank Mandiri. 

Robby Gontai menambahkan, walau baru seumur jagung. Member KRC mempunyai semangat yang tinggi. Mereka sudah mengikuti beberapa even besar di pulau Jawa. Bahkan menyebut Bromo KOM Challenge adalah even wajib. Dibuktikan, ia bersama beberapa temannya sudah mendaftar. Sambil berseloroh ia mengatakan itu adalah “hari raya pecinta sepeda”. Belum sah disebut cyclist jika belum bisa menaklukannya.

Setelah briefing dan berdoa, 75 cyclist mulai mengaspal keluar dari kantor Bank Mandiri. KRC mengundang juga komunitas MTB. Pasti niatnya meracuni road bike hahaha... Total jarak yang ditempuh 50 km. Rutenya dari Kota Kupang, melewati Tanah Merah, Oeaso, Oelamasi, dan finis di hutan Camplong, Kabupaten Kupang.

Sabtu pagi itu, banyak ditemui warga yang berjalan kaki menuju Gereja. Di beberapa ruas jalan terlihat hamparan warna merah bunga Sepe (Flamboyan) berguguran. Rontokannya bagaikan hamparan permadani merah yang indah.

Pitstop 1 berada di SPBU kawasan Tanah Merah. Jaraknya sekitar 15 km dari start. Melewati jalanan mulus karena memakai aspal yang berkualitas. Treknya rolling tipis-tipis. Jarang ditemui kendaraan. Hingga pitstop pertama ini persatuan masih terjaga. Kelompok road bike finish duluan, disusul kelompok MTB.

Karena saya tidak gowes dan jadi juru foto, maka saya ada waktu untuk ngobrol dengan penduduk lokal selagi menunggu peloton lewat. Saya bertemu dengan seorang bapak yang berjalan di pematang. Ia menunjukan tanah pertaniannya yang terletak di kaki perbukitan. Ramah. Diselingi senyum mengembang dengan bibir merah merona. Merah karena menginang bukan memakai lip teen seperti bibir anakku, Desi. Hahaha…

Tidak lama. Seorang bocah perempuan muncul di teras rumahnya. Berambut keriting menyapa dengan senyum mengembang. Ompong. Gigi susunya mulai banyak yang tanggal. Ia berdiri sambil menggendong kucingnya. Di samping rumahnya ada beberapa sapi dan kambing milik orang tuanya. Tertambat di pohon mencari sarapan rumput liar.

Banyak hiburan saat menunggu di pinggir jalan. Salah satunya, musik ajojing jedang-jedung mampu menggoyangkan kaki saya. Di Kupang, kendaraan umum dihias sangat cantik. Biar laris, harus dipasangi musik jedang-jedung yang bikin kuping jadi mendengung.

Pitstop dua bertempat di halaman kantor Bupati Kupang – Olemasi. Jam masih menunjukan pukul 8 pagi. Namun, matahari mulai menghangatkan tubuh. Kupang memang terkenal panas. Bidon harus dicampur paracetamol. Robby Gontai bercerita bahwa akhir Mei, Juni, Juli hingga awal Agustus, Kupang sejuk. Karena, angin laut membawa hawa dingin “impor” langsung dari Australia.

Di Pitstop dua, saya sempat kaget. Banyak anggota KRC berbicara dengan logat Suroboyoan. Jujur, saya sempat tidak percaya apakah saya benar – benar berada di Kupang, NTT. Atau, apakah saya sedang berada di Kupang Krajan dekat Kedungdoro, Surabaya itu. Hehehe…

Ternyata hampir anak muda Kupang setelah SMP atau setamat SMA melanjutkan pendidikan di Surabaya. Kota besar yang paling dekat. Pantas, kata-kata umpatannya sama with me. Hahaha...

Di Pitstop dua, saya bagi-bagikan Strive energy bar. Yang bisa support kebutuhan tubuh saat bersepeda. Satrio Moso Biru asal Jogjakarta merasakan kenyang setelah makan Strive. Dony Winarso yang mencoba rasa kopi mengatakan bahwa kopinya “nendang”.

Menuju pitstop 3 atau finis. Pemandangan hamparan tanah pertanian dengan pegunungan sirna, berubah menjadi tanjakan berkelok. Tanjakannya tinggi sekali (sekali saja yang tinggi). Tidak seperti di Bromo yang berkali-kali (tingginya). Persis seperti di Cameron Highlands, Malaysia. Nanjak tapi smooth.

