Kolom Sehat: MTB

| Penulis : 

Jumat ini kolom sehat saya akan membahas soal MTB. Anda pasti sudah tahu MTB kependekan dari mountain bike.

Bila Anda para pembaca kolom ini termasuk dalam cyclist "produk pandemi", maka saya kira Anda akan yakin bahwa semua penggowes awal mulanya langsung bersepeda menggunakan sepeda jalan raya atau road bike. Sebab sepeda lipat atau folding bike yang lebih dulu booming di awal pandemi umur hits-nya pendek. Cepat tergantikan oleh demam road bike sampai saat ini. Walau sekarang ini hanya sisa-sisa demamnya saja alias summer. Wkwkwk.

Tapi jika ditarik ke belakang lagi, saat booming sepeda sebelum 2000-an, sepeda di jalanan justru kebanyakan MTB. Saat itu begitu banyak dijumpai sepeda MTB jenis hardtail dengan shock breaker-nya hanya ada di garpu depan, sedangkan bagian belakangnya rigid.

Tapi, tak jarang juga berseliweran di jalanan adalah mountain bike dengan double suspension. Model ini biasanya dikayuh oleh orang yang sehat-sehat. Mereka ini pesepeda yang mengutamakan kenyamanan. Sebab bersepeda MTB double suspension seperti sedang ada di atas kasur pegas. Bisa mental-mentul di jalan raya, pantat nggak sakit.

Nah kalau sekarang ini kebanyakan penggowes memang alirannya jalan raya. Kalau dibagi dalam aliran, pesepeda jalan raya itu layaknya kereta api. Ada aliran Argo Anggrek (cepat), Whoosh (cepat sekali kaya Rabu Brutal), atau aliran ekonomi yang sering berhenti-berhenti. Mereka bersepeda dengan frame model double triangle.

Meskipun makin hari makin banyak yang seperti itu, tapi ada beberapa komunitas yang tetap rutin ber-MTB ria. Memang bersepeda MTB ini sensainya lain. Apalagi kalau digunakan di medan yang seharusnya, pasti menyenangkan. Bisa loncat-loncat. Adrenalin akan terpompa karena ketika berkendara harus fokus agar tidak tersangkut di pohon. Wkwkwk. Apalagi bila jalan retak dan tiba-tiba di depan ada lubang yang baru terlihat ketika dekat, seruuuuu.

Main MTB kalau bicara jarak biasanya tidak sejauh sepeda jalanan, 20- 40 km saja sudah lelah banget. Karena ya itu tadi, secara jalannya juga perlu konsentrasi tinggi.

Kalau Anda tidak suka menanjak ada aliran MTB yang bernama down hill. Ini aalah spesialisasinya turunan. Tapi bukan turunan yang enak seperti di jalan raya kebanyakan. Turunan MTB biasanya curamnya, seperti naik roller coaster. Dan juga biasanya di tengah jalan ada jembatan untuk jumping dan atraksi. Sama sekali bukan turunan yang saya inginkan.

Begitulah MTB. Sepeda ini menjadi salah satu variasi dengan populasinya juga besar. Sebab biasanya penggowes pemula memilih MTB karena beranggpan sepeda ini seperti mobil Jeep. Pasti bisa dipakai jalan halus dan jalan kasar, jadi tak perlu punya banyak sepeda.

Ya ini kan pikiran pemula, bila racunnya sudah meresap, nanti setiap genre pasti ada sepeda andalannya. Selamat ber-MTB ria dan tetap berhati-hati walau jalannya tidak di aspal. Sekian.(Johnny Ray)

Populer

Hiyaaaaa, Sudah Muncul Pinarello Dogma F12
Bentang Jawa 2025: Stephen Lane Juara! Pecah Rekor Finish Under 78 Jam
Kisah Mufti Faisal Hakim, Cyclist Penyintas Kanker Limfoma
Bawa Misi Kemanusiaan, Spartan Indonesia Goes To Paris-Brest-Paris 2023
Selamat Datang Cannondale SuperSix Evo Generasi Ketiga (Eksklusif dari Jerman)
Sepuluh Tips Agar Gowes Tetap Efektif di Musim Hujan
Dwars door Vlaanderen 2026: Filippo Ganna, Patah Kemudi, dan "Pencurian" di Detik Akhir
Paris-Nice 2026-Etape 3: INEOS Grenadiers Dominasi Balapan Team Time
Volta a Catalunya 2026-Etape 5: Vingegaard 'Terbang' di Coll de Pal
Volta a Catalunya 2026-Etape 6: Skenario Sempurna Jonas Vingegaard, Selangkah Lagi Juara Umum