Sempat Mau Nyerah Kepada Juwanto di Dholo, Deni Sapu Bersih East Java Trilogy

Deni Sudrajat (tiga dari kiri) saat di atas podium Kediri Dholo KOM Challenge (24/9) 

Mengendarai Wdnsdy Bike AJ1, Deni Sudrajat tak terbendung di East Java Trilogy 2023. Ia memenangi tiga seri, Antangin Bromo KOM Challenge, Banyuwangi Bluefire Ijen KOM Challenge, dan Kediri Dholo KOM Challenge. Gelar juara overall trilogi pun ia amankan dari pesaing terkuat, Juwanto.

Pada seri terakhir trilogi di Kediri, Deni menyebut persaingannya dengan Juwanto adalah yang paling ketat. Mereka berdua terus saling tempel sejak start KOM sampai delapan kilometer terakhir yang merupakan menu utama tanjakan di sana.

”Di Dholo, pace saya tidak sebagus di Bromo dan Ijen. Saya juga melihat tekad besar Juwanto untuk tidak kalah kali ini,” kata Deni. ”Akibatnya, kami berdua terus saling tempel sampai menjelang tanjakan Kelok 9,” imbuh cyclist asal Bandung itu.

Sebagai catatan, Juwanto selalu naik podium di trilogi tahun ini di Ijen dan Dholo finis kedua. Di Bromo memang finis ketiga, namun ia hanya terpaut 16 detik dari Gunawan Indro yang finis kedua. Di ketiga event itu pemenang selalu Deni.

”Saat di Dholo, saya sebenarnya sudah berkata dalam hati, silahkan Juwanto yang menang, saya finis kedua saja, toh tetap juara trilogi. Saya seperti itu karena Juwanto terlihat lebih cepat dari saya, ” ungkap Deni. ”Namun, menjelang Kelok 9 saya menoleh, ternyata Juwanto tertinggal jauh, saat itu saya push lagi dan akhirnya menang, meski gap dengan Juwanto tidak sejauh di Ijen dan Bromo,” papar cyclist 46 tahun itu.

Deni menuntaskan tantangan Dholo KOM dengan catatan waktu 1 jam 11 menit 7 detik. Juwanto finis kedua dengan catatan 1 jam 12 menit 46 detik. Gap mereka tidak sampai dua menit.

Deni menyebut, Wdnsdy Bike AJ1 berperan penting dalam perjuangannya memenangi Trilogi Jatim 2023. Sepeda standar UCI itu begitu enak dibuat menanjak.

Deni Sudrajat bersama dengan Usman Ali saat di awal perlombaan KOM menuju Kelok 9  (24/9)

”Saat ketemu di finis Dholo, saya sampai bertanya kepada Mas Azrul Ananda kenapa AJ1 begitu enak buat menanjak. Dia menjawab karena AJ1 memang didesain untuk dibuat nanjak,” papar Deni.

Deni menggunakan AJ1 ukuran 48 sejak 2022. Ia mendapatkan frame itu sebagai hadiah dalam rangkaian ulang tahun Salasa Kahiji, komunitas sepeda di Bandung yang anggotanya ratusan. Sejak saat itu, Wdnsdy Bike AJ1 selalu menemani Deni di event menanjak. Termasuk di Trilogi Jatim tahun ini.


Deni Sudrajat saat di Kelok 9 (24/9)

Untuk persiapan Dholo, Deni menyatakan banyak berlatih menggunakan bike trainer. Sehari ia berlatih satu jam, mengambil zona 4 atas atau zona lima bawah. ”Latihan ini cukup berat, heart rate sekitar 85-95 persen, harus latihan bertahap lebih dahulu untuk sampai pada level ini,” ungkap cyclist kelahiran 14 November 1977 itu.

Membandingkan tiga event trilogi, Deni menyebut paling berat adalah Bromo. Butuh endurance bagus karena tanjakan yang panjang sekali meski tidak setajam di Ijen dan Dholo.

”Tapi beda cyclist bisa beda penilaian, saya mungkin lebih cocok dengan tanjakan Dholo, namun terasa lebih berat bagi cyclist lain,” sebutnya.

Deni menyatakan ingin ikut lagi trilogi tahun depan. Ia pun siap bersaing lagi dengan Juwanto. Pun cyclist lain yang kemungkinan akan datang dengan kecepatan yang lebih bagus dibandingkan tahun ini. (*)


COMMENTS