Rombongan finis di hutan Camplong. Indah dan masih perawan. Terletak di jalan propinsi menuju ke perbatasan negara tetangga, Timor Leste. Sambil menunggu peleton datang, saya dihibur kicauan burung khas Indonesia Timur. Jalanan disini meliuk-liuk, ke kanan dan ke kiri cukup panjang. Inilah yang menghilangkan tanjakan ekstrim atau patah-patah. Sangat ramah untuk newbie (cyclist pemula) asal bermodal semangat tinggi.

Di Kupang, saya menangkap fenomena unik. Pengendara kendaraan di sini sangat sabar. Terutama terhadap pesepeda. Baik di jalanan rolling dan bahkan di tanjakan di hutan, mereka sabar untuk menyalip di saat yang tepat tidak mengganggu konsentrasi cyclist. Juga tidak terdengar klakson.

Di tempat finis, cyclist disuguhi nasi kuning, jagung bakar, pisang gepe dan daging sei. Semua dimasak khas Kupang. Jagung bakarnya diolesi mentega cair. Dimakan sambil dicocol sambal kemangi. Sementara pisang gepe adalah pisang bakar yang dipenyet lalu disiram gula merah dengan taburan kacang.

Nah, ini yang dashyat. Namanya daging sei, yaitu daging sapi (bisa babi) dibakar dengan daun khusus. Rasanya seperti steak. Pokoknya haucek sing cing ping alias enak buanget!

Saya sempat dibuat haru biru. Teman-teman KRC memberi saya kenang-kenangan tenun NTT dan alat musik Sasando. Tentu bagi saya yang pernah kuliah di Antropologi UGM, dibuat makjleb.

Terharu. Sungguh penghargaan yang tidak ternilai bagi saya yang hanya tukang foto keliling wartawan facebook. Saya benar-benar merasakan paduan sport dan kebudayaan NTT.

Sebagai gantinya, saya membawakan oleh-oleh SUB jersey untuk Indra Rama dan Budi Thamrin.    

Hal yang perlu dicatat. Momen ulang tahun ternyata memberi dampak besar olahraga bersepeda di Kupang ini. Indra menginformasikan bahwa selama ini hanya 8 hingga 12 orang yang aktif latihan. Tapi momen gowes ulang tahun KRC, hadir 40 anggota.

Menurut Indra lagi, biasanya teman-teman KRC hanya bersepeda di dalam kota dan jarak pendek. Ternyata, mereka mampu bersepeda hingga finis dan menjinakan tanjakan berbentuk S yang cukup terjal.

Rasa percaya diri mereka sudah muncul! Mereka ketagihan untuk bersepeda jarak jauh dan menikmati tanjakan. Bahkan di antara mereka sudah kasak kusuk ingin up grade beli sepeda baru.

Puas ngobrol dan foto-foto di hutan Camplong, hujan deras tumpah dari langit. Sebagian peserta turun ke Kupang naik sepeda. Saya dan pentolan KRC naik mobil. Selama perjalanan saya menangkap keinginan teman-teman KRC mempunyai even seperti kebanyakan di pulau Jawa.

Mereka bersemangat menunjukan foto-foto pantai Oetune. Terletak di kabupaten Timor Tengah Selatan. Pantainya masih perawan. Garis pantainya sangat lebar dengan hamparan pasir putih halus bak gurun pasir. Konon inilah pantai tercantik di pulau Timor.

Ke sana, perlu gowes sejauh 150 km dari kota Kupang. Ulang tahun depan, rencananya KRC akan mengundang pesepeda dari Jawa untuk bersepeda di Kupang. Finis bakar-bakar jagung, pisang dan daging sei di pantai sambil menikmati pergantian siang ke malam. Mereka juga akan menyiapkan mobil loading sepeda dan peserta untuk kembali ke Kupang. Hmm… jadi pingin ikut.

Insyaallah, saya siap membantu, minimal jadi tukang foto. Kesimpulannya walau hanya sejenak di sana, Kupang Layak Dipinang. Mari Pi Sini, Kupang Gaga (Mari Kesini, Kupang Cantik). *

Foto : Dewo Pratomo

 

 

 

 


COMMENTS